f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
poligami

Memahami Perselingkuhan

Pada suatu malam, sepasang suami istri tengah terlelap dalam tidurnya. Tiba-tiba si istri mengigau.

“Mas, bangun. Bangun, Mas. Suamiku pulang..”

Si suami yang masih setengah mengantuk itu pun kaget dan refleks melompat ke luar jendela. Haha. Saya lupa pernah membaca lelucon itu di mana. Tapi yang jelas saat itu saya terpingkal karena geli membayangkannya.

Astaghfirullah.. Kamu selingkuh? Kok bisa-bisanya sih kamu berbuat dosa? Tidak jarang kalimat-kalimat semacam itu terlontar dari lisan orang-orang yang merasa seolah dirinya sehelai kain putih tanpa noda.

Padahal andaikan masing-masing dari kita mau sedikit saja menyisir diri sendiri, barangkali kita akan tersipu setelah menyadari bahwa nyatanya kita semua adalah pendosa. Lalu bisa jadi untuk selanjutnya tak lagi bermudah-mudah menghakimi orang lain hanya karena dosa kita tak sama. Bahkan seseorang yang dengan congkaknya mengejek dan merendahkan orang lain karena suatu dosa, sudah hampir bisa dipastikan bahwa suatu saat nanti iapun akan diuji dengan mengamalkan dosa yang serupa.

*

Ada banyak hal sehingga memungkinkan seseorang berpaling dari pasangan halalnya. Perselingkuhan adalah tentang hilangnya kelekatan hati terhadap pasangan karena cenderung merasa ada kedekatan emosional yang lebih mendalam dengan yang lain.

Terlebih lagi seorang suami/istri. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk visual. Perselingkuhan bermula dari pandangan mata, lalu menimbulkan daya tarik yang berbeda-beda. Bahkan pada sebagian masyarakat beranggapan bahwa ketika seorang suami berselingkuh itu manusiawi. Sebab fitrahnya sebagai makhluk visual penyuka keindahan.

Tidak. Tentu saja saya tidak hendak memaklumi tindakan perselingkuhan. Saya tahu, perselingkuhan tidak boleh dibenarkan dengan alasan apa pun.

Tentu banyak alasan yang menjadi sebab pasangan berpaling hati. Bukan semata-mata sudah tak lagi cinta pada pasangannya. Kebanyakan dari mereka bahkan masih sangat menyayangi keluarganya. (Meskipun ada juga sebagian yang berselingkuh lantaran mahligai rumah tangganya bak neraka dunia). Namun alasan yang paling mendasar dari perselingkuhan adalah adanya dorongan dari dalam diri untuk mencari kepuasan emosional yang kadangkala tidak sepenuhnya bisa terpenuhi melalui pernikahannya. Bahkan sebagian ada yang memandang bahwa perselingkuhan itu hanyalah sekedar upaya untuk bersenang-senang saja. Iya, ada yang berselingkuh cuma untuk having fun aja kok.

Baca Juga  Kaum Toleran yang Dirindukan

Sebab ketika telah memutuskan untuk sepakat menikah, seringkali kita dituntut supaya bisa secepatnya memahami bahwa tak lagi memungkinkan untuk menjadi diri sendiri secara utuh. Terkadang mau nggak mau kita seakan dipaksakan harus bisa menjadi seseorang seperti yang diharapkan pasangan.

*

Pernikahan memang ibadah terpanjang dalam sejarah hidup kita. Walaupun tampaknya kita sudah cukup lama membersamai pasangan, namun nyatanya belum juga bisa mengenal pasangan secara utuh dengan sempurna. Selalu saja kita rasakan bahwa ada hal-hal yang sepertinya terlewat. Bahkan kekeliruan pun baru kita sadari sebagai sebuah kesalahan, tatkala telah telanjur terjadi.

Cukup banyak di antara kita yang menempuh cara memata-matai pasangan lantaran meragukan kesetiaannya. Misalnya, seorang istri merasa lebih tenang jika ponsel suami diletakkan begitu saja tanpa dipassword. Bahkan sebagian orang menganggap cara suami memberlakukan ponselnya itu sebagai indikator kesetiaan suami. Padahal ya belum tentu juga.

Mau diakui ataupun tidak, toh pada kenyataannya stalking ponsel pasangan itu, sepanjang prosesnya memang sangat melelahkan hati dan menyengsarakan jiwa. Seringkali bahkan bisa menjadi pemicu amarah mereka. Pernah ada kawan bercerita tentang dirinya yang sempat ketahuan saat sedang memeriksa ponsel suaminya. Tak ayal lagi, hal itu menyulut emosi si suami sebab merasa privasinya telah dilanggar. Dalam agama pun, tindakan tajassus atau memata-matai suami semacam itu juga tidak diperkenankan.

Meskipun ini juga tidak selalu berlaku, tetapi terkadang ada tempat dan waktunya di mana cinta bisa mengalahkan hukum. Sebab seringkali kesalahan yang kita lakukan itu justru lahir dari hati, karena begitu besarnya rasa cinta kita terhadap pasangan. Bukan semata-mata timbul karena adanya niat buruk atau keinginan untuk sengaja menyakiti.

Baca Juga  Menakar Ulang Keadilan: Lelaki, Perempuan, dan Arah Baru Pengelolaan SDM

*

Konon menurut riwayat, bahkan sayyidah Aisyah radhiyallahu anha pun pernah melakukan kesalahan yang disebabkan oleh besarnya rasa cinta beliau kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dikala suatu hari Rasulullah kedatangan tamu, sayyidah Aisyah sangat bahagia karena mendapat kehormatan untuk menjamunya. Namun bersamaan dengan itu, istri Rasul yang lain pun mengirimkan utusan dengan membawa hidangan lezat untuk menjamu tamu Rasul tadi.

Tentu saja hal itu sungguh mengusik hati serta memantik kecemburuan sayyidah Aisyah yang merasa bahwa ini adalah rumahnya dan tamu Rasul adalah tamunya. Jadi mengapa ada yang berani lancang menjamu tamu tanpa seizinnya. Seketika ditumpahkannya hidangan yang dibawa oleh utusan tadi. Kendati demikian, Rasul tidaklah marah dan bahkan kemudian beliau memunguti pecahan wadah hidangan tersebut. Begitulah akhlak Rasul, seakan itu menjadi sebuah isyarat bahwa janganlah bermudah marah dan tergesa menghukumi dia yang bersalah karena cinta.

Memang semestinya kita pun memiliki sudut pandang yang lebih luas dalam menanggapi issue perselingkuhan tanpa menggeneralisir kasusnya. Perselingkuhan bukan tidak mungkin bisa menjadi awal untuk membenahi ikatan perkawinan yang sebelumnya telah koyak, menjadi ikatan baru yang jauh lebih kuat. Sebab tidak sedikit dari pasangan yang mampu menyelesaikan problem perselingkuhan, tanpa diduga ternyata justru menjelma menjadi pribadi yang lebih dewasa dan matang.

Tabir perselingkuhan yang akhirnya tersingkap, seringkali memicu rasa takut kehilangan akan pasangan. Sehingga proses pemulihan pasca perselingkuhan bisa menjadi hal yang lebih memperkuat sebuah jalinan pernikahan. Masih ada sisi lain yang mungkin belum banyak terungkap, tentang mekarnya kembali benih-benih cinta dan intensitas hubungan yang lebih lekat antar pasangan setelah sebelumnya sempat merenggang.

Ya. Perselingkuhan bukanlah akhir segalanya. Karena pada kenyataannya, kesemuanya itu pasti sampai di satu titik di mana seorang laki-laki akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia perjuangkan. Dan perempuan pun akan memperoleh sesuai dengan apa yang telah ia perjuangkan pula.

Baca Juga  Jihad Narasi Covid-19

Editor: Ananul Nahari Hayunah

Bagikan
Post a Comment