f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
dunia keinginan

Klaim Pancasila dan Psikologi Terbalik

“Semoga Sumatera Barat menjadi provinsi yang memang mendukung negara Pancasila,” ujar Puan Maharani dalam salah satu acara PDI Perjuangan.

Ucapan tersebut menyiratkan ironi bagi sebuah negara yang mengaku berideologi Pancasila. Di satu sisi, sebagai ideologi, Pancasila merupakan sesuatu yang sakral dan fundamental. Pancasila, sebagaimana Soekarno nyatakan, adalah weltanschauung atau pandangan dunia bagi negara dan masyarakat Indonesia.

Pancasila merupakan konsep abstrak yang dijadikan sebagai bintang penuntun kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, sejak awal kemunculannya hingga masa sekarang ini, Pancasila tidak lepas dari usaha-usaha kontraproduktif untuk menjadikannya sebagai alat politik semata.

Dalam pernyataan Puan, Pancasila menjadi begitu politis. Selain karena diucapkan dalam momen pengumuman pasangan bakal calon kepala daerah, pernyataan itu juga muncul sebagai reaksi kekalahan berturut-turut PDIP di tanah Minangkabau.

Celakanya, ujaran semacam itu bisa seketika menjadi bumerang bagi pengucapnya. Maksud hati ingin menarik simpati justru akhirnya memantik antipati.

Mengidentifikasi Psikologi Terbalik dari Pengucapan

Sepintas, kalimat Puan memang dimaksudkan sebagai sebuah ajakan kepada masyarakat Sumbar untuk mendukung negara Pancasila (tentu versi dirinya sendiri), bukan kebalikannya.

Namun, retorika yang ia lontarkan justru bisa memicu dampak negatif tersendiri. Efek buruk yang ditimbulkan dapat muncul dari suatu fenomena yang disebut sebagai psikologi terbalik atau reverse psychology.

Secara sederhana, psikologi terbalik dapat terjadi ketika seseorang berusaha mempengaruhi lawan bicaranya untuk melakukan sesuatu dengan mengatakan yang sebaliknya. Misalnya, ketika masih kecil dan kerap pulang terlalu sore setelah bermain, orang tua saya biasanya berujar, “Main terus aja, ngga usah pulang sekalian”.

Apakah saat itu orang tua saya bersungguh-sungguh menyuruh anaknya untuk terus bermain dan tidak pulang ke rumah? Tentu tidak. Orang tua saya tetap ingin anaknya pulang dan berhenti bermain.

Baca Juga  Transformasi Peran Wanita di Masa Depan: Inspirasi dari Kartini

Hanya saja, mereka menggunakan psikologi terbalik untuk memberikan kesan yang lebih mendalam terhadap pesan yang hendak disampaikan. Cara kerja psikologi terbalik sebenarnya cukup simpel.

Prinsip dasar pikiran manusia biasanya sangat sulit menerima perintah bernuansa negatif seperti “Jangan”, “Dilarang”, dan sejenisnya. Selain itu, manusia juga sering memiliki hasrat untuk mengulik motif tersembunyi di balik perkataan lawan bicaranya.

Oleh karenanya, terkadang manusia sulit bereaksi terhadap perintah langsung. Ketika diberi perintah, dalam sekian detik, biasanya kita akan curiga pada lawan bicara kita. Dan alih-alih melakukan perintahnya, tak jarang kita justru melakukan yang kebalikannya.

Inilah sebabnya pada beberapa kasus, orang yang dilarang melakukan sesuatu justru terpancing untuk melakukannya. Dalam sebuah studi yang dilakukan akademisi Universitas London, James Erskine, sekelompok orang yang sedang menjalani diet justru semakin banyak mengonsumsi coklat ketika mereka diminta untuk berhenti mengonsumsinya.

Simulasi paling mudah terkait fenomena ini adalah saat saya meminta Anda untuk tidak memikirkan gajah, maka Anda justru akan sangat terpancing untuk memikirkannya. Dengan demikian, perintah-perintah langsung tak jarang justru menimbulkan efek yang tidak diinginkan.

Psikologi Terbalik dalam Narasi Pancasila

Seperti yang jamak diketahui, politikus dan pejabat negara seringkali melontarkan pernyataan kontroversial. Yang masih hangat tentu pernyataan Puan seputar Sumbar dan Pancasila.

Selain itu, dalam waktu yang berdekatan, sebelumnya Menteri Agama Fachrul Razi juga memberikan pernyataan seputar kaitan antara good looking dan radikalisme. Sejak awal, Fachrul Razi memang terkesan hendak mengarahkan kebijakan-kebijakannya untuk menyelesaikan persoalan radikalisme.

Namun, sejak awal menjabatnya juga, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan justru akhirnya memancing kontroversi yang tidak perlu. “Hobi” politisi dan pejabat mengeluarkan pernyataan nyeleneh semacam itu justru memicu fenomena psikologi terbalik.

Baca Juga  Ada Pancasila di Antara Kita

Masyarakat justru akhirnya tidak dapat mencerna pesan yang hendak disampaikan. Apakah dalam pikiran Puan, masyarakat Sumbar tidak mendukung negara Pancasila? Sehingga perlu seru-seruan tertentu untuk mendukungnya?

Alhasil, masyarakat di Sumatera Barat menganggap itu sebagai hal yang tidak patut diucapkan oleh seorang pejabat dan politisi sekaligus. Jika ditelaah, makna yang timbul adalah PDI Perjuangan menganggap bahwa hanya partainya saja yang paling pancasilais atau paling nasionalis.

Kesan selanjutnya, masyarakat Sumbar yang selama ini memang kental dengan nuansa keislaman seolah berada di pihak yang berseberangan dengan pihak nasionalis. Akibatnya, timbul pertentangan yang dapat merusak keharmonisan berbangsa dan bernegara. Padahal, banyak tokoh dari Sumbar yang memiliki jiwa nasionalis yang tak perlu diragukan lagi. Sebut saja sebagai contoh Tan Malaka, Sutan Sjahrir, dan Buya Hamka. Walaupun keduanya memiliki latar pemikiran yang berbeda, tapi keduanya punya komitmen yang kuat terhadap kemerdekaan tanah air.

Dengan demikian, narasi nasionalis tidak islami dan islamis anti nasionalisme adalah narasi yang bukan hanya kontraproduktif, tetapi juga mengancam kebhinekaan. Situasi ini memiliki kemiripan dengan polarisasi tajam yang sempat terjadi pada Pilkada DKI 2017 yang akhirnya menimbulkan dampak negatif yang tidak sedikit.

Psikologi Terbalik Politisi

Pada kenyataannya, psikologi terbalik memang dapat terjadi dalam dunia politik. Dalam buku 59 Seconds karya Richard Wiseman, seorang ahli psikologi dari Amerika, dinyatakan bahwa ketika banyak orang dianjurkan untuk tidak memilih pemimpin yang bodoh, mereka justru melakukan sebaliknya.

Sebagai anekdot, Wiseman menjadikan terpilihnya George W. Bush sebagai contoh psikologi terbalik itu. Oleh karenanya, pernyataan-pernyataan kontroversial harus sebanyak mungkin dihindari oleh politikus dan pemangku kebijakan.

Sebabnya ialah apabila efek psikologi terbalik betul-betul terjadi di masyarakat, maka omongan-omongan seperti itu tidak akan pernah berguna. Masyarakat akhirnya semakin menghindar dan si pengucap tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari omongan semacam itu.

Baca Juga  Pendidikan Seks: Antara Kebutuhan dan Permasalahannya

Terlebih lagi, retorika sepintas semacam itu biasanya mengandung tafsir yang amat sempit atas istilah-istilah yang digunakan oleh pengucapnya. Dalam ucapan Puan, tidak memilih PDI Perjuangan berarti tidak mendukung negara Pancasila.

Jika demikian halnya, efek psikologi terbalik mestinya dapat juga dijadikan sebagai salah satu “seleksi” bagi ucapan-ucapan yang akan keluar dari lisan politikus maupun para pemangku kepentingan.

Bagikan
Post a Comment