Siti Baroroh, Gelar Profesor, dan Puncak Emansipasi
Indonesia memiliki banyak tokoh perempuan tangguh, selain R.A Kartini yang disebut sebagai emansipator pendidikan, ada sosok lain yang menyambung estafet itu dengan sempurna, ialah Siti Baroroh Baried. Beliau tercatat sebagai perempuan pertama yang mendapatkan gelar Guru Besar atau Profesor, bahkan pada usia yang belum genap 40 tahun.
Dalam dunia pendidikan, gelar Profesor adalah pangkat tertinggi dalam hirarki akademik, dan itu telah berhasil diraih oleh seorang perempuan. Tentu ini suatu pencapaian yang luar biasa, sekaligus kabar baik tentang upaya membangun kesetaraan gender.
Gelar itu didapat Siti Baroroh tahun 1964 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada bidang keahlian sastra Arab. Gelar itu menunjukkan jika perjuangan emansipasi terus bertumbuh, sehingga baru 19 tahun Indonesia merdeka, sudah melahirkan seorang Guru Besar Perempuan.
Dukungan Keluarga dan Lingkungan
Lantas siapa Siti Baroroh Baried? Beliau adalah aktivis Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah. Lahir di Kauman, Yogyakarta 23 Mei 1923. Siti Baroroh masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Nyi Siti Walidah dari ayahnya, H. Tamim Bin Djafar.
Nyi Walidah adalah Istri KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah yang juga dikenal sebagai aktivis perempuan, pelopor pendidikan anak usia dini.
Sejak SD hingga MULO, Siti Baroroh menempuh pendidikannya di lembaga Muhammadiyah. Melanjutkan ke UGM dan Cairo, Mesir. Lalu menjadi dosen dan pernah mejabat sebagai Dekan Fakultas Sastra UGM.
Secara pribadi, Siti Baroroh terkenal gigih dalam menuntut ilmu, bahkan itu jadi motto hidupnya. Meskipun, stigma bahwa perempuan hanya konco wingking, tempatnya di dapur dan kamar tidur, masih cukup kuat di masyarakat kala itu.
Namun, keluarga dan lingkungannya sangat mendukung agar perempuan bisa berkembang, terlebih ia merupakan aktivis gerakan perempuan. Aisyiyah terkenal sebagai gerakan perempuan yang sangat maju pada zamannya.
Iklim kondusif itulah yang akhirnya mempermudah langkah Siti Baroroh Baried mengepakkan sayapnya dalam dunia pendidikan, hingga meraih gelar guru besar.
Puncak Emansipasi
Diraihnya gelar Profesor merupakan puncak emansipasi perempuan dalam bidang pendidikan, yang terus diperjuangkan sejak era Kartini. Dengan raihan gelar tersebut, Siti Baroroh memiliki peran strategis dalam kehidupan sosial dan politik.
Bersumber dari situs Aisyiyah.or.id, Siti Baroroh berjasa besar dalam membangun jaringan internasional untuk mengembangkan program pembedayaan perempuan di tanah air.
Gerakan Aisyiyah hingga saat ini juga concern pada isu perempuan, terutama yang berkaitan dengan pendidikan dan kesehatan. Peran strategis Siti Baroroh salah satunya melalui bidang hubungan luar negeri PP Aisyiyah.
Inspirasi dan Teladan Perempuan Indonesia
Siti Baroroh menikah dengan dokter spesialis bedah RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, dr. Baried Ishom. Sekalipun dikenal secara luas sebagai akademisi sekaligus aktivis perempuan, beliau tetap menjalani perannya sebagai istri dan seorang Ibu.
Dalam konteks pendidikan, figur Siti Baroroh adalah inspirasi sekaligus teladan utama bagi para perempuan di Indonesia. Kegigihannya dalam menuntut ilmu, serta peran sosialnya dalam memajukan perempuan tampak terlihat lewat aktivitasnya di Aisyiyah.
Siti Baroroh meruntuhkan mitos bahwa perempuan hanya berperan di dapur, namun di saat bersamaan juga tidak melepaskan perannya sebagai Ibu rumah tangga (IRT).
Sosoknya menjadi sintesa atas perdebatan apakah perempuan harus berkarir atau hanya menjadi IRT? Juga menjembatani sengkarut perselisihan tentang isu kesetaraan, feminisme dan agama. Faktanya, semua bisa berjalan beriringan.
Prof. Dr. Hj. Siti Baroroh Baried adalah perempuan legendaris, emansipator, teladan kesetaraan, sekaligus adalah aktivis perempuan yang lahir dari rahim gerakan Islam. []
*Koordinator Komunitas Laki-laki Peduli Perempuan dan Anak (KLP2A), Tinggal di Blitar, Jawa Timur.
Koordinator Komunitas Laki-laki Peduli Perempuan dan Anak (KLP2A), Tinggal di Blitar, Jawa Timur.
