Insecure menjadi ungkapan yang tidak asing di kalangan anak muda saat ini. Ungkapan insecure muncul ketika melihat orang yang memiliki kapasitas lebih tinggi bisa dalam hal intelektual, finansial, penampilan maupun hal yang lain. Insecure merupakan ekspresi hati atas ketakjuban melihat diri orang lain yang lebih dalam hal aspek kehidupan, dibanding dengan dirinya. Oleh karena itu, insecure lebih cenderung sebagai ekspresi negatif karena rasa rendah diri melihat orang lain lebih dan dapat membuat diri menjadi terpuruk.
Insecure berasal dari bahasa inggris, insecurity yang berarti ungkapan yang muncul karena rasa tidak nyaman atau tidak aman. Insecure terjadi karena rasa malu dalam diri seseorang, bersalah atau kurang bahkan tidak mampu melakukan sesuatu.
Rasa rendah diri merupakan ketidak percayaan akan diri sendiri. Menurut Adler, rasa rendah diri adalah perasaan seseorang lebih rendah dari orang lain dalam satu atau lain hal (orang yang merasa rendah diri cenderung bersikap egosentris, memposisikan diri sebagai korban, merasa tidak puas dengan dirinya, mengasihani diri sendiri, dan mudah menyerah).[1] Rendah diri dapat membuat orang tidak bersyukur akan apa yang ia miliki. Membuat hati merasa iri dengan kelebihan orang lain, dan tidak mau membuka diri dengan dunia luar.
***
Hal ini membuat orang tidak akan berkembang dalam hidupnya. Suri tauladan kita, Nabi Muhamamd Saw selalu percaya diri akan tugas kepada-Nya yaitu berdakwah kepada umat Quraisy saat itu. Dia yakin dan percaya diri akan kemampuannya untuk mendakwahkan ajaran Islam. Walaupun berkali-kali ditolak dengan kekerasan lisan, fisik, maupun mental seperti cacian, pukulan batu, disebut orang gila, dia tetap gigih dan pantang menyerah dalam berdakwah. Hal itulah yang haruslah diteladani oleh umat Islam dari Nabi kita, yaitu rasa percaya diri. Orang yang percaya diri akan memegang teguh pendiriannya dan tidak mudah goyah.
Dalam Al-Qur’an, rasa percaya diri juga Allah Swt. sampaikan pada QS Ali Imran : 139 dan QS Fussilat : 30
وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ١٣٩
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka. Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah Allah janjikan kepadamu.”
***
QS Ali Imran ayat 139 ini turun sebagai janjian Allah kepada kaum Muslim yang kalah dalam perang Uhud, yang mana akan memperoleh kemenangan yang lebih besar pada perang selanjutnya yaitu masa kepemimpinan Rasulullah Saw dan para sahabat. Kaum Muslim jangan menjadi lemah dan penakut atas beban dan musibah yang sedang menimpanya. Tetap yakin dan percaya diri, bahwa orang yang berimanan memiliki derajat yang paling tinggi di antara umat yang lain.[2]
Dalam konteks insecure, ayat ini menjelaskan bahwa orang yang percaya diri tergambarkan sebagai orang yang tidak lemah, tidak takut, tidak sedih, dan teguh akan pendiriannya. Orang yang percaya diri masuk kategori orang yang beriman. Allah memandang orang yang percaya diri sebagai orang yang memiliki keimanan berarti bahwa percaya diri menjadi bagian dari keimanan kita terhadap agama Islam.
Kepercayaan diri kita akan adanya Tuhan yaitu Allah Swt, kepercayaan adanya pedoman hidup yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kepercayaan adanya Nabi kita yaitu Nabi Muhammad Saw. Tanpa adanya kepercayaan diri, kita tidak akan memiliki keyakinan terhadap agama Islam yang menjadi petunjuk jalan kita dalam menempuh kehidupan di dunia.
***
Sedangkan dalam QS Fussilat ayat 30 menerangkan bahwa orang yang teguh akan pendiriannya mengenai Tuhan-Nya, keimanannya, akan masuk surga kelak di akhirat nanti. Orang yang memiliki kepercayaan diri akan keimanan-Nya. Tidak sedih dan takut akan apapun dan hanya beribadah kepada Allah, mendapat balasan yang setimpal sesuai apa yang ia lakukan.
Tidak iri hati melihat kelebihan orang lain, seperti salah satu hal yang orang insecure alami, juga Allah terangkan dalam QS al-Hijr ayat 88.
لَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا تَحۡزَنۡ عَلَيۡهِمۡ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ٨٨
“Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.”
***
Sudah jelas dalam ayat tersebut, Allah memberikan kenikmatan hidup pada beberapa makhluk ciptaan-Nya bisa berupa paras wajah, kekayaan, kepintaraan, dan lain-lain. Namun, hal itu bukan menjadi dasar untuk kita bersedih dan memiliki rasa iri hati (insecure). Karena, iri hati hanya boleh kepada orang yang lebih beriman kepada Allah Swt. Mereka bisa mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sedangkan kita tercipta sama namun tidak bisa melakukan hal itu juga. Karena sesungguhnya, yang membedakan kita di hadapan Allah nanti hanyalah ketakwaan kita, bukan hal yan lain.
Dari ketiga ayat di atas, Allah sudah menjelaskan bahwa orang yang memiliki kepercayaan diri menunjukkan bahwa ia orang yang beriman. Karena kepercayaan akan diri berpengaruh dalam kepercayaan akan tuhan-Nya. Bagaimana kita bisa percaya dengan Tuhan jika kita tidak bisa percaya dengan diri sendiri.
Maka dari itu, kepercayaan diri menjadi pondasi utama dalam beragama, tentunya juga dengan melakukan hal-hal yang Allah perintahkan. Dengan mentaati semua aturan Allah, maka rasa rendah diri, iri hati, tidak akan lagi muncul. Allah menciptakan kenikmatan hidup sebagai ujian bagi makhluk-Nya. Jika kita sudah istiqomah, maka tingkat keimanan-lah yang akan menjadi rasa insecure dengan yang lain. Dan membuat kita berlomba-lomba dalam hal kebaikan.
[1] Hariadi Ahmad & Dini Karunia, “Pengaruh Teknik Biblio Edukasi terhadap RasaRendah Diri pada Kelas XI di SMA N 8 Mataram”, Jurnal Realita Vol. 02 No. 1, 2017, hlm. 198.
[2] Achamad Suhaili, Konsep Percaya Diri dalam Qur’an dan Implikaisnya terhadap Kehidupan Manusia, hlm. 77

Tulisannya sangat bagus, Kak. Anda mencoba membuat korelasi mengenai insecure/rasa tidak percaya diri yang berkaitan dengan kepercayaan seseorang akan Tuhannya.
Saya jadi penasaran, dan ingin mengetahui bagaimana pendapat Anda mengenai bahwasanya rasa insecure itu sebenarnya tidak hanya merupakan hal yang negatif saja namun dengan adanya rasa tidak percaya diri itulah yang akan membuat seseorang menjadi aware dan berusaha untuk menjadi lebih baik dari keadaannya yang sekarang.
Berdasarkan hal tersebut, menurut perspektif islam apakah rasa insecure itu tetap menjadi sesuatu hal yang seharusnya dihindari?
Baik kak, terimakasih atas tanggapannya dalam tulisan ini 🙂 dalam Islam, jika insecure itu sendiri dampaknya membuat kita lebih intropeksi diri dan memperbaiki apa yang kurang dalam diri kita tentulah menjadi hal yang bagus. seperti halnya dalam dalam QS Al-Hasyr : 18
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ١٨
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”
Dalam ayat tersebut disampaikan bahwa Allah menyuruh kita untuk memperhatikan apa yang telah kita perbuat.