Hidup Statis Bosan, Dinamis Takut Perubahan
Pergantian circle terus berjalan dan silih berganti, dari hari ke hari, suasana, permasalahan dan rintangan juga kian berganti.
Tersadar saat hal itu terjadi cenderung kita tidak mau dan bisa mengakui. Ingin selalu mempertahankan seseorang yang dulunya di circle satu untuk tetap dengannya di circle satu itu. Circle di mana orang-orang di dalamnya sangat dekat dan suaranya selalu layak kita dengarkan.
Kita takut kehilangannya seorang yang dulunya mengerti dan mau berjalan berjajar dan beriringan menerima segala kelebihan dan kekurangan, saling memberi tuntunan.
Tetapi saat negara api menyerang semua berubah tidak sepertif dulu lagi. Sama halnya dengan passion-passion yang ingin kita temui; dan mana bagian terburuk mana dari sikap kita yang harus diperbaiki. Timbul dan hilang itu wajar berarti ada ketidakcocokan antara fakoir luar dan jiwamu.
Saat sudah terjadi hal semacam itu, kita harus paham bahwasanya suatu keadaan yang berubah tidak bisa kita elak dan akan terus bergulir macam air terjun yang setiap saat mengalir airnya terus berganti sudah bukan air yang dulu.
Biarkan saja ia pergi, jika kita terus mengharapkannya berada di circle satu; hancur sudah pengharapan dan energi yang kita habiskan untuk mempertahankannya. Kita sudah banyak dikecewakan harapan dan manusia yang alergi dengan ekspektasi.
Wajar Terjadi Pergantian Circle
Tidak mengapa, masih layaknya seperti air terjun yang terus berisi dan berganti air lagi. Sama halnya akan ada orang baru, kesempatan, dan passion yang menggantikannya masuk di circle satumu. Terus berkembang bukan berarti terus menerus bergantung pada pengembangan potensi yang kamu miliki saat ini. Seperti rencana pengembaraanku di perkuliahan ini, semester 1-4 ajang coba-coba.
Di semester satu, saat jadi mahasiswa baru (maba), mengikuti semua UKM atau organisasi yang menarik minatku. Sampai pada titik baru sampai di bagian mau masuk diksar atau pelantikan tidak cocok, aku mundur duluan atau harus ada yang harus aku lepaskan. Jika dirasa tidak ada kecocokan, aku tinggalkan dengan konsekuensi yang berlaku.
Setelah dicoba semua hal baru, kita pasti akan menemukan passion di mana sebenarnya kita nyaman dan rileks saat menjalankannya. Semester 5 sampai ke depan barulah ingin fokus mengembangkan passion yang membuat nyaman itu saja. Meski juga tidak menutup ruang belajar untuk terus berkarya jika ada peluang lain yang terbuka.
Tidak Perlu Takut Menghadapi Perubahan
Kita bosan hidup statis, tapi enggan dengan kejutan dinamis. Untuk bisa membiasakan kehilangan di circle satu itu dan untuk mencari pengganti. Mencoba hal baru merupakan tawaran seru, masuk organisasi baru, ikut kerelawanan, perlombaan kejuaraan, daftar magang, atau cari lowongan perkerjaan lumayan buang tambah uang jajan.
Asal punya keberanian buat mulai dan menanggung risiko, inshaAllah aman. Tapi tentu itu belum cukup untuk bisa mengantarkan kita khusnul khotimah sampai akhir.
Ini bukan ajang mencari pelampiasan dan alasan untukmu menghindar. Aku tidak menyarankanmu untuk menghindar. Masa hidup sebentar dihabiskan untuk lakon seorang pejundang meski sebentar aku tidak rela, kecuali dipaksa keadaan, tetapi sebenarnya kita juga tidak boleh bertekuk lutut dengan keadaan. Ah sudahlah sesuai kemampuan masing masing saja, tidak perlu dipaksa.
Tips Mengambil Keputusan
Nah, untuk menghindari kesalahan fatal yang kemungkinan kita lakukan, entah itu menyerah dan trauma akan suatu hal; sehingga menjadi stigma ketertindasan dan tidak ingin mencobanya kembali. Coba pikirkan dulu pertanyaan di bawah ini dan coba tanyakan dalam diri.
Pertama, alasan apa yang mendorongmu mencoba.
Saat hal yang kita minati sudah kita temukan, pegang erat ia dan jangan lepaskan. Ini langkah awal kita untuk konsisten mempertahankannya sampai akhir. Lelah dan ingin menyerah itu wajar. Tapi sebisa mungkin untuk meminimalisir lakonmu menjadi seorang tidak amanah.
Kedua, benefit dan risiko apa yang kamu tuai.
Saat kita mengangkat tongkat tinggi-tingginya, pasti kedua sisi akan terangkat pula. Seperti itulah saat kita mengambil keputusan untuk memulai atau berhenti.
Ada hal baik dan buruk yang mengikuti dan menjadi pertimbangan untuk kita perhatikan. Timbang dulu ini memberatkan tidak untuk mu? Manfaatnya setara tidak dengan risiko yang akan kamu peroleh? Jika setara maka silahkan. Jika tidak silahkan pertimbangkan lagi.
Saat sudah merancang plus minusnya, dari awal kita tidak kaget jika di tengah perjalanan menemukan hal yang tidak sesuai karena kita sudah duga dari awal dan berusaha mengantisipasinya.
Ketiga, manfaat apa yang kamu beri.
Kita hidup di dunia untuk apa sih sebenarnya? Mampir ngombe (singgah untuk minum)kalau orang Jawa bilang. Manfaatkan minuman tidak hanya minum untukmu sendiri. Tapi kenapa kamu minum? Agar ada energi buatmu meskipun sedikit karena tidak makan setidaknya bisa membuat kerongkongamu basah untuk bisa kamu gunakan meski sebatas melengkungkan senyum dan melempar kabar.
Sedikit saja tidak masalah asal kau tebar kebermanfaatan dan kebahagiaan bagi orang sekitar. Meskipun di lain sisi bukan tugasmu membahagiakan setiap orang, hanya saja ini kau lakukan dengan kesenangan.
Keempat, passion mu mana yang akan terasah.
Hal baru tentu menuntut kita beradaptasi menyesuaikan orang dengan karakteristik yang tidak sama, suasana beda, dan tanggung jawabnya pun tidak seperti biasanya. Apalagi passion baru yang ingin kamu geluti. Pelajari dengan seksama hal baru mana yang ingin kamu kembangkan, jangan sampai di ruang kerja kamu kedandapan dan hal itu sangat tidak profesional.
Kelima, manajemen waktumu.
Masa 4.0 ini membutuhkan manusia yang dituntut bisa banyak hal. Meskipun awalnya saya setuju dengannya multitasking. Tapi alhasil sampai sini saya merasa keteteran dan fokus berantakan.
Tapi mungkin ada sedikit tips yaitu selesaikan dulu apa yang menjadi prioritas besarmu. Aku tidak memintamu untuk menuliskan di stickynote atau kertas blanko dan ditempel besar di tembok kamar. Meskipun itu membantu mengingat. Tapi tujuan kita tidak hanya sekedar ingat. Bagaimana cara kita melakukannya secara sadar. Patrikan prioritas dalam hati agar kita bisa spontan melakukan sendiri.
…
Tulisan ini bukan berarti ingin mengajak kalian untuk berlari kencang dengan ambisi yang menggebu-gebu karena aku yakin itu sangat melelahkan, bukan? Stop jangan terlalu keras dengan dirimu.
Terkadang saat melihat atau membaca updatean dari kawan ataupun postingan tips and trik justru kita sendiri yang selalu menekan terlalu keras diri sehingga kelelahanlah hati. Alhasil tidak produktif sama sekali.
Kamu hebat dengan pencapaian yang kamu capai saat ini, coba tulis hal baru apa yang telah kamu berani lewati dan hal apa yang masih kamu perjuangkan saat ini. Cintai dan hargai dirimu sendiri. Tidak perlu iri dengan jalan yang ditempuh masing-masing orang, karena bunga tidak mekar dalam waktu yang bersamaan.
Jalanmu mungkin lambat untuk saat ini karena terjal. Tolong jangan terlalu memaksakan, sampai melupakan keselamatan dirimu. Tidak perlu merasa berpacu dengan orang lain yang berada di tol dengan kecepatan penuh. Semua punya jalan masing masing. Mungkin itu yang kita alami saat ini, namun ke depan tidak ada yang tahu bukan?
Siapa yang menduga jalanmu sekarang ialah jalan alternatif tercepat atau jalan tol yang lebih panjang menanti. Nikmati jalanmu saat ini, karena pemandangan dan pengalaman yang kamu lewati kali ini tidak akan terulang. Lalu coba tanyakan tujuan kita apa sih? Tiba di tujuan dengan selamat bukan? Selamat dan semangat mencoba hal baru yang menyenangkan hatimu.
Love Your Self and Do You The Best!

Mahasiswi yang lebih suka merefleksi goresan hati melalui bait tinta ini.
Instagram @rfwulan__
