f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Necrophillia

Menjadi Dewasa dan Pola Pikir yang Harus Diubah Pada Usia 20

Masa kanak-kanak memang selalu menyenangkan, kita bisa tertawa terbahak-bahak karena perkara sepele, pun bisa menangis sejadi-jadinya karena hal sepele pula, namun itu tak bertahan lama lalu kembali riang seperti sediakala. Kesehariannya hanya berkutat pada bermain, belajar, dan sesekali berkr easi menciptakan hal-hal baru yang belum pernah dibikin sebelumnya.

Hal ini tentu berbeda saat kita memasuki usia 20. Pada fase ini, kita dituntut untuk mulai berdikari, mencari cuan sendiri dengan segenap kemampuan yang dimiliki, entah dengan bekerja sebagai pedagang, desainer, guru, penulis, hingga menggapai profesi mentereng penyelamat finansial dan hari tua, PNS.

Tidak berhenti sampai situ, menikah pun harus dipersiapkan matang-matang.

Karenanya, pola pikir yang sejalan dengan laku keseharian kita sudah seharusnya diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti dikutip dari Quora.com–dengan pengembangan. Berikut adalah pola pikir yang harus diubah pada usia 20.

Pola pikir yang harus diubah #1 Orang tua masih sehat dan baik-baik saja

Orang tua mungkin terlihat baik-baik saja, tapi pernahkah terbesit dalam benak Rahmania bahwa mereka sesungguhnya punya utang yang harus segera dilunasi, tagihan rumah tangga yang harus dibayar, biaya sekolah Anda, dan segala hal yang berkaitan dengan pengeluaran rumah tangga.

Untuk mengurangi beban itu, setidaknya kita harus memulai untuk mengurangi beban yang ada di pundak orang tua, dengan beragam cara tentunya.

Pola pikir yang harus diubah #2 Masih ada hari esok, kenapa harus sekarang?

Istilah lainnya ialah prokrastinasi, yang berarti “lakukan besok”. Dalam psikologi, prokrastinasi adalah tindakan mengganti tugas penting dan mendesak dengan tugas penting tapi tidak mendesak, sehingga tugas penting dan mendesak pun tertunda. Sebuah penelitian pun menyebut bahwa sebanyak 80% mahasiswa sering menunda tugas perkuliahan mereka.

Baca Juga  Hardiknas: Pentingkah Gender Mainstreaming and Family Studies Menjadi Mata Kuliah Universitas di Perguruan Tinggi?

Selagi masih ada waktu dan kesempatan untuk mengerjakan suatu hal, mengapa tak dituntaskan saja? bukankah waktu bagaikan pedang?

Pola pikir yang harus diubah #3 Semua akan baik-baik saja

Di usia 20, persoalan akan muncul lebih intens dari pada sebelumnya, setiap keputusan atas pertimbangan harus diambil sesegera mungkin, walaupun keputusan itu akan bertentangan dengan pemikiran orang lain, setidaknya kita beranjak lebih dewasa dengan bertukar pikiran.

Kita tahu, menghindari konflik justru akan mendatangkan masalah baru bukan?

Pola pikir yang harus diubah #4 Kawan-kawanku selalu ada untukku

Sayangnya tidak, kawan. Justru semakin dewasa kawan-kawan kita pada akhirnya akan memikirkan dirinya masing-masing. Dengan kata lain, lingkaran pertemanan kita akan semakin mengecil, yang tadinya mudah untuk berkumpul untuk sekadar kopdar, kini susah untuk dikumpulkan. Masing-masing orang sibuk dengan karir yang harus dipersiapkan untuk bekal masa depan.

Pada akhirnya, yang menjadi supporting system bagi kita ya diri kita sendiri, sebab diri kitalah yang tahu betul perihal permasalahan dan kekalutan hidup dan bagaimana cara mengakhirinya.

Pola pikir yang harus diubah #5 Semuanya akan berakhir dengan indah

Sayangnya tidak semua kisah berakhir dengan indah. Menjadi dewasa berarti harus siap menerima segala konsekuensi yang kita pilih, dan hasilnya tentu tidak selalu berakhir dengan happy ending.

Karenanya mengambil ibrah dari kegagalan, memikirkan skenario terburuk atas pilihan, dan mencari solusi terhadap sebuah permasalahan merupakan one step closer untuk menuju sikap dan laku kita agar lebih baik lagi.

Pola pikir yang harus diubah #6 Berhenti memandingkan diri dengan orang lain

Semua orang memiliki proses dan jalannya masing-masing, timeline hidup setiap orang bereda-beda. Sebagai contoh, seperti diceritakan Cak Nun dikutip dari Sabrang, bahwa ada orang Jepang yang kerjaannya hanya melipat-lipat kertas origami hingga menjadi karya. 40 tahun ia berkutat dengan kertas origami.

Baca Juga  Beneran Ikhlas atau Biar Dibilang Ikhlas?

Hingga pada suatu masa, ia di panggil lembaga antariksa Amerika (NASA) karena mereka ingin membikin satelit yang efisien yang bisa menyerap energi dari matahari tapi tidak terlalu besar, maka harus ada lipatan-lipatan tertentu yang efisien dengan logam yang tak terlalu berat sehingga lebih awet di angkasa.

Ada pula yang baru meraih kesuksesan setelah dirinya berdagang ayam goreng, padahal sebelumnya ia adalah seorang kolonel.

Maka, untuk meraih segala hal yang menyenangkan dan membuat kita bahagia di masa depan berhenti membandingkan proses kita dengan orang lain, kurangi sambat, dan bersyukur tanpa harus melihat ke bawah dulu adalah sederet cara untuk mengurangi rasa iri atas kesuksesan orang lain.

Arkian, menjadi dewasa memang tidak selalu menyenangkan, sedangkan waktu terus bergulir bagai roda pedati. Maka tak ada pilihan lain selain mengahadapinya dengan penuh suka cita dan perhitungan yang matang, tentu saja. (s)

Bagikan
Post a Comment