f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
PEREMPUAN, MULTITASKING, DAN PHYSICAL DISTANCING

Perempuan, Multitasking, dan Physical Distancing

Oleh : Syahrul Al Farabi

Rahmania, pada masa pandemi Covid-19 ini, mungkin banyak yang mengira bahwa segala aturan dan kebijakan merupakan keputusan darurat yang tak masuk akal. Bagi generasi tua yang lahir tahun 1960an, kejadian ini membuat mereka shock dan diam kehabisan kata. Mereka yang biasanya merekam segala kejadian masa lalu dalam bentuk mimpi atau petuah-petuah bijak para leluhur untuk membaca masa depan, tak pernah memprediksi situasi gelap seperti saat sekarang ini. Rumah-rumah ibadah kosong, jalanan menjadi lengang, pembatasan untuk tetap di rumah, kematian setiap harinya, dan banyak keadaan tak menentu lainnya. Oleh sebab itu, physical distancing merupakan alternatif paling mungkin dan aman.

Perempuan adalah sosok yang paling berpengalaman perihal pembatasan fisik ini. Mereka, utamanya dalam diskursus agama yang cenderung konservatif, telah banyak mengalami pembatasan aktivitas sosial di luar rumah. Bermodal dalil agama dan motif dominasi para lelaki, pembatasan fisik hingga sosial ini menciptakan budaya patriarki yang seperti abadi. Mereka akhirnya jatuh pada pekerjaan teknis rumah(an) tangga, dari mengasuh anak hingga mengurus keperluan suami, mengurus isi rumah hingga membuat kopi. Bagi mereka, aktivitas sosial merupakan khianat pada sang kepala keluarga.

Para pejuang jender seperti Kalis dan Cania adalah yang paling berdarah – darah (di sosial media) menyuarakan hak-hak perempuan. Tapi di masa pandemi ini, tentu saja mereka harus berdamai dengan keadaan pembatasan physical ini. Tetap d irumah saja dan menjalankan peran sebagaimana perempuan yang telah lama terjebak pada budaya patriarkal (mungkin) harus dilakukan. Bukan berarti dengan keadaan ini secara otomatis memperkuat dalil ataupun motif untuk perempuan memang sepatutnya di   rumah saja, tetapi lebih dari itu, memikirkan tatanan dan budaya baru untuk manusia bekerja dari rumah jauh lebih progressive dan mendesak.

Baca Juga  Pendidikan John Dewey dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam

Dan perempuan adalah pelaku utama yang memenuhi kriteria ini. Mereka adalah, meminjam bahasa dalam wacana komputer, the real multitasking untuk urusan banyak detail pekerjaan. Dalam bahasa Hikmat Budiman, semacam laku yang mampu mengeksekusi dua atau lebih pekerjaan bersamaan sekaligus, tanpa peduli adakah masing-masing pekerjaan itu sejalan atau justru bertolak belakang satu sama lain.

Model multitasking telah lama dipraktekkan bersama, khususnya oleh perempuan. Dalam abad industri 4.0 ini misalnya, para ibu-ibu rumah tangga dengan sangat telaten menggunakan gedget mereka untuk urusan bisnis sambil mengurus rumah dan keluarga. Seorang teman, misalnya, mengaku bahwa sang istri bisa melakukan kerja- kerja dagang sambil menonton film dengan ditemani segelas dalgona dingin. Semua kadang hanya memerlukan jaringan internet untuk semua aktivitas di atas.

Hal serupa berkali- kali juga ditegaskan Kalis dalam setiap tulisannya bahwa perempuan adalah makhluk paling terlatih perihal pekerjaan multitasking ini. Mereka, misalnya, bisa menggambar alis sambil menggoreng tempe, menjemur cucian sambil ngomel ke anak yang lupa makan siang. Bahkan perempuan bisa kirim tenggat kerjaan sambil mengkhatamkan TV series sambil bolak-balik ke dapur menunggu sayur matang. Dengan demikian, physical distancing bukan merupakan hal baru bagi beberapa perempuan yang setiap harinya bekerja di rumah.

Bagaimana merespon Physical Distancing?

Kebijakan Physical Distancing yang sifatnya mendesak dalam keadaan darurat ini harusnya menjadi bahan pertimbangan dalam merekayasa dan menciptakan model kerja birokratis – administratif baru dalam semua aspek pekerjaan di masa depan. Konsep ‘ruang yang dilipat‘ oleh layar datar komputer yang pernah menjadi kritik Yasraf Amir Pilliang justru harus dipertimbangkan menjadi ruang alternatif kehidupan kerja ke depan. Covid 19, mungkin bisa dieja, seperti penyakit pada seorang bayi yang tiba-tiba demam, karena kaget mereka mampu melakukan hal- hal baru. Demikian juga situasi sekarang adalah tahap lanjut untuk manusia harus berdamai dengan ruang- ruang physical dan berpindah pada realitas virtual.

Baca Juga  Riffat Hassan dan Pembaharuan Metodologi Tafsir Al-Qur’an

Ungkapan John Walker tahun 1988 mungkin ada benarnya, “Reality Is Not Enough Any More”. Dan hal itu telah menemukan bentuk aktualnya dalam kehidupan Physical Distancing saat ini. Seperti sebuah pintu, kita (secara pelan-pelan) telah diajak masuk dalam realitas Cyberspace. Sebuah dunia lain, hyperrealitas, atau virtual reality. Mengutip Hikmat Budiman, kita telah hidup dalam lebenswelt atau dunia kehidupan, yakni sebuah wilayah total pengalaman yang dibatasi oleh lingkungan alamiah, objek – objek buatan manusia, peristiwa, dan individu – individu lain. Dan disinilah kita berada.

Berharap bahwa keadaan ini akan kembali seperti semula, sama saja berharap bahwa manusia harus kembali ke masa silam sebelum teknologi komputasi ditemukan. Dan itu saya kira adalah sebuah keterbelakangan. Melakukan penerimaan pada realitas pandemi ini harusnya menumbuhkan kesadaran pada kepeduliaan pada alam, sains dan teknologi yang ramah dimasa depan. Membangun ulang struktur kerja dan model-model aktivitas virtual harus menjadi langkah penting, tidak hanya pada masa physical distancing ini, tetapi juga dimasa depan nanti.

Wallaahu a’lam bisshawwaab

*) Syahrul, Alumni AIMEP 2018 dan Aktivis JIMM Sulsel

Bagikan
Post a Comment