f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kamus

Hari Puisi Nasional: Mari Mengenal (Lagi) Para Pujangga Kita

Oleh: Achmad Santoso*

”Menjelang usia 27 tahun, ayah satu putri ini terserang sejumlah penyakit. Dia meninggal di CBZ (kini Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo/RSCM) pada 28 April 1949.”

Ya, lelaki itu tak lain tak bukan adalah Chairil Anwar. Seorang pujangga besar yang sayangnya tidak berumur panjang, hanya 27 tahun, yang bagi kebanyakan orang justru menjadi usia-usia emas untuk produktif berkarya.

Hari ini, 71 tahun berlalu, sekali lagi, kita memperingati Hari Puisi Nasional untuk kali kesekian.

Untuk kali kesekian pula, penahbisan 28 April sebagai Hari Puisi Nasional tetap dan terus menuai pro-kontra.

Yang pro tentu saja mengatakan bahwa 28 April sebagai penetapan Hari Puisi Nasional merupakan balasan yang setimpal atas kerja keras Chairil Anwar dalam meneroka peradaban kepenyairan Indonesia. Termasuk dalam golongan ini adalah H.B. Jassin dan orang-orang yang terhimpun dalam Manifes Kebudayaan.

Yang kontra, apa lagi kalau bukan, menganggap penganut eksistensialisme tersebut adalah penjiplak dan pengekor Angkatan ’80 Belanda. Seteru Manifes Kebudayaan, Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), termasuk berada di pihak kontra.

Biar begitu, sajak-sajak Chairil Anwar telah menancap erat ke alam pikiran generasi milenial semacam saya. Yang paling fenomenal tentu Aku. Ini adalah sebuah puisi berbahasa Indonesia tahun 1943 karya Chairil Anwar yang sangat masyhur dan juga salah satu puisi terkemuka dari Angkatan ’45 atau Angkatan Kemerdekaan.

Puisi ini menggambarkan alam individualistis dan vitalitasnya seorang penyair.

Puisi lainnya yang kerap diajarkan ketika sekolah dulu (SD, SMP, SMA) adalah Doa, sebuah puisi bernuansa religi yang mengandung diksi-diksi berperasaan yang ragu, bimbang, dan lemah.

Bertolak belakang dengan Aku yang menandakan eksistensi diri, sajak-sajak dalam Doa justru menggambarkan krisis kepercayaan diri dan keimanan yang rapuh. Lantas si tokoh sadar dan ingin kembali: Di pintu-Mu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling.

Para Pujangga dan Magnum Opus-nya

Baca Juga  Di Barat ada Romeo-Julliet, di Islam ada Zainab-Abu Al-Ash

Chairil Anwar adalah tonggak awal mula puisi tanah air menggeliat dan mulai diperhitungkan. Bersamanya juga muncul sosok Amir Hamzah. Baru setelah era Chairil lahir penyair kondang dan kawakan macam W.S. Rendra (1935–2009), Wiji Thukul (1963–1998), Soetardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, Zawawi Imron, hingga yang terbaru kaliber Joko Pinurbo serta Aan Mansyur.

Sebagaimana karya sastra lainnya, kelahiran sebuah puisi juga punya latar belakang yang menyertai. Chairil Anwar mengarungi alam puisi di seputar masa penjajahan Indonesia, lalu wafat dua tahun pasca-Indonesia merdeka.

Maka, tak heran kalau puisi-puisinya kerap berkaitan dengan peristiwa itu. Diponegoro, Krawang-Bekasi, Persetujuan dengan Bung Karno, dan Kepada Kawan sedikit contohnya. Dari judulnya saja, sudah tergambar bahwa sajak-sajak itu lahir dengan latar belakang kemerdekaan.

W.S. Rendra setali tiga uang. Bisa dibilang Si Burung Merak jadi antitesis era Orde Baru. Maka, sajak-sajaknya, yang umumnya satire, sering mengkritik pola pemerintahan Orde Baru, terutama perihal pembangunan yang mengalpakan kemanusiaan.

Sajak Sebatang Lisong, Sajak Seonggok Jagung, Sajak Pertemuan Mahasiswa, Sajak Anak Muda, dan Aku Tulis Pamflet Ini untuk mengambil sebagian contoh saja. Sajak Sebatang Lisong, misalnya, kerap dipanggungkan karena begitu kuat dan dalam maknanya.

Sajak Seonggok Jagung malah berisi kritik terhadap dunia pendidikan yang relevan hingga kini: bahwa seseorang belajar tinggi-tinggi, tapi gagap menghadapi persoalan-persoalan kehidupan lantaran sekadar belajar teori-teori.

Wiji Thukul malah lebih keras. Pada puisi Peringatan yang fenomenal itu, begitu berani dan benderangnya cara Wiji mengkritik rezim. Gaya puisi pengarang yang hingga kini kematiannya masih jadi perdebatan itu memang tanpa tedeng aling-aling: lugas, keras, dan langsung ke sasaran. Mari sedikit mengingat dan merenungi puisi ini, yang barangkali masih dan terus relevan hingga kini, terutama bagi aktivis pergerakan.

Baca Juga  Bhasha Mukherjee dan Kecantikannya

Jika rakyat pergi ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat bersembunyi dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

Soetardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, Zawawi Imron, hingga Joko Pinurbo juga punya karya hebat yang jadi magnum opus-nya. Masing-masing tentu punya gaya kepenyairan sendiri. Soetardji sang presiden penyair Indonesia menganggap kata-kata adalah mantra. Maka menulis puisi, katanya, ialah membebaskan kata-kata.

Sapardi terkenal dengan sajaknya yang mengambil alam sebagai pelajaran hidup. Coba renungi Hatiku Selembar Daun. Juga yang sangat fenomenal: Hujan Bulan Juni.

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya 
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

Ada pesan mendasar yang ingin disampaikan pengarang lewat ”tokoh utama” hujan. Seseorang haruslah dapat mengendalikan emosi diri sebaik-baiknya. Jika ada keragu-raguan dalam melangkah, urungkanlah. Jika kurang enak hati dengan apa yang akan dilakukan, batalkanlah. Keragu-raguan bakal membuahkan hasil yang kurang maksimal. Pelajaran dipetik dari kejadian alam.

Zawawi Imron terkenal dengan kata-katanya yang romantis, seperti halnya Sapardi. Abah Zawawi juga sering bikin puisi yang menandakan kecintaan pada tempat tinggalnya yang tak lain adalah Indonesia. Coba tengok kumpulan puisi Refrein di Sudut Dam. Puisi yang, sekali lagi, justru menegaskan sisi keindonesiaan Abah Zawawi, meskipun sebagian besar puisinya berlatar negeri orang. Seperti judul dalam buku kumpulan puisi ini, Refrein di Sudut Dam, yang merujuk ke Belanda.

Baca Juga  Rohana Kudus Sang Pelopor Renaisans Kaum Perempuan di Minangkabau (Part 2)

Joko Pinurbo? Inilah penyair paling digandrungi era kiwari (di samping Aan Mansyur) karena sajak-sajaknya teramat indah. Selamat Menunaikan Ibadah Puisi salah satu karya besarnya.

Penyair terkenal Yunani Horatius bilang, sebuah sastra dianggap bagus kalau memenuhi unsur dulce at utile: menghibur dan mendidik. Puisi pun minimal mesti memenuhi dua unsur tersebut jika ingin dikatakan bagus. Mendidik berarti menghadirkan nilai dan hikmah. Sedangkan menghibur, sederhananya, mampu membuat orang yang murung jadi semringrah, misalnya. Akan tetapi, Rendra dan Wiji Thukul berpandangan lebih jauh bahwa sajak dalam puisi harus menggerakkan, seperti Sutardji yang bilang bahwa kata-kata mesti hidup dan berdiri sendiri. Begitulah seharusnya karya puisi. Baik yang bergenre satire seperti Rendra, tanpa tedeng aling-aling sebagaimana Wiji Thukul, maupun romantis milik Sapardi dan Zawawi Imron, semua punya satu maksud yang sama: menggerakkan!

*Penulis adalah Editor Jawa Pos, Pegiat JIMM

Bagikan
Post a Comment