Kesadaran Transitif Kritis Masyarakat dan Konsep Al Mutawaahid
Oleh : Syarifuddin*
Tiga bulan lebih masyarakat Indonesia menjalani aktivitas sehari-hari di rumah saja. Bagi sebagian orang mungkin ini menjadi hal yang sangat membosankan, jenuh. Bahkan sudah mulai tidak sabar untuk segera beraktivitas normal seperti biasanya. Namun, bagi sebagiannya lagi, kondisi ini mungkin menyenangkan dan membahagiakan karena bisa menghabiskan banyak waktu untuk berkumpul dan beraktivitas bersama keluarga di rumah.
Hari ini, kita dihadapkan pada kondisi yang berbeda, di mana kita dituntut komitmen dan memiliki kesadaran yang tinggi untuk menghadapi era baru ini. Era di mana kita harus hidup berdampingan dengan Covid-19 atau era yang lebih dikenal dengan new normal. Kita dituntut beraktivitas dengan memperhatikan dan mematuhi protokol Kesehatan, sehingga kita dapat mencegah dan memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19.
Hal ini membutuhkan komitmen dan kesadaran dari masyarakat luas agar penyebaran virus Covid-19benar-benar bisa kita hentikan. Tanpa kesadaran dan juga komitmen dari masyarakat, maka new normal ini bukan malah menjadi solusi yang dapat mencegah penyebaran virus Covid-19. Tapi yang akan terjadi malah sebaliknya yaitu semakin meningkatnya pasien yang terdampak virus Covid-19.
Tingkat Kesadaran Masyarakat
Paulo Freire dalam sebuah bukunya Cultural Action for Freedom menyebutkan bahwa terdapat tiga tingkat kesadaran dalam masyarakat; yaitu kesadaran semitransitif, kesadaran transitif naif dan kesadaran transitif kritis.
Pertama kesadaran semitransitif. Kesadaran ini merupakan kesadaran masyarakat yang berada pada keadaan di mana masyarakat tidak mampu memahami masalah-masalah yang berada di luar lingkungannya. Pada tahap kesadaran ini, masyarakat hanya tertarik pada hal-hal yang berkaitan dengan diri mereka sendiri. Paulo Freire menyebut kesadaran masyarakat seperti ini sebagai masyarakat yang eklusif atau introvert.
Kalau kita kaitkan dengan banyaknya kasus peningkatan virus Covid-19 yang terjadi di Indonesia, jelas bahwa masih banyak masyarakat yang tingkat kesadarannya berada pada kesadaran semitransitif. Di mana banyak sekali masyarakat yang egois dan mengabaikan peraturan serta protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Karena mementingkan diri mereka sendiri tanpa memikirkan dampaknya terhadap orang lain.
Kedua kesadaran transitif naif. Pada tingkat kesadaran ini, manusia mulai terbuka terhadap masalah-masalah yang berada di sekitar mereka. Meskipun pada masyarakat seperti ini lebih tertarik pada keterangan-keterangan yang ganjil, gosip dan tidak rasional. Bahkan, mereka enggan mencari pembenaran dari apa yang mereka ketahui.
Tingkat kesadaran seperti ini banyak kita temui di tengah masyarakat Indonesia terutama dalam menyikapi masalah virus Covid-19 ini. Banyak sekali masyarakat yang mengetahui tentang virus covid-19 ini. Tapi hanya sebatas informasi atau keterangan ganjil yang mereka peroleh saat mereka nongkrong di warung kopi atau saat berkumpul bersama teman mereka. Misalnya saja mereka mendapatkan keterangan bahwa virus covid-19 ini adalah konspirasi dan sebagainya.
Keterangan seperti itu yang kemudian membuat masyarakat mengabaikan instruksi untuk mematuhi protokol kesehatan yang sudah dianjurkan oleh pemerintah. Seperti misalnya masih banyak masyarakat yang beraktivitas di luar rumah tidak menggunakan masker, tidak jaga jarak dan tidak cuci tangan setelah melakukan aktivitas. Itu terjadi karena pemahaman meraka terhadap Covid-19 ini tidak tepat bahkan termakan oleh informasi yang ganjil dan tidak rasional.
Kelalaian-kelalaian masyarakat seperti tersebut di atas kalau diterapkan di era New Normal, maka hal itu tidak akan memutus mata rantai penyebaran virus covid-19. Justru yang terjadi malah sebaliknya yaitu akan terjadi penyebaran yang meningkat.
Ketiga kesadaran transitif kritis masyarakat. Kesadaran ini merupakan kesadaran tingkat tinggi, ditandai dengan kematangan masyarakat untuk menafsirkan masalah yang ada di sekitarnya. Keterangan maupun informasi yang bersifat ganjil ataupun gosip digantikan oleh prinsip-prinsip sebab akibat atau kausalitas. Pada tahap ini masyarakat sangat terbuka dan mencari pembenaran dari setiap informasi atau keterangan yang mereka terima dari orang lain.
Kesadaran seperti inilah yang dibutuhkan masyarakat kita dalam menghadapi era new normal ini. Sehingga masyarakat dapat bersama-sama mencegah dan memutus penyebaran virus Covid-19. Dengan pengetahuan dan informasi yang valid tentang Covid-19, maka masyarakat akan selalu antisipasi dan waspada serta mematuhi dan menjalankan protokol kesehatan ketika sedang beraktivitas baik di luar maupun di dalam rumah.
Uraian di atas sudah sangat jelas memberikan gambaran kepada kita bagaimana kemudian sikap kita dalam menghadapi era new normal ke depan. Dibutuhkan kerjasama, kesadaran dan mental yang kuat dari berbagai elemen masyarakat untuk mencegah dan memutus penyebaran Covid-19.
Pengendalian Diri
Dalam salah satu karyanya Tadbir Al Mutawahhid, Ibnu Bajjah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Avempace mengemukakan konsep Al Mutawaahid (Manusia Penyendiri). Menyendiri di sini diartikan sebagai suatu usaha untuk mencapai kebahagiaan dan menjauhkan diri dari perbuatan buruk di dalam suatu masyarakat.
Konsep Al Mutawahhid Ibnu Bajjah ini juga merupakan respon terhadap pandangan Imam Gazhali. Konsep ini mengemukakan bahwa, jika seorang ingin mencapai puncak kebahagiaan tertinggi maka harus mengasingkan diri dari orang banyak dengan menjalankan ibadah semata atau menjadi seorang sufi. Hal itu dibantah oleh Ibnu Bajjah karena bertentangan dengan kodrat manusia sebagai makhluk yang tidak akan bisa hidup sendiri.
Menurut Ibnu Bajjah, konsep manusia menyendiri sebenarnya ialah bukan menjauh atau mengasingkan diri dari masyarakat. Tapi, menyendiri di sini diartikan bahwa manusia harus pandai bergaul dan memilih teman yang baik sehingga menciptakan kondisi masyarakat yang baik pula. Dalam hal kaitannya dengan Covid-19 di era new normal ini, kita harus pandai dalam menentukan mana tindakan yang harus kita jalankan dan mana yang harus kita tinggalkan.
Kita harus mampu mematuhi dan menjalankan protokol Kesehatan di era new normal ini. Supaya bisa memutus penyebaran virus Covid-19 dan keadaan masyarakat bisa kembali normal seperti biasanya. Jangan sampai kita mengikuti orang-orang yang tidak mentaati aturan atau tidak mematuhi protokol kesehatan. Jadi konsep Al Mutawahhid (Manusia Penyendiri) sebagai pengendalian diri kita dalam berinteraksi dengan masyarakat ditengah situasi pandemi Covid-19.
*Penulis adalah Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah

Isha
Good bermanfaat sekali makasih infonya😊