Penyimpangan Fitrah pada Manusia
Setiap manusia terlahir dalam keadaan fitrah atau suci. Fitrah merupakan benih yang apabila ditumbuhkan dengan baik melalui proses pendidikan yang ditanamkan oleh orang tuanya maka seorang anak akan tumbuh sesuai dengan fitrah yang benar. Sehingga anak dapat menemukan peta jalan menuju Allah. Karena sejatinya tujuan pendidikan manusia memiliki tujuan yang sama dengan tujuan penciptaan manusia yaitu beribadah kepada Allah. Melalui potensi fitrah inilah manusia akan mampu mengantisipasi semua problem kehidupan yang beragam.
Sebagaimana kita tahu betapa banyak kisah-kisah heroic muslim terdahulu yang telah mencatat tinta emas dalam peradaban Islam. Salah satunya seperti Imam Syafi’i. Di usia 9th beliau sudah mampu menyelesaikan hafalan Al-Quran. Kemudian pada usia 10th beliau telah menghafal isi kitab Al Muwatha’ karya Imam Malik yang berisi 1.720 hadis pilihan. Lalu, pada usia 15th beliau telah menduduki jabatan sebagai mufti (semacam hakim agung) pada kota Makkah. Bahkan saat beliau berumur di bawah 15th sudah dikenal mumpuni dalam bidang Bahasa dan sastra Arab. Beliau juga hebat dalam membuat syair serta jago qiraat.
Saat ini banyak anak-anak yang tersekolahkan dengan baik serta terfasilitasi dengan lengkap namun tidak banyak anak yang terdidik dengan baik. Masih banyak orang tua yang tidak paham bagaimana ia harus merawat fitrah seorang anak agar terus tumbuh dengan baik. Berapa banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya namun hanya sekedar berorientasikan pada perbaikan ekonomi. Padahal tujuan pendidikan yang seharusnya ialah bagaimana agar kita mampu melahirkan anak-anak yang memiliki peran sehingga dapat banyak menebar manfaat serta rahmat bagi semesta.
Allah Swt. telah menciptakan dunia ini dengan penuh keindahan. Namun, akibat kesalahpahaman terkait konsep manusia, konsep pendidikan, konsep pernikahan, serta konsep sosial-ekonomi menimbulkan kerusakan dari berbagai sisi. Sebagaimana dapat kita saksikan fenomena saat ini banyak sekali kita temukan pemuda yang begitu lambat dewasa. Mereka mengalami masa pembocahan yang lebih panjang dari yang seharusnya hal ini bermula karena kesalahan dari pendidikan orang tuanya.
Betapa banyak ayah yang masih tidak siap menjadi ayah, mereka hanya hebat dalam mencari uang namun lepas tangan terhadap pendidikan anak. Banyak ibu yang tidak siap bahkan tidak tahu bagaimana menjadi seorang ibu. Kita seolah-olah tersesat dan kehilangan peran individu. Kita bingung bagaimana menjadi seorang pribadi muslim yang seharusnya. Bagaimana menjadi seorang anak, istri, suami, ayah, ibu, yang baik dan benar bagi keluarga kita.
Betapa banyak anak yang terlihat santun di rumah namun berbeda sikap dan pribadinya ketika ia keluar rumah. Hal ini diakibatkan kesalehan mereka akibat dari tekanan dan tuntutan, namun bukan kesalehan yang berangkat dari panggilan jiwanya. Karena sejatinya kesalehan itu bukan berasal dari luar namun dari dalam diri kita. Jiwa yang tidak pernah ditumbuhkan keimanan dengan baik maka dapat memunculkan sikap kamuflase, manipulaitf, toxic dsb.
Betapa banyak manusia saat ini bukan kekurangan akan ilmu pengetahuan namun mereka keliru terhadap pemahaman ilmu. Bermula dari keliru dalam memahami ilmu maka keliru dalam bertindak, salah paham terhadap konsep pribadi, konsep peran ayah dan ibu, serta tidak memiliki cita-cita lain daripada kesenangan dan kebahagiaan akan dirinya sendiri. Seharusnya tujuan hidup sebagai manusia harus lebih besar dari hanya sekedar memenuhi kebutuhan dan kebahagiaan diri sendiri.
Manusia merupakan pusat peradaban. Kita mendapat tugas agar bisa membangun peradaban dengan peran-peran peradaban, mulai dari tingkat individual hingga peran komunitas di atasnya, termasuk peran terhadap keluarga, peran terhadap Masyarakat, peran terhadap bangsa dan seterusnya. Namun fenomena yang terjadi saat ini manusia sedang mengalami berbagai penyimpangan terhadap fitrahnya, sehingga menyebabkan berbagai kekacauan terjadi hal ini diakibatkan karena banyak manusia yang menolak hidayah, menolak ilmu, menolak untuk merefleksikan diri, menolak untuk mencari misi kehidupan. Misi hidup manusia harusnya berorientasi langit, bukan lagi hanya sekedar tentang diri sendiri, orientasinya harus jauh kedepan, bagaimana agar kita dapat menolong dan bermanfaat bagi ummat.
Terdapat beberapa prinsip dalam menumbuhkan fitrah manusia :
1. Meyakini, mensyukuri, serta mempelajari potensi yang dimiliki di dalam diri. Masing-masing manusia mempunyai potensi yang berbeda-beda, maka kenali dan dalami potensi yang ada pada diri kita.
2. Meyakini bahwa potensi yang kita miliki itu sudah Allah install sejak kita lahir bahkan dari alam Rahim dan apabila dididik dengan benar sesuai dengan fitrahnya maka dapat menjadi peran terbaik yang berakhlak mulia.
3. Senantiasa bersikap tenang dan optimis. Segala sesuatu akan indah pada waktunya, jangan tergesa-gesa dalam mendidik anak, yakinlah ia akan tumbuh dengan baik apabila orang tuanya tenang serta bersikap optimis.
4. Mendidik fitrah bukan hanya sekedar mengajarkan namun harus senantiasa menemani dan membangkitkan semangat fitrah tentunya bermula dari orang tua terlebih dahulu.
5. Memahami bahwa setiap manusia memiliki keunikannya tersendiri, setiap orang tua unik, serta setiap keluarga juga unik.
6. Senantiasa merelevankan potensi fitrah anak dengan alam sekitar, serta realitas sosial yang sedang terjadi namun harus senantiasa dipandu dengan kitabullah.
Sumber :
Putra, M. M., Andani, F., Fransiska, J., & Hairani, P. (2020). Menumbuhkan Fitrah Keimanan (Kajian Konsep Fitrah Based Education). Zuriah: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 1(1), 37-48.
Instagram: @Tasyasalsabila7.
