f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
media

Media Sebagai Pembangun Kesetaraan Gender

Gender dan Media

Media khususnya media massa memusatkan diri menjadi fokus dalam meningkatkan kesetaraan dan pembangunan perempuan. Media menjadi agen budaya yang memiliki andil besar terhadap apa yang terjadi di masyarakat. Hal yang berkaitan dengan media massa sebagai agen pembentuk budaya sejalan dengan apa yang disebut Douglas Kellner (Hariyanto,2009). Dia menyatakan bahwa tampilan audiovisual memiliki andil dalam penghubung serta penyatuan atas apa yang terjadi dalam masyarakat. Hal ini juga ikut andil dalam pembentukan opini, merangkai kehidupan sehari hari, perilaku sosial dan memberikan identitas pada seseorang dan juga membentuk konstruksi gender di masyarakat.

Media massa melalui tayangannya turut serta menjadikan perempuan dan laki-laki dalam sebuah konsep yang bias gender. Mereka juga telah melakukan representasi perempuan dan laki-laki dengan pelabelan. Tidak hanya telah menyebarkan ide ketimpangan dengan ideologi tertentu namun juga perlahan membangun paham patriarkis.

Lebih jauh, patriarki dapat diartikan sebagai sebuah struktur dengan istilah kebapakan dan didominasi oleh laki-laki. Pandangan patriarki berakibat pada perempuan. Sistem patriarki terbagi menjadi dua bentuk. Pertama, patriarki domestik yang menekankan pada pekerjaan domestik terhadap perempuan. Kedua, patriarki publik yang melabelkan laki-laki sebagai pekerja sektor publik dengan alasan sektor publik penuh dengan tantangan (Walby, 1998)

Budaya patriarki juga membentuk sistem kerja terutama representasi dari perempuan dalam tayangan yang ada di media massa berdasarkan sudut pandang laki-laki. Dalam praktiknya, tayangan di media massa harus memperlihatkan seksi dan cantiknya perempuan seolah yang melihat tayangan tersebut hanya laki-laki.

Media dan Permasalahan Gender

Konsekuensi media yang patriarkis tergambar dari pendapat para feminis bahwa media mengkonstruksi perempuan sebagai istri, penjaga rumah, ibu untuk pada pria dan mirisnya menjadi objek seksual untuk ditawarkan pada pria. Hal ini disebut juga dengan teori male gaze yang dikemukakan oleh Laura Mulvey (1989). Adanya sebuah kelegaan jika tayangan yang ada di televisi, baik iklan maupun tayangan lain menjadi perhatian dari laki-laki sebagai kelompok yang aktif. Perempuan sebagai pihak pasif menjadi sasaran seksual dan laki-laki yang melihat akan mendapat kepuasan tersendiri.

Baca Juga  Memandang LGBT dengan Dua Mata

Kemudian Julia T. Wood (Haryati,2012) mendapati ada tiga akibat dari representasi media massa terhadap gender, (1) Memupuk ideal gender yang tidak realistis tentang perempuan dan laki-laki. (2) Menguatkan untuk mempatologisasikan fungsi tubuh manusia yang normal (3) Bertindak sebagai penormalisasian maskulinitas dan feminitas.

Penggambaran citra dari perempuan dan laki-laki dengan permasalahan gender yang ada di media massa selalu menjadi perhatian dari aktivis perempuan terkhusus kelompok feminis. maupun pemerhati masalah gender di Indonesia. Oleh karenanya, berkaitan dengan ketidakadilan yang terbentuk akibat dari media, aktivis perempuan selalu melakukan perlawanan terhadap dominasi tersebut. Mereka melihat bias gender pada teks yang termuat di media massa (Arifin dalam Haryati, 2012) dengan melihat dari segi bahasa, sudut pandang berita, konteks, gambar, narasumber.

Penggambaran mengenai gender juga terdapat dalam film. Gender dalam film menjadi agen sosialisasi dengan pengharapan tumbuhnya kesadaran gender. Film juga menjadi salah satu sarana untuk memerangi ketidakadilan gender sebab dalam pembingkaian film tidak akan lepas dari sebuah representasi (Budiman,1999). Selain itu film juga dapat menjangkau segmentasi sosial.

***

Selain Film, ada pula iklan. Iklan secara sadar maupun tidak sadar juga menjadi salah satu sarana pengemas pesan dari gender. Media mengemas iklan dengan memasukkan unsur yang berkaitan dengan gender. Melalui iklan, mereka turut serta melanggengkan bias gender yang semakin lama semakin mengakar dalam mindset masyarakat. Penggambaran ini bisa berupa aktivitas-aktivitas yang dilakukan talent dalam iklan.

Kemudian, dunia maya melalui media baru juga turut menyebarkan gender dalam perkembangan konstruksinya. Media digital dan internet membangun representasi terhadap kehidupan manusia  yang juga turut melanggengkan dan menyebarkan isu gender.

Selanjutnya, Platform berita online sebagai salah satu sarana konstruksi gender di media juga memuat banyak berita terkait dengan kekerasan seksual. Pemberitaan pelecehan seksual dan baru-baru ini juga memberitakan kekerasan yang terjadi di Luwu, Sulawesi Selatan. Pemanfaatan portal berita online bisa menjadi sarana untuk dapat melihat bagaimana proses konstruksi gender yang dibangun melalui berita.

Baca Juga  Cegah Stunting: Peran Pendidikan Orang Tua dalam Pemenuhan Gizi Anak

Media sebagai Konstruktor Gender

Media yang bertindak sebagai konstruktor dari realitas tentu bisa mengambil andil dari semua isu terutama isu gender yang terjadi. Kasus perempuan yang menjadi komodifikasi di media sehingga menjadi tontonan yang hanya sebatas objek dalam tayangan media menjadi salah satu hal yang semestinya tidak terjadi lagi. Untuk menghindari hal tersebut yakni mencoba menerapkan Jurnalisme Sensitif gender.

Jurnalisme sensitif gender  sekiranya menjadi langkah jitu sebagai salah satu peran media dalam menghilangkan bias gender yang tersebar di masyarakat.  Menurut amatan penulis, beberapa platform seperti Magdalene, konde.co dan beberapa yang lain sebagai media alternatif yang intens dan fokus mengkaji mengenai gender. Media ini menjadi salah satu acuan yang baik sebagai contoh dalam melihat bagaimana komunikasi dan terutama tata bahasa yang sesuai di dalam konten berita. Tidak memuat hal yang bias gender dan mengkomodifikasi konten gender.

Selain itu dalam hal komunikasi terutama karya-karya jurnalistik perlu untuk menghindari victim blaming terhadap korban kekerasan gender, menyeimbangkan narasumber laki-laki dan perempuan untuk dapat melihat perspektif dari kedua belah gender dan bijak Ketika mendapatkan informasi.

Editor : Siti Robikah

Bagikan
Post a Comment