f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
muslimah

Mendebat Identitas Muslimah

Di kehidupan sehari-hari, manusia dalam berperilaku ditentukan besar oleh informasi yang diperolehnya. Ya, informasi memengaruhi pembentukan jati diri manusia sebagai individu, dimulai dari paradigma, kebiasaan, perilaku, hingga penentuan sikap atas suatu persolan. Termasuk juga pada hal keyakinan (agama).

Apalagi, Indonesia dengan penduduk mayoritas beragama menjadikan isu agama terus menarik untuk didialogkan. Dari dekade ke dekade. Tak terkecuali isu perempuan yang beragama Islam, yang dalam hal ini akrab disapa sebagai muslimah.

Munculnya dialog bahkan perdebatan ini dipengaruhi oleh kondisi sosio-historis masyarakat Indonesia yang beragam, sehingga keyakinan masyarakat Indonesia pun terdapat banyak perbedaan. Namun, perbedaan sudut pandang dalam lingkup muslimah masih sebatas pada penggunaan jilbab, cadar, dan hijrah. Hal ini dibuktikan dengan maraknya akun media sosial yang menyajikan informasi dengan berbagai macam tujuan, ada yang bertujuan mensyiarkan kebaikan, ada juga yang mengunakannya untuk propaganda.

Biasanya, propaganda ini bertujuan politik dan ideologis. Alih-alih untuk meng-counter isu yang politik lebih besar, atau untuk mensyiarkan faham-faham baru dari kelompok-kelompok ideologis lainnya. Dan para muslimah didorong untuk reaktif atas persoalan tersebut, bukan pada persoalan hak-hak perempuan sebagaimana ajaran Islam. Misalnya hak kesetaraan dalam keluarga, hak perlindungan bagi anak perempuan, hak memperoleh kesempatan yang sama, dan lainnya.

Tentu tidak sedikit muslimah yang sudah melakukan upaya atas hak-hak perempuan sesuai Islam, namun juga masih banyak muslimah yang masih terjebak dalam perdebatan tekstual tersebut di atas. Atau, sekedar memandang heran muslimah yang lebih aktif di ranah publik.

Hari ini, bagi sebagian, status muslimah menjadi batasan dalam bergaul dan berteman dengan beragam karakter, namun bagi sebagiannya lagi memaknai muslimah secara berlebihan.

Misalnya eksklusifitas berteman, memilih berteman yang sesuai dengan prinsipnya saja, kalau bukan muslimah tidak mau berteman, kalau kerudungnya kurang lebar merasa tidak nyaman berteman.

Ada juga muslimah yang menginterpretasikan konsepsi ibadah dengan sebatas menyegerakan pernikahan, seperti fenomena kekinian, nikah muda yang seringkali menjadi materi menarik oleh pengemuka dalam mendoktrin jamaahnya. Padahal interpretasi ibadah banyak cara dan jalannya.

*

Konsepsi demikian terjadi di beberapa muslimah hari ini apabila tidak memiliki sikap tegas atas dirinya sebagai seorang muslimah. Lalu, bagaimana menjadi muslimah yang bisa bergaul namun juga tetap berada pada koridor prinsip Islam?

Pertama, mengenali dirinya. Mengetahui hakikat dirinya dengan merefleksikan dirinya, bertanya pada dirinya siapa kita? Tentu jawabannya manusia. Hakikat menjadi manusia sama artinya dengan mengetahui tugas dan fungsinya sebagai manusia. Kalau berbicara mengenai tugas manusia, tentu untuk menjadi khalifah di muka bumi. Memaknai khalifah bukan saja perihal pejabat di suatu kelompok, melainkan khalifah bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya hingga lingkungan di sekitarnya.

Di masing-masing aspek detail tugasnya bagaimana? Tentu yang demikian sudah dirincikan sebagaimana dalam pedomannya yaitu Al-Quran dan As-Sunah. Kemampuan yang dimiliki seorang muslimah yakni memahami pedoman dan pandangan keislaman dengan prinsip intergralistik, komperhensif, independen.

Kedua, akhlakul karimah. Pemaknaan akhlakul karimah diinterpretasikan secara utuh dan menyeluruh. Misalnya dalam hal perkataan dan perbuatan bisa dilakukan dengan menghormati orang yang lebih tua, menghargai orang lain, merawat silaturahmi, mencegah diri dari forum ghibah, membantu teman yang sedang kesulitan, memahami adab bermasyarakat, adab terhadap orangtua dan keluarga, serta adab sesuai profesionalitasnya dalam bekerja. Menghindari diri dari perbuatan yang tidak berkesusaian dengan prinsip Islam.

Contohnya pada konsepsi aurat. Menutup aurat sebagaimana ketentuan agama Islam, aurat tidak sekedar dimaknai sebagai hal-hal yang tidak boleh ditampakkan maupun hal hal yang boleh ditampakkan kepada perempuan mahram, bukan mahram pun laki-laki mahram juga bukan mahram, namun juga dengan menjaga pandangan dan kemaluan.

*

Ketiga, menyeimbangkan bacaan dengan gerakan. Membaca merupakan kegiatan merefleksikan diri untuk lebih membuka pikiran dan hati dari hal-hal yang tidak diketahui. Membaca juga sama halnya melatih diri untuk mengontrol emosi dari hal-hal yang tidak diketahui. Namun demikian, tidak hanya berhenti pada tahu setelah mencari tahu, tapi juga didukung oleh gerakan nyata misalnya saja menulis, mengorganisir, dan melakukan perbuatan dengan menyampaikan ke teman yang lainnya.

Membaca juga berdampak untuk meng-update diri dari ketidaktahuan dan ketertinggalan informasi. Juga meng-upgrade diri kearah nilai-nilai positif dan kebaikan

Keempat, membudayakan berinteraksi. Sebagai muslimah berinteraksi tidak saja dimaknai menyampaikan apa yang diperolehnya dari segala sumber informasi. Berinteraksi berarti mengintensifkan pergaulan dengan masyarakat sekitar. Dari hal-hal kecil misalnya berbicara dengan penjual warung makan, berbincang dengan tukang becak, hingga pekerja sol sepatu.

Interpretasi interaksi ini sebagai bentuk syukur atas apa yang menjadi kepemilikan kita saat ini dengan terus mengingat dan melihat kebawah, orang-orang di sekitar kita. Interaksi juga merupakan manifestasi ladang kebaikan, merilekskan pikiran, dan bermanfaat untuk merawat kesehatan.

Kelima, memiliki paradigma kebaharuan. Paradigma kebaharuan dimaknai dengan menciptakan sesuatu yang baru untuk kepentingan kebaikan yang lebih besar, menjadi muslimah bukan untuk mengikuti arus informasi tetapi juga menciptakan dan mensyiarkan informasi yang bersifat kebaikan dengan tidak berlebihan dan mengandung profokasi.

Artinya menjadi muslimah harus kuat secara pendirian, dan indepeden secara ke-prinsip-an.

Namun demikian, independensi juga tidak dimaknai sebagai sikap konservatif. Menjadi muslimah memiliki batasan-batasan sebagai kontrol diri untuk kebaikan dan kesehatan hati, tapi tidak bersikap membatasi diri atas lingkungannya.

*

Keenam, memiliki spirit optimisme, arus informasi yang terus berubah dan bersifat cepat ini memberikan dampak pada sebagian muslimah dengan tidak percaya pada segala sumber informasi dikarenakan sarat kepentingan. Sehingga menjadi muslimah tidak memiliki pandangan atau sikap ‘Bagaimana setelah ini’, ‘mau ngapain setelah ini’.

Menjadi muslimah tidak berhenti pada tatanan keresahan dan kegalauan karena ketidakpercayaan. Namun, menjadi muslimah berarti tidak abai terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan.

Ketujuh, selalu melibatkan Tuhan. Menjadi muslimah juga sama halnya menjadi pribadi yang dituntut untuk menentukan pilihan beserta tanggungjawab dan konsekuensinya, Jangan bersikap terlalu takut dan khawatir dalam membuat keputusan, apabila setiap pilihan dan langkahmu selalu mengkomunikasikannya pada Rabb, maka dalam setiap mengambil keputusan pun akan terasa tenang dan tentram. Melibatkan Tuhan sama halnya menjaga keseimbangan hati dan pikiran. Merawat hati untuk tetap sehat.

Bagikan
Post a Comment