f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Jangan Membiasakan Tebar Persona

Jung merupakan penggalan nama dari tokoh psikologi, Carl Gustav Jung. Jung ini merupakan salah satu ilmuwan atau tokoh terkemuka dari psikologi analitis yang termasuk dalam aliran teori psikologi psikodinamika.

Beliau juga terkenal dengan beberapa teori yang membahas tentang persona, mimpi, agama, shadow dan lain sebagainya. Dulunya, beliau merupakan rekan dekat dari Sigmund Freud, tokoh psikoanalisis. Oleh karena itu, beberapa teori dari Jung terkesan hampir mirip atau melengkapi dan mengkritisi teori dari Freud.

Persona: Wujud dari Pemenuhan Ekspetasi Sosial

Sisi kepribadian yang ditunjukkan orang kepada dunia disebut persona. Jung meyakini bahwa masing-masing dari kita terlbiat dalam peranan tertentu yang dituntut oleh masyarakat. Meskipun persona merupakan sisi yang penting dalam kepribadian kita, sebaiknya kita tidak mencampurkan bagian yang ditampilkan di depan publik dengan diri kita.

Jika kita terlalu dekat dengan persona, maka kita akan membangun ketidaksadaran mengenai individualitas dan dibatasi dalam proses mencapai realisasi diri. Memang benar benar bahwa kita harus diterima oleh masyarakat, tapi juga jangan sampai menjadikan persona sebagai identitas.

Sebab, kita bisa menghilangkan inner self dan cenderung untuk memenuhi ekspetasi sosial. Agar menjadi sehat secara psikologis. Jung meyakini bahwa kita harus dapat mempertahankan keseimbangan antara harapan sosial dengan kepribadian kita yang sebenarnya.

Arti Persona

Persona menurut Jung diartikan sebagai topeng dari seseorang dalam bersikap terhadap oranng lain di lingkungannya ketika bertindak atau melakukan sesuatu, tidak menunjukkan keaslian dari dirinya sendiri kepada orang lain. Persona hampir ada pada semua manusia.

Selain konsep persona yang diungkapkan oleh Jung, dalam perspektif lainnya persona ini bisa termasuk sebagai perwujudan dari tools yang mengolah pikiran dan emosi manusia. Pikiran dan hawa nafsu bisa menjadi kemungkinan besar yang mengolah dan mengendalikan munculnya persona diri.

Baca Juga  Belajar Imbang dari Siti Baroroh Baried

Teori mengenai persona dalam islam termasuk di dalam aqal atau al-imsak (menahan), al-ribath (ikatan), al-hajr (menahan), al-nahi (melarang) dan man’u (mencegah) yang berarti adalah orang yang mampu menahan dan mengikat hawa nafsunya sehingga jiwa rasionalitasnya mampu mengimbanginya satu sama lain.

Aqal: Keseimbangan Rasionalitas

Aqal juga dikatakan sebagai sebuah energi yang mampu mengantarkan manusia kepada esensi kemanusiaan (haqiqah insaniyyah). Ia juga merupakan bentuk dari kesehatan fitrah pada manusia. Al-Ghazali membagikan aqal atas 4 bagian. Pertama, sebutan yang membedakan antara manusia dan hewan.

Kedua, ilmu yang lahir disaat anak mencapai usia akil baligh, sehingga mampu membedakan perbuatan yang baik dan buruk. Ketiga, ilmu yang didapat dari pengalaman, sehingga dapat dikatakan “Siapa yang banyak pengalaman, maka dialah orang yang berakal”.

Keempat, kekuatan yang dapat menghentikan keinginan yang bersifat naluriah untuk menerawang jauh ke angkasa, mengekang dan menundukkan syahwat yang selalu menginginkan kenikmatan. Manusia pasti jika ingin diterima oleh lingkungannya, ia harus mengikuti norma dan budaya dari tempat tersebut.

Misal, seorang non muslim berada di Masjid Istiqlal untuk sekadar berkunjung, ia harus menjaga auratnya sebagai bentuk menghormati syariat yang ada dalam Islam serta bertutur kata yang sopan dan lembut.

Lain halnya jika ia sedang berada tengah persidangan sebuah kasus dan ia merupakan seorang ketua hakim. Ia dituntut harus tegas dan cekatan dalam bersikap dengan karakter yang kuat agar timbul leading effect dalam tutur katanya.

Pada dasarnya, persona yang ada dalam diri manusia itu berwujud sebagai perilaku, sikap, baik bahasa, ekspresi dan lain sebagainya. Namun, persona ini terkesan seperti topeng karena belum tentu apa yang diperbuat dan ditampilkan adalah sifat yang asli, dengan kata lain ini bisa jadi muncul sekadar untuk memenuhi pengakuan sosial.

Baca Juga  Meneladani Bapak Pergerakan, KH. Ahmad Dahlan

Jangan Membiasakan Diri Tebar Persona

Seperti yang telah diterangkan bahwa persona adalah topeng manusia, tidak menunjukkan ke-asliannya. Akan tetapi, bukan berarti hal ini hanya terjadi pada orang-orang dengan tingkat gengsi yang tinggi. Persona bisa saja ada pada diri kita semua, disadari atau tidak.

Jangan membiarkan diri kita berperilaku dan bersikap hanya untuk memenuhi ekspetasi sosial saja. Sebab, terkadang hal seperti ini yang bisa membuat diri kita sendiri menjadi bimbang dan merasa tidak nyaman. Perlu kita ingat, kita tidak bertanggung jawab atas penilaian orang lain terhadap diri kita.

Semua dasarnya adalah niat. Apakah kita bersikap dan berperilaku baik hanya karena lingkungan mengharuskan seperti itu? Atau kah memang diri ini bergerak atas kehendaknya sendiri. Semua itu kembali pada pribadi masing-masing, sebab yang membentuk bagaimana rupanya identitas adalah diri sendiri.

Seperti yang dikatakan Jung, jangan membiasakan persona bermain dalam kehidupan sehari-sehari kita. Jangan sampai diri ini benar-benar dikendalikan oleh lingkungan. Berperilaku sesuai harapan orang lain dan akhirnya melupakan bahkan menghilangkan jati diri yang sebenarnya.

Oleh karena persona ini ada pada diri setiap manusia, maka penting kita bentengi diri kita agar tidak terlalu jauh jatuhnya ke dalam ekspetasi sosial. Bukan berarti mengabaikan realitas sosial yang ada sekarang ini, akan tetapi demi menjaga keseimbangan mental tetap sehat, maka hal ini menjadi penting untuk diperhatikan. (s)

Bagikan
Post a Comment