f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Fokky

Feminisme Religius

Sosok Dunia Semesta

Perempuan dan perannya dalam membangun peradaban manusia menjadi sangat penting. Bahwa peran perempuan acapkali berada pada posisi pendukung sebuah peradaban. Manusia yang tercipta tidaklah berada pada posisi tunggal, ia berada dalam posisi berpasangan.

Dalam bentuknya yang berpasangan ini, maka manusia baik laki-laki ataupun perempuan memiliki posisi yang seimbang, beriringan, berpasangan dalam membangun sebuah peradaban kehidupan dunia. Hafiz Ibrahim, seorang penyair menyatakan Al ummu madarsatul ula, Ibu adalah tempat pertama kali manusia mendapatkan pendidikan (Khatim, 2021). Ibu dalam relasi religius merupakan wujud utama dan pertama bagi anak Adam untuk mendapatkan pengetahuannya, dan bukan guru di sekolah. Relasi peran perempuan dalam ruang religi ini menempatkan sosok perempuan yaitu Ibu sebagai peletak dasar utama sebuah pendidikan.

***

Pendidikan awal ialah pendidikan dari keluarga. Sosok pertama yang menurunkan pengetahuan atas lingkungan adalah Ibu. Ibu menjadi sosok untuk menanamkan nilai-nilai mendasar bagi seorang anak manusia, dan yang terutama adalah bahwa Ibu menjadi sosok utama bagi seorang anak manusia pertama kali ia mengenal Tuhannya.

Konstruksi feminisme dalam ruang religius terjalin dalam bentuk untuk saling memanusiakan dan bukan mendominasi apalagi mengeksploitasi. Bahwa laki-laki terbangun dalam posisinya untuk melindungi dan menyayangi perempuan, dan masing pihak berposisi sebagai pakaian bagi pihak lainnya (QS.[2]:187).

Relasi pakaian adalah relasi saling menutupi keburukan dan saling memperindah pasangannya. Keduanya memiliki beban sejarah untuk menciptakan sekaligus membangun sebuah peradaban manusia. Keruntuhan peran utama seorang perempuan dalam lingkungan sosio-kulturalnya dapat menyebabkan awal mula keruntuhan peradaban.

Peran perempuan dalam dominasi budaya dunia yang cenderung sangat maskulin menjadikan ia seringkali berada sebagai wujud lemah, wujud ketidakberdayaan. Sesosok wujud yang berposisi sebagai pendukung dan bukan utama. Wujud yang dibentuk sekaligus yang dikehendaki oleh konstruksi budaya maskulin. Ia tunduk atau ditundukkan oleh peran maskulinitas laki-laki.

Baca Juga  Tak Ada yang Salah dengan Istilah Emak-emak

Manusia membangun sebuah dunia dengan meletakkan konsep tertentu atas kedudukan peran perempuan di dalamnya. Dunia yang telah terbangun atas sebuah konstruksi makna yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Maka dunia yang telah terkonsepkan itulah yang diwariskan melampau zaman.

Perempuan hakikatnya merupakan sumber utama dalam membangun dan membentuk manusia. Ia menjadi sosok dari pusat dunia semesta, ketika ia untuk pertama kali membentuk pemahaman sekaligus transfer pengetahuan bagi anak-anaknya. Ilmu pertama seorang anak manusia adalah ilmu yang ia dapat dari sang Ibu. Tentu Ibu ialah seorang perempuan yang memiliki peran yang sangat luhur untuk membentuk sebuah nilai keadaban manusia. Perempuan yang harus kita hormati. Bahkan hal tersebut tertuang dalam narasi-narasi tekstual Kitab Suci al-Qur’an (QS.[16]:97).

Relasi Piramida

Konsep keseimbangan dan kesederajatan dalam relasi religius antara laki-laki dan perempuan dapat kita letakkan dalam hubungan segitiga: Tuhan di puncak segitiga, laki-laki dan perempuan yang berada di posisi kaki segitiga. Allah mengungguli manusia dan segenap kosmos, untuk itu Dia berada di puncak segitiga.

Laki-laki dan perempuan sebagai kosmos berada di kaki segitiga yang sederajat untuk tunduk patuh pada kehendak-kehendak ilahiah sebagai kehendak tertinggi dalam relasi segitiga ini. Dalam posisi segitiga yang agak berbeda dengan menarik alam semesta sebagai makro kosmos, maka Tuhan berada di puncak piramida segitiga dan makrokosmos (alam semesta) dan manusia (mikrokosmos) berada di kaki piramida segitiga. 

Manusia dan alam semesta sebagai kosmos baik makro maupun mikro selalu berada pada posisi sejajar dalam kaki piramida. Makrokosmos dapat tergambar dalam wujud manusia sebagai mikrokosmos. Segala yang ada di alam semesta sebagai kreasi Tuhan menjadi sempurna yakni, ketika ia berada dalam tubuh manusia.

Baca Juga  Menjadi Ibu dalam Sebuah Rumah bagi Sesama

Manusia menjadi gambaran Tuhan, karena di dalam diri manusia mencerminkan nilai-nilai dan sifat-sifat Ketuhanan. Tetapi kehadiran makrokosmos dan mikrokosmos selalu berpasangan, demikian pula relasi pasangan antara laki-laki dan perempuan di bawah kaki segitiga. Tuhan yang berada dalam puncak piramida berdiri tunggal; yang membedakan diriNya dengan kosmos di dasar kaki segitiga.

Perempuan dan laki-laki yang berada di dasar segitiga piramida saling bekerjasama dan keduanya menyadari bahwa ia bukanlah sendiri seperti Tuhan dengan Ke-mahaesaanNya yang berada di puncak piramida sebagai wujud tunggal. Manusia yang berpasangan baik laki-laki dan perempuan berpasangan dalam sebuah keseimbangan.

Perempuan dalam struktur piramida ini selalu menghubungkan dirinya dengan pasangannya; yakni laki-laki, demikian pula sebaliknya. Perempuan membangun sebuah relasi kemanusiaan sekaligus ketuhanan, dan keduanya menyadari bahwa mereka adalah makhluk yang berpasangan bagai pakaian yang saling melengkapi.

Relasi Feminisme

Manusia selayaknya menyadari bahwa dirinya, baik-laki-atau perempuan adalah makhluk yang memiliki potensi yang seimbang. Bahwa manusia sebagai ciptaan memiliki kualifikasi berbeda dengan Sang Pencipta yang tak laki-laki dan tak pula perempuan karena Dia Maha Tunggal. Manusialah yang berpasangan dan memiliki nilai-nilai kodrati Illahiah dari Sang Pencipta.

Di dalam diri manusia tertanam budi illahi, bahwa dirinya sekalipun hanyalah makhluk tetapi tertanam sifat-sifat ketuhanan. Manusia yang berpasangan menunjukkan sejatinya bahwa ia bukan Tuhan Yang Maha Tunggal. Bahwa ia secara kodrati tetaplah menjadi manusia. Kesadaran atas posisinya sebagai manusia menjadikannya ia harus selalu bekerjasama dalam membangun nilai keadaban tanpa saling menundukkan. 

Inilah relasi feminisme religius yakni yang tidak saling menundukkan dan saling mendominasi di antara keduanya. Laki-laki dan perempuan bekerjasama dalam membangun dan menyemaikan nilai-nilai keadaban manusia. Domestifikasi peran perempuan juga tidak berlaku mutlak, bahwa ia juga memiliki peran sebagai Khadijah yang mampu mengendalikan dunia melalui perniagaannya. Bahwa perempuan juga mampu membangun sebuah peran sosio-ekonomi sebagai basis hidup, selain ia juga mampu menanam nilai-nilai melalui pendidikan kepada anak-anaknya.

Baca Juga  Kebebasan Berekspresi di Media Sosial Menurut HAM Islam

Proses membangun keadaban manusia oleh perempuan telah ada sejak ribuan tahun, dan narasi Qur’an mengabadikannya melalui sosok perempuan agung yaitu Maryam. Sebuah surah di dalam Qur’an bernama Maryam; yakni sebagai bentuk penghormatan Tuhan kepada sosok perempuan agung yang telah melahirkan Nabi Isa a.s. Tokoh sufi agung perempuan dalam wujud Rabiah al Adawiyah, Sya’wana al Ubullah, Rihana al Waliha, ataupun Aminah al-Romliyah mendeskripsikan bagaimana perempuan juga telah menjadi panutan-panutan religius dalam hubungan transcendental dengan Tuhannya (Effendi, 2021), dan hal ini bukan menjadi dominasi laki-laki semata

Bagikan
Post tags:
Comments
  • Syafrida

    Tk pak foky , mantap peringatan hari ibu

    Desember 21, 2021
Post a Comment