Feminisme, Apakah Indonesia Membutuhkannya ?
Terlahir menjadi seorang perempuan bukanlah suatu pilihan. Terlebih stigma yang muncul bertujuan untuk merendahkan wanita, seperti derajat wanita lebih rendah dari pria ataupun pria jauh lebih berharga dari wanita. Apakah kalian setuju dengan anggapan ini? Sebuah ketidakadilan yang selalu menjadi suatu permasalahan, khususnya di Indonesia.
Ada pula kasus diskriminasi terhadap perempuan terlebih bagi wanita karier di Indonesia. Pekerja wanita cenderung memiliki upah yang lebih rendah dari pria. Juga anggapan bahwa wanita kurang pantas untuk menjadi pemimpin sebuah perusahaan, karena perusahaan menganggap wanita tidak layak untuk mendapat tanggung jawab yang besar.
Menilik dari sebuah kasus yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu sebuah perusahaan produksi yang mempekerjakan perempuan dengan tidak mempertimbangkan hak mereka sebagai seorang perempuan. Bahkan, seorang wanita yang hamil tua harus bekerja secara maksimal, namun penerimaan upah tidak sebanding dengan yang mereka kerjakan.
Selain itu, kasus diskriminasi terhadap perempuan juga terjadi di lingkungan sosial. Sebagai contoh tuntutan seorang wanita untuk menjadi ibu rumah tangga, bukan sebagai wanita karier yang dapat menjadi pilihannya. Selain itu, tindak kekerasan dan pelecehan seksual juga merupakan bentuk diskriminasi yang dialami wanita.
Perempuan juga kerap mendapatkan perlakuan yang tidak pantas, seperti catcalling. Sejujurnya catcalling sangat mengganggu dan membuat risih perempuan. Dan juga, perempuan kerap dipaksa untuk memakai busana yang orang lain kehendaki. Padahal seorang perempuan berhak memakai busana apa yang mereka inginkan sehingga merasa nyaman.
Salah Kaprah Pemahaman Feminisme
Melihat kasus-kasus di atas, bukankah prinsip kesetaraan gender di Indonesia masih belum tertanam dengan baik? Seakan hak-hak dan kebebasan perempuan hilang dan direnggut oleh keadaan.
Jadi, apakah Indonesia membutuhkan feminisme? Sebelum menilik lebih jauh lagi, penting untuk mengetahui terlebih dahulu apa itu feminisme. Feminisme mudahnya memiliki arti kesetaraan, artinya walaupun seorang perempuan dan pria berbeda, namun mereka memiliki kesempatan yang sama.
Ada anggapan jika feminisme sendiri ialah suatu masalah, karena banyak pendapat bahwa gerakan feminisme berupaya untuk menjatuhkan laki-laki, padahal konsepnya bukan seperti itu. Feminisme sendiri cenderung untuk menuntut adanya kesetaraan antara pria dan perempuan. Suatu hak dan keadilan yang sepatutnya perempuan terima.
Pada dasarnya, perempuan juga seorang manusia, sama seperti pria. Jadi, mereka berhak mendapatkan perlakuan yang adil setara dengan laki-laki. Bukan malah menempatkan posisi perempuan di bawah pria. Kesempatan bagi perempuan untuk menentukan hidupnya dan memiliki kebebasan terhadap dirinya.
Tokoh Pejuang Kesetaraan di Inodensia
Sebenarnya, sebuah perjuangan terhadap hak wanita di Indonesia sudah ada sejak zaman dahulu seperti yang R.A. Kartini lakukan. Siapa sih yang tidak kenal dengan R.A. Kartini? R.A. Kartini merupakan pahlawan Indonesia yang memperjuangkan hak perempuan yang kita mengenalnya dengan istilah emansipasi wanita.
Pada zaman dulu, wanita tidak memiliki peran sosial di lingkungan masyarakat. Wanita tidak mendapatkan akses untuk menimba ilmu, bekerja, apalagi menduduki kursi politik. Hanya laki-laki saja yang boleh untuk bekerja. Seorang perempuan hanya bertugas menjadi seorang ibu rumah tangga.
Namun, dengan berani R.A. Kartini menentang itu semua. Beliau sangat gigih dalam memperjuangkan hak wanita. Bagi beliau, seorang wanita berhak mendapatkan perlakuan yang sama seperti seorang pria. Sehingga, apa yang R.A. Kartini lakukan melalui gerakan emansipasi wanita, menjadikan wanita saat itu mendapat haknya.
Jadi, tentu saja Indonesia membutuhkan feminisme. Karena pada zaman dulu saja, terdapat pahlawan yang memperjuangkan hak seorang perempuan. Sayang beribu sayang, kita malah melepaskannya begitu saja. Kita harus tetap untuk menjunjung tinggi prinsip kesetaraan gender di Indonesia, apalagi pada era modern saat ini.
Manfaat Gerakan Feminisme
Namun, apa saja sebenarnya manfaat atau dampak positif dari feminisme ini sendiri? Khususnya pada era modern sekarang ini. Di sini saya akan mencoba untuk memaparkannya sedikit.
- Memungkinkan bagi perempuan untuk berkarir dalam berbagai bidang
Dengan adanya feminisme, perempuan memiliki kesempatan untuk dapat berkarir sesuai pilihan mereka masing-masing. Mereka berhak untuk memilih pekerjaan yang sesuai bakat mereka. Bahkan pekerjaan yang biasa identik dengan pria, sekarang perempuan sudah bisa melakukannya. Contohnya adalah pilot.
2. Menekan jumlah angka putus sekolah
Gerakan feminisme juga berupaya untuk menekan angka putus sekolah, khususnya bagi perempuan. Seorang perempuan berhak untuk mengenyam pendidikan seperti apa yang laki-laki dapatkan.
3. Mengurangi kasus pernikahan dini
Kasus pernikahan dini di Indonesia sangat tinggi, apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Sangat disayangkan apabila orang tua memaksa anaknya untuk menikah. Seharusnya pada usia yang produktif, mereka dapat aktif dan fokus untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri mereka.
Maka, harapannya adalah seorang anak mendapatkan haknya mereka sebagai seorang anak. Contohnya dengan mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Mereka dapat mengasah kemampuan yang mereka punya sehingga kelak dapat bermanfaat bagi masa depannya.
****
Jadi, intinya bahwa Indonesia memerlukan feminisme. Karena tujuan dari gerakan ini adalah adanya kesetaraan gender dan seorang perempuan mendapat hak dan kebebasan sebagaimana mestinya.
Lalu, apa saja langkah yang bisa untuk mendukung dari gerakan feminisme ini? Yang pastinya kita tidak boleh membeda-bedakan antara perempuan dan pria, karena mereka sama-sama seorang manusia. Wanita dan pria berhak mendapat perlakuan yang sama meskipun fisik mereka berbeda.
Kita bisa membantu perempuan lain yang sedang mengalami permasalahan terkait ketidakadilan. Kita harus ikut serta untuk memperjuangkan hak yang harus dia dapatkan. Dan langkah yang harus kita ambil yang paling penting adalah untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Kita mampu menjadi seorang wanita yang mandiri dan hebat di masa yang akan datang.
Mahasiswa Universitas Sebelas Maret
