Nyai Khairiyah Hasyim: ‘Sang Kiai Putri’
Oleh: Revoluna Zyde Khaidir*
Meskipun ada fakta dan pandangan patriarki dalam Islam yang memosisikan perempuan sebagai kelompok kedua yang lemah dibandingkan laki-laki, bukan berarti dalam fakta sejarah Islam di Indonesia tidak ada perempuan yang membela kaumnya. Dalam dua organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU, bertebaran para advokat perempuan yang gigih membela kaumnya dari wacana dan praktek yang misoginis.
Di Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia, para ulama dan advokat perempuan banyak sekali. Di antaranya, Nyai Ahmad Dahlan (istri pendiri Muhammadiyah), Siti Bariyah, dan lain-lain. Sementara itu, di NU sebagai organisasi Islam tradisionalis terbesar di Indonesia ada Nyai Khairiyah Hasyim yang akan dibahas dalam tulisan ini.
Penulisan sejarah tentang perempuan hebat, yang bahkan mampu bersaing dengan laki-laki dalam pentas keilmuan, gerakan, dan aktifitas sosial, memang jarang dilakukan, kecuali hanya dalam tulisan-tulisan kecil saja. Oleh karena itu, khalayak terkadang masih asing dengan sosoknya.
Dalam gerakan pencerahan bagi kaum perempuan, misalnya, nama Nyai Khairiyah Hasyim (1906-1983), memang terdengar asing. Tak banyak yang tahu tentang perjalanan hidupnya. Padahal, kisah hidupnya dalam memperjuangkan hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan tak kalah inspiratif dengan kisah hidup R.A. Kartini, penulis surat yang kemudian dikumpulkan dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.
Mengutip buku berjudul al-Makalah al-Arabiyah al-Su’udiyah al-Yaum yang diterbitkan oleh Departemen Penerangan Pemerintah Saudi Arabia, disebutkan bahwa Nyai Khairiyah Hasyim merupakan pejuang perempuan dengan karakter sangat kuat dan mau menciptakan perubahan pada sesuatu yang semula tabu.
Sifat kuat dan beraninya untuk tampil berbeda terlihat ketika ia melakukan pembaruan di bidang pendidikan bagi kaum perempuan. Dia menginisiasi Madrasah Banat (sekolah khusus putri) untuk kali pertamanya di Makkah. Karena itulah, ia kemudian dijuluki sebagai Kartini-nya Makkah.
Di Bawah Bimbingan Sang Ayah
Zaman dahulu, tak semua orang tua memiliki pikiran terbuka tentang wajibnya pendidikan bagi kaum perempuan. Hal tersebut masih dianggap tabu pada saat itu. Nyai Khairiyah Hasyim merupakan salah satu anak yang beruntung. Dia mendapatkan bimbingan langsung dari ayahnya, Hadrat al-Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama (NU).
Caranya menuntut ilmu berbeda dengan saudara laki-lakinya. Nyai Khairiyah tidak diperbolehkan menuntut ilmu di luar Pesantren Tebuireng, tidak pula mengikuti acara halaqah yang diadakan di aula pesantren ataupun kediaman kiai. Meskipun begitu, ia tetap tekun belajar kepada ayahnya tentang dasar-dasar agama Islam, seperti membaca al-Qur’an dan mengkaji kitab turats (kitab kuning).
Pada 1919, menginjak usianya yang ketiga belas, Nyai Khairiyah dinikahkan oleh ayahnya dengan salah satu santri senior yang terkenal dengan kealimannya. Ia adalah KH. Ma’shum Ali. Selang beberapa tahun kemudian, ayahnya memerintahkan agar Nyai Khairiyah dan suaminya mendirikan dan mengelola pesantren di daerah Seblak. Dipilih daerah Seblak karena pada saat itu Seblak dikenal sebagai area hitam. Penduduknya masih jauh dari tuntunan syari’at Islam.
‘Sang Kiai Putri’
Takdir berkata lain, suaminya, KH. Ma’shum Ali, mangkat menghadap Sang Pencipta karena sakit paru-paru yang dideritanya sudah cukup lama. Hal tersebut membuat Nyai Khairiyah harus memimpin Pesantren Seblak—pesantren yang ia dirikan dan kelola bersama suaminya—sendirian pada usia 27 tahun. Penguasaannya akan kitab klasik tak boleh diremehkan. Oleh K.H. Yusuf Hasyim, adiknya, ia diberi gelar ‘Sang Kiai Putri’.
Tak berapa lama semenjak kepergian suaminya, kabar keinginan untuk melamar Nyai Khairiyah datang dari keluarga Syaikh Muhaimin al-Lasemi. Kabar tersebut tentunya disambut dengan penuh suka cita. Atas seizin ayahnya, Nyai Khairiyah dibawa pergi ke Makkah untuk menemani dakwah suaminya yang merupakan pengajar di Haramain. Mau tak mau, Nyai Khairiyah harus menyesuaikan diri dengan lingkungan suaminya yang penuh dengan kajian keilmuan.
Madrasah Banat
Salah satu cara yang dilakukan oleh masyarakat Hindia Belanda (baca Indonesia) yang menunaikan ibadah haji dan ingin memanfaatkan kesempatan yang datang sekali seumur hidup untuk memperdalam ilmu agama adalah dengan menuntut ilmu di Madrasah Darul Ulum. Madrasah ini kemudian memutuskan untuk membuka kelas untuk perempuan yang kemudian disebut dengan Madrasah Banat.
Bukan hanya sebagai tempat belajar agama bagi penduduk Hindia Belanda (baca Indonesia), keadaan banyak penduduk perempuan di Mekkah yang buta huruf merupakan latar belakang didirikannya Madrasah Banat ini. Sebab, sama halnya seperti di Indonesia, pandangan bahwa perempuan harus belajar masih dianggap tabu. Pada waktu itu, hanya perempuan yang berasal dari kalangan elite yang boleh mengenyam pendidikan. Fasilitas pendidikan untuk perempuan di Mekkah pun belum ada. Tak heran jika baca, tulis, serta berhitung sederhana mereka mengalami kesulitan.
Di sinilah peran Nyai Khairiyah dimulai. Nyai Khairiyah adalah inisiator sekaligus salah seorang pengajar di Madrasah Banat, sekolah putri pertama di Saudi Arabia. Inisiasi pendirian Madrasah Banat terinspirasi dengan model pendidikan yang ada di Pesantren Jombang, sekolah yang didirikan karena perannya juga.
Usulan tentang pendirian Madrasah Banat langsung disampaikan kepada Mudir ‘Aam Darul Ulum. Jabatan tersebut tengah dipegang oleh suaminya, Syaikh Muhaimin. Setelah itu, diadakan rapat dengan hasil berupa persetujuan atas pendirian Madrasah Banat.
Sepeninggalan sang suami pada tahun 1956, Nyai Khairiyah diminta Presiden Soekarno untuk kembali ke Indonesia pada tahun 1957 sebab bangsanya masih sangat membutuhkan sumbangsih keilmuannya. Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, Nyai Khairiyah kembali ke Indonesia dan menghabiskan sisa hidupnya untuk mengurus Pesantren Seblak. Sementara itu, Madrasah Banat hasil gagasan Nyai Khairiyah dan suaminya kemudian dilanjutkan oleh Syaikh Yasin al-Fadani.
Kembali Berkiprah di Indonesia
Nyai Khairiyah membawa perubahan besar saat memimpin Pesantren Seblak untuk kedua kalinya. Penyempurnaan manajemen dan revitalisasi organisasi santri yang Nyai Khairiyah lakukan sangat berpengaruh terhadap perkembangan Pesantren Seblak. Tak lupa, sikap seperti disiplin senantiasa ia terapkan dalam upaya menciptakan kader-kader Islam yang tangguh yang siap berjihad di jalan Allah Swt.
Jasanya dalam pendidikan tak melulu dalam lingkup pesantren. Majelis ta’lim atau kelompok pengajian juga ia dirikan untuk mengenalkan Islam kepada jama’ahnya yang meyoritas perempuan. Melalui pendirian majelis ta’lim inilah ia entaskan kaumnya dari kebodohan. Kiprahnya yang banyak ini sungguh bernilai sangat luar biasa sebagai upaya dalam pengembangan pendidikan khususnya untuk perempuan.
Dalam kehidupan yang sedang kita jalani sekarang, tentunya sikap dan aktifitas Nyai Khairiyah yang berani mendobrak kebiasaan lama menjadi sesuatu yang baru adalah inspirasi yang hebat. Dengan modal tekad yang kuat, keberanian, tanggung jawab, keteguhan serta pemikiran yang cemerlang dalam membuat suatu konsep dapat kita terapkan untuk memajukan agama dan bangsa. Dalam konteks kita sebagai santri, tentu pemikiran dan sepak-terjangnya merupakan teladan bagi kita untuk berpikir jauh ke depan dan bermanfaat dalam peran kita di masyarakat di masa mendatang. Wallaahu a’lam.***
*) Revoluna Zyde Khaidir : Sekretaris Bidang Pers dan Jurnalistik Badan Eksekutif Siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah (BESMA), 2019/2020; Santri Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan

Aditagustin
Good job