f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Pakaian

Krisis Petani Muda: Petaniku Sayang, Petaniku Malang

Sudah menjadi rahasia umum jika nasib petani kita saat ini sangatlah miris. Sekalipun kita kenal bahwasanya negara yang sedang tidak baik-baik saja ini merupakan negara agraris yang lahan tanahnya terhampar luas. Namun krisis petani muda juga salah satu hal yang harus diperhatikan.

Pertanian yang merupakan salah satu sektor vital dalam menghadapi perkembangan populasi manusia di Indonesia. Tugas utamanya penyedia pangan serta lapangan pekerjaan memiliki masalah serius antara lain irigasi, benih, pupuk, alat mesin pertanian serta penyuluh lapangan.

Dapat diindikasikan bahwasannya pertanian hari ini sudah tidak menguntungkan lagi bagi petani. Selain sektor pertanian tidak menjanjikan dari segi pendapatan, secara status sosial masih dipandang rendah. Hal ini tampak dari generasi tua yang mulai enggan bertani. Begitu juga generasi muda yang mulai kehilangan gairah meneruskan usaha orang tuanya untuk menggarap lahan.

Target pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045 nampaknya akan menjadi mimpi belaka jika permasalahan regenerasi petani terus dibiarkan. Bisa jadi, justru di tahun itu Indonesia bahkan mengalami keterpurukan berupa krisis pangan. Indonesia akan menjadi Negara pengimpor beras yang menggantungkan ketahanan pangan ke Negara lain.

Tingkat Kesejahteraan Petani

Di Indonesia, dari segi luasan lahan yang dimiliki tercatat 87,63% atau 22,9 juta rumah tangga adalah petani yang memiliki kepemilikan lahan kurang dari 2 hektar. Sekitar 5 juta petani dilaporkan memiliki luasan lahan dibawah 0,5 hektar. Dengan kondisi seperti ini, petani tidak dapat memaksimalkan produksi dilahannya. Kemudian hal itu menjadi salah satu pemicu yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani.

Faktor lain yang menjadi pemicu regenerasi petani muda mandek adalah semakin berkurangnya lahan pertanian yang tergerus karena proses konversi menjadi pemukiman, tempat wisata, pusat perbelanjaan, perkantoran dan sebagainya.

Baca Juga  Membiasakan Pendidikan Toleransi Sejak Dini

Beberapa upaya yang dilakukan kementrian pertanian dalam hal menyelesaikan permasalahan tersebut adalah dengan pendampingan mahasiswa dalam upaya peningkatan produksi pangan. Kedua, Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP). Ketiga, pengembangan SMKPP dan transformasi STPP menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian.

Keempat, Balai Pelaksana Penyuluhan Pertanian dan Kehutanan (BP3K) atau Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) ditingkat kecamatan harus dapat turut serta menggalakkan generasi muda pedesaan terjun di dunia pertanian.

Bukan pesimis dengan upaya yang dilakukan pemerintah, namun persoalan yang dihadapi petani bukan sekedar faktor anomaly cuaca, sempitnya luas lahan garapan, serangan hama dan gagal panen. Tapi juga berkaitan dengan proses penentuan harga. Jangankan mendapat keuntungan, bahkan tidak sedikit petani tidak balik modal atau justru tekor. Biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh.

Tergeser Oleh Sektor Lain

Petani di Indonesia masih didominasi oleh generasi tua. Berdasar hasil survey LIPI hampir tidak ada anak petani yang ingin menjadi petani. Sekitar 4% pemuda usia 15-35 tahun berminat menjadi petani. Sisanya, sebagian besar tergiring industrialisasi. Lebih rumit lagi, Dari jumlah petani yang ada, sekitar 65% sudah berusia diatas 45 tahun. Artinya, jumlah petani yang berganti ke okupasi ke luar sektor pertanian lebih besar dibanding anak muda yang bersedia menekuni usaha pertanian.

Sayangnya, dalam konteks pembangunan, krisis petani mudakerap dipandang sebagai kemajuan. Semakin sedikit jumlah petani semakin efisien proses budidayanya. Menurut Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) perspektif seperti itulah yang menganggap hanya sektor industri yang bisa memajukan bangsa. Padahal dengan berkurangnya jumlah petani akan berimplikasi pada penurunan ketersediaan produk dalam negeri serta tergerusnya lapangan pekerjaan. Pasalnya, pertanian merupakan sector yang berkontribusi menyediakan 40% lapangan pekerjaan.

Baca Juga  Wanita Enggan Berumah Tangga, Bagaimana Islam Memandangnya?
Kampus Sebagai Basis Regenerasi Petani

Ironi krisis regenerasi petani muda sempat disinggung pada Sidang Terbuka Dies Natalis IPB Ke-54 oleh Presiden Joko Widodo. Sindiran yang dilemparkannya tak lepas dari kegelisahannya menatap pertanian Indonesia di masa depan. Jika kebanyakan lulusan perguruan tinggi berbasis ilmu pertanian di Indonesia (IPB) bekerja di perbankan maupun bidang lain non pertanian. Lantas siapakah yang akan menjadi petani?

Kampus diharapkan mampu menjadi lokomotif perubahan paradigma bahwa pertanian merupakan sector yang menjanjikan jika dikelola dengan benar dan memperhatikan kaidah agrobisnis yang tepat. Pertanian bukan hanya berkutat soal budidaya saja, tetapi dimulai dari proses manajemen pra tanam, budidaya hingga pascapanen. Dengan proses manajemen yang tepat akan menimbulkan daya tarik baru bagi generasi petani muda.

Kampus juga diharapkan mampu memberikan inovasi terbarukan dengan dikembangkannya riset-riset berkualitas untuk menghasilkan teknologi pertanian modern serta berkelanjutan yang dapat meningkatkan produktivitas serta nilai tambah sector agraris. Demikian pula pemerintah perlu memberikan dukungan untuk mendorong terciptanya riset untuk diaplikasikan ke petani langsung.

Paradigma Baru Generasi Millenial

Seringkali, persepsi bertani oleh anak-anak muda diidentikkan suatu pekerjaan yang menguras keringat, mencangkul di sawah , panas di bawah terik matahari dan melelahkan. Persepsi seperti inilah yang harus didekonstruksi dan merekonstruksinya agar anak muda memiliki penilaian baru terhadap usaha bertani.

Bagi generasi millennial, pertanian tidak melulu bercocok tanam di sawah. Berbagai usaha pertanian mulai dikembangkan mulai dari pertanian organik hingga usaha tani non  tanah seperti hydroponic dan aeroponic. Pertanian modern seperti inilah yang harus mulai diperkenalkan sebagai  gaya hidup baru petani muda. Utamanya sasaran anak-anak muda di pedesaan.

Pendek kata, krisis petani muda merupakan satu dari sekian permasalahan di sektor pertanian. Diperlukan adanya integrasi antara pemerintah, kampus, serta petani muda itu sendiri dalam hal mendekonstruksi serta merekonstruksi paradigm baru dalam hal bertani. Tanpa adanya integrasi antar ketiganya jangan harap ancaman regenerasi petani akan dapat diatasi. Bahkan tidak menutup kemungkinan Indonesia akan terperosok menjadi consumer country dalam memenuhi pangan penduduknya. Itulah seburuk–buruknya ironi.

Bagikan
Post a Comment