Berdamai dengan New Normal adalah Tergesa-gesa
Rahmania, menerima kenyataan bahwa virus Covid-19 sudah berada di antara kita adalah sebuah keniscayaan. Sehingga antisipasi agar diri kita, keluarga kita, kampung kita, tempat kerja kita serta tempat ibadah kita tidak menjadi pusat penularan menjadi bisa kita lakukan dengan baik.
Karena inilah takdir terbaru kita yangg harus kita terima. Namun kita tetap punya ruang untuk mengusahakan takdir yang lain yang lebih baik. Ingatlah, bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga suatu kaum itu mengusahakan perubahan nasibnya sendiri.
Usaha-usaha untuk meyakinkan Allah SWT bahwa bangsa Indonesia layak mendapatkan takdir yang lebih baik harus dikerjakan bersungguh-sungguh. Berjihad. Hingga Covid-19 penularannya terkendali, jumlahnya tidak terlalu besar dan massal, fasilitas kesehatan untuk merawat mencukupi, dan kita semua nyaman dengan kebiasaan baru untuk mencegah penularannya.
Itu semua bila benar bahwa virus Covid-19 tidak bisa dimusnahkan dari Indonesia. Usaha-usaha harus kita lakukan dengan terus berprasangka baik bahwa ini semua adalah ujian dari Allah SWT, untuk melahirkan bangsa yang tangguh. Kalaupun takdir terbaru adalah menjalani hidup dengan kaidah “New Normal” yang tidak terelakkan tentu harus kita hadapi. Apalagi tuntutan kebutuhan ekonomi yang terus bergerak.
Namun prinsip bahwa penyelamatan nyawa dan kesehatan masyarakat yang utama harus menjadi komitmen. Bila itu diabaikan, maka kita tidakk layak untuk meyakinkan Allah SWT bahwa kita bangsa yang diberkahi dan dipenuhi ampunan. New Normal harus kita songsong bukan dengan membiarkan sistem testing dan tracking yang tidak representatif hingga saat ini. Sehingga data dan kurva mencerminkan kenyataan, hal ini untuk memastikan berbagai langkah mitigasi dalam menghadapinya.
New Normal atau Kehidupan dalam Masa Darurat?
New Normal sebagai sebuah ikhtiar keselamatan secara komprehensif tidak boleh membuka peluang adanya sekelompok orang yang dikorbankan. Kelompok rentan, orang dengan penyakit, difable, lansia, anak-anak, fakir-miskin adalah kelompok yang terancam sulit beradaptasi dengan New Normal karena kebutuhan dasar mereka yang kadang harus berhadapan dengan risiko terpapar virus dan tertular.
Apalagi sistem ekonomi kita yang menjadikan mereka yang miskin harus hidup di tempat-tempat berisiko tinggi terpapar virus. Dengan sistem jaminan kesehatan yang menjadikan mereka paling minim mendapat fasilitas layanan. Tentu berisiko tinggi bila mereka dipaksa masuk ke dalam fase New Normal tanpa peningkatan jaminan. Kita tahu BPJS tidak melayani pasien Covid-19, biaya pasien Covid-19 diambil dari Dana Siap Pakai yang memerlukan pernyataan status darurat bencana nasional. Apakah kalau sudah masuk ke fase New Normal perangkat regulasinya bisa segera disiapkan ? Jalan menuju New Normal masih panjang, butuh kesungguhan untuk menyiapkannya. Kalaupun aktifitas warga sudah mulai dibuka sebaiknya masih kita sebut sebagai “kehidupan dalam masa darurat“.
Ibarat letusan gunung merapi, fase sekarang ini adalah fase di mana gunung merapinya masih terus meletus dengan pola letusan yang belum bisa kita buat karena data yang tidak representatif. Fase seperti ini adalah fase tanggap darurat awal, fase life saving. Bila ingin segera beranjak ke fase darurat terkendali sistem testing dan tracking harus segera teratasi. Baru setelah itu kita bisa menyusun zonasi, menyusun strategi rehabilitasi, hingga fase rekonstruksi. Fase New Normal mungkin setara dengan fase Rekonstruksi. Masih jauh
*
Direktur Pelaksana Pusat Syiar Digital Muhammadiyah (PSDM) 2019-2023, Sekretaris Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah 2010-2027, Sekretaris Muhammadiyah Covid-19 Command Center , Fasilitator Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB)
