f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Hanie-Maria

Kesepian, Kesedihan dan Kecemasan Ibu Rumah Tangga

“Stay-at-home-mom depression is a real thing”

Begitu bunyi unggahan salah satu akun dengan satu juta pengikut yang sering menyuarakan isu-isu kepengasuhan.

Saya tidak hendak bercerita tentang depresi, selain karena belum pernah terdiagnosis secara tegak, saya juga tidak memiliki pengetahuan keilmuan tentang hal ini. Tapi unggahan tadi membuat saya mengingat lagi kesedihan, kesepian dan kecemasan yang juga saya rasakan sebagai ibu rumah tangga. Saat ini, menjadi ibu rumah tangga karena pilihan sadar dan sukarela.

Semakin berkembangnya ilmu kepengasuhan dan mudahnya dalam mengakses, membuat banyak Ibu mengambil pilihan menjadi ibu rumah tangga dan melepas pilihan-pilihan lainnya. Namun, mengambil pilihan dengan sadar tidak lantas membuat prosesnya berjalan dengan mulus. Berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa situasi yang bisa memicu munculnya rasa sedih, kalut, letih dan kesepian. Saya ingin mengupasnya satu per satu.

***
Adaptasi Beruntun

Menjadi ibu baru mau tidak mau harus berlatih dan belajar hal baru. Seperti berlatih bersepeda, namanya juga latihan, pasti ada jatuhnya. Jika si Ibu baru ini langsung memiliki anak setelah menikah, maka proses adaptasi menjadi ibu harus ia jalani; sembari ia beradaptasi menjadi istri dan menantu. Tetapi, terdapat perbedaan dengan berlatih naik sepeda. Bayi bukanlah benda mati yang bisa ditinggalkan begitu saja ketika sedang lelah berlatih.

Ketiadaan Lingkungan Pendukung (support system)

Banyak anggapan ibu rumah tangga memiliki tanggungjawab penuh terhadap rumah dan seisinya. Mulai dari makanan yang tersedia, baju kotor dan baju bersih hingga ke tahap perkembangan anak. Banyak yang menganggap keberadaan Ibu di rumah itu mampu mengerjakan semuanya. Pola pikir demikian akan melahirkan sikap kurangnya perhatian kepada Ibu, dan mengurangi rasa peka terhadap situasi yang dialami oleh Ibu.

Baca Juga  Ibu Rumah Tangga; Pemegang Kunci Literasi Digital
Tidak Lagi Terhubung dengan Teman

Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan tanpa job description dan jam kerja. Jika rumah cukup kotor, maka tak cukup menyapu; harus mengepel lantai juga. Jika anak demam, maka bertambahlah pekerjaan menjadi perawat dadakan. Tanpa jam kerja dan tugas yang jelas, membuat pekerjaan rumah tangga tak bisa diprediksi dan menyita banyak waktu.

Apalagi bagi Ibu baru dengan anak batita. Bertemu teman lama tak lagi seleluasa sebelumnya. Jika tenggelam dalam urusan rumah tangga dalam waktu lama, lingkaran pertemanan akan semakin menyempit. Semakin lama akan semakin canggung menghubungi teman lama dan bukan hal yang mudah juga untuk menjalin pertemanan baru. Di situasi demikianlah muncul rasa kesepian. Bagaimanapun, Ibu rumah tangga pastilah butuh teman bicara.

***
Merasa Tidak Berharga

Ini bisamenjadi bahan perdebatan, meski entah kenapa perasaan ini kerap muncul di benak para ibu rumah tangga. Menjalani hari yang sibuk dengan banyak pekerjaan mestinya cukup membuat seorang Ibu menepuk-nepuk dada dan berkata: “kerja bagus hari ini, Ibu”. Tapi nyatanya tidak demikian. Berbeda dengan pekerjaan lain, ibu rumah tangga tidak mendapatkan uang gaji, tidak ada rekan kerja, tidak ada seragam, tidak ada jam masuk dan jam pulang.

Sekali lagi, meski sangat bisa menjadi bahan perdebatan, toh perasaan ‘tidak berharga’ seringkali menghantui Ibu dan membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. Beberapa mampu mengatasinya dengan cepat, yang lainnya butuh waktu dan dukungan penuh dari keluarga.

Merasa Bersalah Jika Ingin Memvalidasi Perasaan

Kendati lelah, sedih dan kesepian adalah perasaan yang wajar bagi siapapun termasuk Ibu rumah tangga. Namun, mengakui perasaan ini seringkali disertai dengan perasaan bersalah. Urusan rumah tangga berisi orang-orang yang dicintainya; anak dan suami. Dengan mengaku lelah, ia takut akan menyakiti hati keluarganya. Padahal mengakui bahwa ia lelah, bukan berarti ia tak lagi menyayangi anak dan suami, apalagi durhaka sebagai ibu dan istri. 

Baca Juga  Spiritualisasi Mata Pelajaran, Sebuah Metode Dakwah Kekinian
***
Tidak Memiliki Penghasilan Sendiri

Seringkali banyak anggap menjadi ibu rumah tangga itu ‘enak’ karena tak perlu mencari uang sendiri. Hanya perlu santai karena cukup menyandarkan pemasukan dari suami. Padahal di sisi lain, single income bukan perkara yang mudah. Agar tabungan bisa tetap terisi, terdapat penghematan pos-pos pengeluaran. Ada rasa tidak enak jika ingin berbelanja kebutuhan pribadi.

Padahal ya menggunakan uang suami sendiri bukan suami orang lain. Itu sebabnya, jika ada ibu-ibu yang berjualan; kebanyakan via online. Ibu bukan hanya ingin menambah pemasukan keluarga, kadang itu berarti ia sedang mengusahakan nuansa baru yang sedang ia butuhkan.

Situasi di atas bukanlah situasi yang mudah, namun tidak mustahil untuk diatasi. Menjalankan proses adaptasi dilalui dengan lebih smooth jika si Ibu meluangkan waktu untuk belajar. Melakukan edukasi keluarga guna tercipta lingkungan yang nyaman; dengan dukungan sesuai harapan Ibu. Selalu percaya bahwa dialog adalah salah satu cara mudah mencari solusi. 

Meluangkan waktu bertemu dengan teman juga bukan hal yang salah. Mintalah suami untuk bergantian mengambil alih pekerjaan rumah sementara. Miliki waktu untuk diri sendiri, satu hingga dua jam setiap hari merupakan awal yang baik supaya ibu tetap terhubung dengan diri sendiri. Memanfaatkan waktu untuk menambah penghasilan, membuat proyek pribadi atau menekuni hobi.

Pesan untuk para bapak, berbagi tugas rumah tangga dan satu pelukan tiap hari tidak akan menyita terlalu banyak waktu di sela-sela kesibukan bapak. Pelukan hangat menumbuhkan perasaan aman dan dicintai. Perasaan aman dan dicintai bisa mengurangi keletihan, kesepian dan kecemasan yang Ibu rasakan; karena rumah tangga adalah kesalingan, bukan hubungan satu arah.

Bagikan
Comments
  • Evi N. Prass

    Subahanalloh, terima kasih Mba Hanie Maria, bahagia selalu dengan keluarga..🤗

    Maret 2, 2022
Post a Comment