f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perfeksionis

Jodoh; Antara Sang Perfeksionis dan Standarisasinya dalam Hubungan

“Jika ia menginginkan sebuah perfeksionis, selalu menuntut kesempurnaanmu sehingga tidak menghargai hadirmu maka ajarkan dia dengan ketidakhadiranmu”

Lebih tepatnya itulah ungkapan yang relevan dalam menjelaskan dua insan yang sedang dalam problematika menggapai suatu hubungan. Antara sang perfeksionis dan standarisasinya dalam mematok suatu hubungan merupakan dualitas yang menjengkelkan.

Berbicara masalah jodoh, memang ini merupakan topik yang kaum remaja gemari. Apa lagi, ketika sudah berumur yang menuntut untuk menjalin kehidupan lebih lanjut.  Kita bekerja dan berusaha, katanya untuk hidup. Namun kenyataannya kita tidak hanya hidup, melainkan menjalin hubungan hingga bisa menciptakan kehidupan yang berkualitas.

Sebagian orang ada yang berusaha untuk mapan terlebih dahulu, kemudian menyenangi diri sendiri, keluarga dan sebagainya. Ketika semua itu sudah terpenuhi secara lahir dan batin, setelah itu baru mulai memikirkan kehidupan yang baru dengan seseorang.

Namun ada lagi, mereka yang memiliki asumsi, yang penting nikah dahulu pasti ada rezekinya. Bahkan asumsi tersebut dianggap sebagai sesuatu yang benar, tanpa dipertanyakan terlebih dahulu. Seolah-olah suatu keluarga bisa hidup dengan cinta.

Dan ada yang lebih menarik, mereka yang memiliki segudang kriteria dalam memilih pasangannya, dalam artian mencari yang sempurna menurut versinya. Inilah mereka yang sering katakan sebagai perfeksionis dalam suatu hubungan. Tapi bagi penulis, ini merupakan kecacatan yang besar dalam ajang pencarian pasangan.

Cacat dalam Kesempurnaan.

Siapa yang tidak mengenal salah satu penyanyi pop dunia sekelas Michael Jackson? Seorang lelaki yang memiliki ketenaran luar biasa, pasangan yang menawan, harta dan penggemar yang berlimpah. Namun ia berakhir ketika masa-masa jayanya setelah meminum obat tidur hingga overdosis. Ia cacat di balik kesempurnannya

Baca Juga  Cinta Kasih dan Jalan Mencapai Pendidikan Toleransi dalam Keluarga

Siapa juga yang tidak mengenal Robin Williams? Seorang aktor yang memiliki ketenaran, material yang berlimpah dan sebagainya. Bahkan dinobatkan sebagai pria paling lucu di dunia. Namun ia mati dalam keadaan tragis setelah bunuh diri pada agustus 2014 silam. Ia juga cacat dalam kesempurnannya.

Manusia sebenarnya sudah menjadi mainan dari dunia yang selalu iri pada kesempurnaan. Mereka yang menginginkan suatu kesempurnaan belum tentu akan berakhir Bahagia; yang ada manusia akan diposisikan terjebak dalam ilusi semata.

Karena pada hakikatnya tidak ada kesempurnaan yang kita peroleh dari diri seorang manusia. Bisa jadi dia yang awalnya memenuhi standarisasimu, namun lihat ketika sudah menjalani hubungan yang cukup lama akan keluar sifat-sifatnya yang bisa melunturkan nilai sempurna darimu.

Selektifnya Seorang Perfeksionis

Di balik hubungan yang bahagia, akan selalu ada konflik yang terpendam. DI balik selektifnya memilih pasangan, selalu ada kemungkinan fenomena meninggalkan atau ditinggalkan yang menunggu untuk menjadi nyata. Kemudian, di balik setiap kriteria yang sempurna sekalipun, selalu ada kemungkinan terbaliknya ekspetasi yang diharapkan.

Mungkin bisa jadi standarisasi pasangan yang ingin kamu dapati orang yang kaya raya, namun attitudenya sangat minim. Boleh jadi sebaliknya. Ketika kamu terlalu fokus pada suatu kriteria sempurna versimu, maka kamu juga akan susah untuk membangun sebuah komitmen yang sesungguhnya dalam hubungan. Karna sifat over selektif itulah yang menuntutmu agar selalu tidak puas dalam berbagai hal.

Bahkan secara tidak sadar, kamu yang terlalu selektif dalam memilih jodoh, akan mengalami rasa di mana kamu dituntut menjadi seorang yang egois. Kamu menginginkan seolah-olah alam ini harus tunduk pada kehendak dan kenginanmu. Seakan-akan Tuhan selalu hadir untuk memberikan semua kriteria kesempurnaan yang diharapkan. Namun jangan salah paham, ini merupakan suatu ilusi. Too good to be true!.

Antara Sempurna dan Komitmen

Jodoh itu bukan seberapa sempurnanya ia, tetapi seberapa yakin kamu dengannya. Tidak akan datang dengan sendirinya dalam bentuk versi sempurna yang kamu harapkan. Jodoh adalah sesuatu yang harus kamu usahakan dengan memperbaiki dirimu sendiri.

Baca Juga  Pentingkah Pendidikan Toleransi dalam Keluarga?

Setiap orang pasti memiliki standarisasi pasangan hidup masing-masing. Karna memilih pasangan memang sudah tugas dari akal dan perasaan. Namun apakah pantas kita selalu memasang kriteria jodoh yang sempurna? Seperti harus kaya raya, wajah yang rupawan, baik dalam segala hal, dan lain sebagainya. Tanpa memikirkan apakah dirinya sudah sebanding dengan kriteria sempurna tersebut.

Saya sebagai manusia yang memiliki Tuhan sangat yakin tidak ada makhluk yang sempurna; melainkan hanya ada makhluk yang mencoba mendekati kesempurnaanM memang keinginan untuk mendekati sempurna itu merupakan hal yang baik, namun pada kenyataannya standarisasi dari kesempurnaan itu hanyalah omong kosong yang diproduksi oleh pabrik ilusi.

Standarisasi Perfeksionis dan Pengecut

Saya berani mengatakan, bahwa mereka di luar sana yang selalu memasang standarisasi tinggi terhadap suatu pasangannya merupakan orang yang paling pengecut!

Ketika saya membuat tulisan ini berusaha semaksimal mungkin untuk tidak membuat suatu tulisan yang mencapai kesempurnaan. Saya berusaha untuk sekedar menulis Down to Earth! hanya apa adanya. Saya mencoba sekeras mungkin untuk tidak menyempurnakan dan memikirkan kembali bagaimana tulisan saya bisa mencapai suatu kesempurnaan.

Karna dibenak saya sudah terukir kalimat “Buat apa memikirkan dan berusaha dengan berbagai cara agar tulisan menjadi sempurna, sedangkan tulisan tersebut tidak pernah dituliskan!

Buat apa memiliki pasangan yang sempurna menurutmu, jika tidak menjalankan komitmen yang sebagaimana mestinya? Mereka yang selalu menuntut kesempurnaan dalam suatu hubungan percintaan acapkali hanya sebagai sebuah alasan klasik untuk penundaan. Mereka pengecut yang sebenarnya.

Pasangan itu saling melengkapi, kita merupakan insan yang menyimpan banyak kekurangan dan kelebihan masing-masing. Di sinilah tuhan menciptakanmu berpasang-pasangan agar saling mendukung dan menutupi berbagai kekurangan. Manusia yang selalu menuntut kesempurnaan, hanyalah orang-orang yang berisikan mental pengecut, karna tuntutan mereka hanya sebagai alasan untuk tidak pernah memulai dalam suatu hubungan ke arah yang lebih serius.

Bagikan
Post a Comment