Seandainya Kita Khusyuk dalam Salat
Sebagai seorang muslim, tentu sudah menjadi pengetahuan umum bagi kita bahwa salat adalah tiang agama. Aktivitas ritual ini menjadi asasi karena ia menjadi pembeda antara seorang muslim dengan umat beragama lainnya.
Karena urgensitas salat itulah, tidak heran jika seorang muslim selalu diingatkan dalam kesehariannya dengan azan yang berkumandang sebanyak lima kali dalam sehari.
Namun sayangnya, salat tidak mendapat perhatian yang penuh akhir-akhir ini. Pengertian salat itu sendiri hanya terbatas pada suatu ritual keagamaan yang dilakukan atau dimulai dengan takbir dan ditutup dengan salam, serta dengan melakukan beberapa rukun yang terdapat di dalamnya.
***
Lebih lagi, azan yang berkumandang secara rutin lima kali sehari pun masih kerap kita abaikan. Coba bayangkan, apabila azan sudah tidak berkumandang! Apakah kita akan tetap ingat shalat?
Padahal jika kita melihat kembali pada kehidupan salafus shalih di masa lampau, mereka sangat memperhatikan kualitas salatnya. Tidak jarang mereka meneteskan air matanya, mengadukan keluh kesahnya, dan menjadikan salat itu sendiri sebagai tempat untuk mengistirahatkan tubuhnya. Bahkan ada juga yang tetap tenang dalam salatnya ketika bahaya datang mengancam.
Khalifah Abu Bakkar As-Shiddiq misalnya, yang hendak mengkhatamkan Al Qur’an dalam dua rakaat salat malamnya. Namun, di pertengahan salat, ia menteskan air mata ketika bertemu dengan Surah At Taubah: 111. Muazin masyhur, Bilal bin Rabbah pun demikian. Ia tersedak tangisnya ketika mendirikan salat malam. Beliau begitu khusyuk salat ketika didapati oleh Rasulullah Saw kala itu.
Khalifah Umar bin Khattab juga tidak lupa. Beliau tetap menjaga keadaan salatnya meskipun keadaan luka parah. Beliau ditusuk oleh seorang musuh di bagian perut dan punggungnya. Kendati demikian, ia tetap mendirikan salat karena baginya salat adalah kewajiban yang tidak bisa ia tinggalkan, sekalipun dalam keadaan darurat.
***
Dari kualitas salat mereka (para sahabat nabi), hal yang patut kita apresiasi dan contoh yakni salat melahirkan sikap tenang dan optimis, tidak hanya kepada dirinya sendiri, melainkan kepada orang yang di sekitarnya juga. Orang yang salatnya baik, ia akan memiliki sifat tenang dalam menghadapi masalah.
Baginya, segala sesuatu sudah Allah tetapkan untuknya, maka tidak ada keresahan sedikit pun di dalam hatinya. Di saat yang bersamaan, orang yang khusyuk juga tidak akan mudah menyalahkan orang lain. Segala tutur kata, sikap, dan tingkah laku mereka sangat terjaga dari hal buruk.
Mereka tidak mudah untuk mengusik orang lain, apalagi menghinanya tanpa alasan. Tindak-tanduk kesehariannya penuh dengan pertimbangan dan dapat dipertanggung jawabkan sehingga apa yang keluar darinya tidak lain adalah hal yang bermanfaat.
Jika yang terjadi di masyarakat kita adalah akhlak yang telah penulis sebutkan tadi, tentu akan sangat minim kejadian biadab yang menjamur di tengah masyarakat sekarang ini. Tindakan amoral saat ini sudah para koruptor lakukan secara terang-terangan. Korupsi yang merajalela, murid yang tidak taat pada gurunya, perkelahian di sana-sini, dan masih banyak lagi. Semuanya itu mencerminkan nihilnya mental dan akhlak masyarakat saat ini, atau dalam bahasa Prof. Al Attas, loss of adab.
Contohnya korupsi dana bansos yang dilakukan secara sistematis oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Perilaku biadab itu naasnya dilakukan oleh orang-orang “berada” dan hukuman yang mereka dapat pun tidak sebanding dengan apa yang mereka lakukan.
***
Ada juga tindakan murid yang tidak pantas terhadap gurunya. Seperti yang beberapa media kabarkan, terdapat seorang murid yang tega berkata kasar akibat tidak terima gurunya ingatkan untuk tidak merokok.
Perkelahian antar masyarakat juga mengundang atensi yang cukup besar. Karena masalah sepele, dua kelompok masyarakat di Jakarta terlibat tawuran yang menyebabkan kemacetan dan ketegangan penduduk di lokasi sekitar.
Seyogyanya, sebagai negara mayoritas muslim, Indonesia tidak menghadapi masalah amoral yang pelik seperti yang penulis sebutkan tadi. Masyarakat muslim yang mendirikan salat itu sebetulnya sudah menjalankan “penawar” tindakan-tindakan yang semena-mena itu.
Salat seperti yang termaktub dalam Al Qur’an, memiliki fungsi yang sangat esensial yaitu untuk melindungi pelakunya dari perbuatan yang keji dan mungkar. Artinya, jika salat itu belum memberikan dampak yang positif bagi individu seseorang, maka pasti ada yang bermasalah dengan salatnya. Sehingga fungsi esensial dari salat tadi belum tercermin pada perilaku yang terpuji lagi beradab.
***
Jika kita kaitkan dengan kekhusyukan salat tadi, ada keterkaitan yang perlu kita cermati dengan saksama. Seseorang yang shalatnya benar—khusyuk—akan mendapat ketenangan dalam diri. Dengan ketenangan itu, ia akan berhati-hati dalam bersikap, anggota tubuhnya pun akan ikut khusyuk.
Tidak hanya itu, ia akan melahirkan sesuatu yang baik karena salat selain gerak-gerik rukun yang ia lakukan, terdapat aktifitas batin yang melatih hati agar lebih lembut. Artinya, untuk memperbaiki aktifitas zahir tadi, kita harus memperbaiki kondisi hati.
Jika baik hati seseorang maka akan baik pula apa yang ia lahirkan. Sebaliknya, jika hati itu kotor, maka akan buruk pula yang ia cerminkan. Dan untuk memperbaiki hati, yang nantinya akan berimplikasi kepada tindakan yang zahir, salah satunya adalah dengan cara meningkatkan kualitas salat. Dan tingginya kualitas salat dapat kita ukur salah satunya dengan perilaku baik yang terlahir dari setiap tingkah laku seseorang yaitu yang berupa akhlakul karimah. Wallahu A’lam bissowab.[]
Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, UNIDA Gontor
