Memaknai Rezeki Tak Hanya Berupa Materi
Beberapa hari yang lalu seorang ibu datang ke bimbel untuk mendaftarkan anaknya mengikuti les baca tulis hitung. Si anak sebenarnya telah duduk di kelas 2, hanya saja kemampuan membaca dan berhitungnya masih jauh dari layak untuk duduk di kelas 2. Si ibu sudah berusaha membersamai anaknya ketika belajar, tetapi masih juga mengalami kesulitan untuk memperbaiki kemampuan baca tulisnya.
Sebenarnya, mengingat situasi sekolah yang masih PJJ dan si ibu juga masih harus bekerja, maka kondisi seperti ini adalah sangat wajar terjadi. Anak tidak bisa belajar langsung dengan gurunya, sedangkan si ibu juga memiliki keterbatasan waktu untuk menemaninya belajar
Dalam hal ini saya sangat bersyukur karena memiliki kesempatan untuk bisa membersamai anak-anak PJJ karena saya berada sepenuhnya di rumah. Rasa syukur itu bertambah ketika saya menyadari bahwa anak-anak saya termasuk yang mudah untuk memahami materi pelajaran. Ya, wajarlah jika sesekali harus tarik urat tetapi paling tidak saya memiliki banyak kesempatan berkreasi untuk mendapatkan ‘kemudahan’ saat membersamai anak-anak belajar di rumah.
*
Memiliki kesempatan waktu bisa lebih banyak bersama anak-anak, menikmati dan mengalami sendiri pertumbuhan mereka anugerah yang sangat berharga. Apalagi di situasi pandemic ini banyak cerita duka yang hadir di sekitar kita. Ada yang harus berjauhan dengan anak-anak karena terpaksa harus isolasi, ada yang tidak bisa kembali ke rumah karena pembatasan, bahkan ada juga yang benar-benar terpisah karena meninggal dunia.
Di bimbel ada kakak beradik, dua-duanya adalah siswa les yang tergolong mudah menerima materi. Mereka juga memiliki anugerah rezeki materi yang berkecukupan, karena orang tua mereka termasuk wiraswasta yang cukup berhasil. Akan tetapi, beberapa bulan yang lalu mereka terpaksa harus kehilangan kedua orang tuanya. Covid-19 telah merenggut nyawa kedua orang tua mereka dalam rentang waktu hanya 7 hari.
Sulit sekali membayangkan kondisi anak-anak yang masih dalam usia yang seharusnya penuh pengawasan dan bimbingan kedua orang tua, tetapi terpaksa harus bertumbuh tanpa hadirnya kedua orang tua mereka.
Tetapi malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih, kondisi tersebut sudah ketentuan untuk hidup mereka. Situasi tersebut tak bisa ditawar, yang bisa dilakukan hanya merelakan kondisi yang ada, dan berusaha kembali menjalani hidup seperti biasa meskipun dengan jalan yang berbeda.
*
Dalam situasi pandemi di mana segala sesuatu sangat terbatas, memiliki kesempatan untuk tetap hidup, tetap sehat, dan tetap bisa bersama dengan keluarga setiap hari adalah rezeki yang tak ternilai. Meskipun ada banyak keterbatasan yang harus kita alami, seperti terbatasnya ruang gerak, terbatasnya banyak akses kenormalan, terbatasnya jumlah dan variasi makanan; tetapi masih memiliki kesempatan untuk menikmati semua keterbatasan tersebut bersama orang-orang yang kita sayangi adalah anugerah berharga.
Kita tak pernah bisa memilih rezeki apa yang dianugerahkan untuk kita. Rezeki itu sesuai atau tidak sesuaikah dengan keinginan kita. Tak ada manusia yang bisa memilih jenis, waktu, dan takaran dari rezeki yang diterimanya. Tetapi Tuhan memahami apa yang sesuai dengan takaran kita. Boleh jadi sesuatu itu kita anggap buruk dan tidak sesuai dengan pemikiran kita, tetapi ternyata memberikan dampak untuk kebaikan kita.
Sebuah cerita tentang rezeki yang berbeda juga saya dengar dari curhatan seorang teman yang terpaksa harus isolasi mandiri beberapa waktu lalu. Terpapar virus Covid-19 menyebabkan dirinya dan keluarga terpaksa harus berdiam diri di rumah selama lebih dari dua minggu. Beruntung dia memiliki tetangga, saudara dan teman-teman yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama.
Selama lebih dari dua minggu isolasi mandiri, selalu saja ada kiriman makanan dari banyak pihak tanpa dimintanya. Banyak sekali yang mengirimkan sembako, buah, dan makanan siap santap untuk mendukung peningkatan imun tubuhnya sekeluarga. Bahkan ada beberapa teman dan keluarga dari luar kota juga mengirim paket multivitamin, obat herbal dan rempah-rempah.
Nyatanya rezeki memang tak hanya berupa materi, uang dan kelimpahan harta. Memiliki banyak saudara, teman, dan tetangga yang memiliki kepedulian saat kita membutuhkan dukungan juga termasuk rezeki yang tak ternilai harganya. Menyadari bahwa ada banyak rasa sayang di sekitar kita adalah suatu anugerah yang tak semua orang memilikinya.
*
Rangkaian cerita saya tentang banyaknya bentuk rezeki ini saya tutup dengan rasa syukur yang saya rasakan; atas rezeki yang berkelimpahan dari Tuhan dalam bentuk waktu dan kesempatan yang saya miliki untuk tetap bisa menulis, berbagi cerita, berbagi rasa dan berbagi pengalaman kepada banyak orang.
Tak banyak dari kita yang bisa memiliki kesempatan lebih untuk bisa sedikit meluangkan waktu menikmati kesenangannya dan mengekspresikan rasa syukurnya; karena begitu banyak tugas dan tanggungjawab yang harus kita selesaikan. Jadi, memiliki waktu untuk bisa bersyukur, memaknai hidup dan berbagi cerita hidup adalah salah rezeki yang sangat berharga buat saya.
Ibu rumah tangga dan pemilik Bimbel Pintar

Dewi
Inspiratif mbak
Pingback: Agar Anak Cerdas Finansial - Inspirasi Muslimah