f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kekasih

Baca Tulisan Ini jika Kamu Sedang Memiliki Kekasih

Lebaran tahun ini, saya mendapatkan banyak sekali undangan pernikahan. Bahkan dalam seminggu, ada 2 undangan yang hanya berselang satu-dua hari saja. Beberapa undangan tersebut di antaranya adalah teman seangkatan yang masih berusia sangat muda. Ada yang baru lulus S1 langsung menikah, dan ada pula yang masih berada di bangku kuliah. Mungkin karena tahun lalu ada yang menunda pernikahannya sebab sedang maraknya Covid-19.

Pernah suatu ketika, di tengah-tengah perjalanan menuju lokasi manten, saya dan teman-teman seperjuangan jomblo saling bertukar ilmu cinta. Meski sebenarnya cinta itu tidak ada teorinya. Tetapi pengalaman bisa menjadi teori dasar.

Orang bijak pernah berkata, “Pengalaman adalah guru terbaik hidup”. Dari pengalaman orang lain pun, ada yang bisa dipelajari. Maka, pengalaman-pengalaman tersebut bisa menjadi teori yang apik dalam menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan percintaan.

Salah seorang teman membuka diskusi cinta. Ia dengan cerdik mengambil ibrah dari Kitab Ushul Fikih,“Sesuatu yang meyakinkan tidak dapat dihilangkan dengan sesuatu yang mengandung keraguan.” Kaidah fikih ini ternyata bisa dipakai untuk para kaum bucin yang baru pacaran, atau sudah lama pacaran, siapa saja. Bahkan, kaidah ini bisa membuat sepasang kekasih putus. Sebaliknya, dengan berpedoman pada kaidah ini, sepasang kekasih bias awet melintasi zaman, bertahan dengan segala ujian.

***

Keyakinan adalah perkara hati, sedangkan ragu itu timbul karena berbagai pikiran. Sejak zaman dahulu kala pun, cinta adalah urusan hati, bukan pikiran. Sujiwo Tedjo sampai berkata, “Kalau suatu hari bapak nanya, ‘mengapa kamu cinta?’, dan dia bisa jawab, berarti itu bukan cinta. Itu kalkulasi. Cinta tidak ada karena-karena.” Sulit? Tidak. Tetapi rumit. Begitulah cinta, semua orang bisa menafsirkan cintanya masing-masing.

Baca Juga  Geliat Ekonomi Masyarakat Sektor UMKM di Tengah Pandemi Covid-19 (1)

Mencintai bukan tentang dia anak siapa, keturanan apa, pekerjaannya apa, dan seterusnya. Tetapi tentang kemantapan hati, yakin pada seseorang. Jika masih ada keraguan kepada pasangan, orang yang dicintai, berarti belum benar-benar cinta. Keraguan tersebut dapat mudah menjadikan cinta pudar. Bisa jadi ini adalah salah satu di antara sekian banyak pemutus hubungan, yakni keraguan.

Tidak ada cinta yang dalam perjalanannya hanya ada bahagia, pasti ada bertengkar dan sebagainya. Dengan kaidah di atas, sepasang kekasih bisa memilih bertahan, bisa memilih mengakhiri hubungan. Contoh kecil, perhatikan percakapan sepasang kekasih berikut,

“Sayang, semakin hari dan semakin kenal dekat dengan dirimu, aku semakin ragu bisa hidup bersamamu hingga tua. Hubungan ini sepertinya cukup sampai di sini, ya, Mas!” kata si perempuan.

“Intinya, kamu ingin meninggalkanku, bukan?” tanya si laki-laki

“Jujur, aku sangat mencintaimu. Tetapi orang tua kita pun tidak merestui hubungan ini. Aku yakin bahwa orang tua paham dan tahu yang terbaik untuk anaknya. Dan kita diajari untuk tidak boleh melawan orang tua. Toh, gimana, ya, Mas? Hemm… itu keyakinan terbaik untuk masa depan kita..”

Lalu, teman yang lain ikut menyerang dengan pengalamannya. Ia mengutip Al-Qur’an, yang intinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

***

Cinta juga butuh usaha, meskipun Allah sudah menetapkan jodoh kita masing-masing. Hidup itu dinamis, bergerak. Balasan itu sesuai degan usahanya. Kadang sepasang kekasih saling cinta, pacaran bertahun-tahun, berjuang ketika LDR, itulah usaha.

Emha Ainun Najib, yang akrab disapa Cak Nun, berkata dalam sebuah obrolan, “Andaikan pun wetonnya memang tidak cocok menurut hitungan primbon Jawa, Anda bisa atasi. Kalau Anda langsung ke Allah kan bisa atasi. Saya sama bu Novia kan wetonnya saya kalah terus. Tapi kan urusan hidup saya kan bukan kalah menang, tetapi saya berbuat baik terus.”

Kadangkala, usaha sudah terus menerus dilakukan, tetapi jodoh tidak lekas datang. Memang begitu. Allah lebih tahu kapan dua hambanya saling bertemu, saling cinta. Sama halnya dalam bekerja, kita kadang perlu lebih keras berusaha agar mendapat hasil lebih. Jodoh pun juga rezeki, yang harus kita cari. Sebagaimana dawuh Quraish Shihab, bahwa jodoh jangan ditunggu, “Cari jodohmu dengan cara-cara yang dibenarkan Allah. Jodoh itu rezeki.”

Percakapan kami diakhiri oleh salah satu teman yang lucu. Dia memotong semua pembicaraan kami, sambil tertawa dia berkata, “Haha, usaha boleh tapi ingat, ya, usaha memang penting tapi bukan segala-galanya.” Lantas dia menukil kalimat dari Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam Kitab al-Hikam, “Tanda seseorang bergantung pada amal dan karyanya adalah bahwa dia akan cenderung pesimis, kurang harapan manakala dia mengalami kegagalan atau terpeleset.”

Baca Juga  Celengan Cinta

Dalil kitab al-Hikam di atas mengingatkan, bahwa kita butuh usaha, namun usaha bukan segalanya. Kenal dan bareng bahkan sudah taaruf tidak menjamin menikah. Yang sudah menikah saja masih bisa cerai. Di sini kita perlu sadar kembali, bahwa kita harus berusaha merawat hubungan. Mencari jodoh jika belum ketemu, meski takdir jodoh ada di tangan Tuhan.

Sebagai penutup, dari uraian singkat di atas, yang mesti kita ingat kembali adalah takdir jodoh memang di tangan Tuhan tetapi keputusan-Nya ada di tangan kita, para hamba-Nya.

Bagikan
Post a Comment