Perempuan dalam Lingkaran Kekuasaan
Apa kesan Rahmania tentang kekuasaan ? Kekuasaan itu amanah mulia dari Tuhan untuk manusia. Ia bisa menjadi jalan untuk mewujudkan kesejahteraan, pemerataan, kemaslahatan dan keadilan bagi ummat manusia. Itu pesan yang kerap disuarakan para pengkhutbah di atas mimbar agama. Itu tema yang hangat diperbincangkan di ruang seminar dan di forum diskusi oleh para penuntut ilmu. Serba ideal, sesuai prinsip ajaran agama dan selaras dengan nilai budaya.
Slogan tentang kekuasaan di atas, kontras dengan sikap manusia ketika ingin meraihnya. Kekuasaan memang menggiurkan. Meskipun banyak sekali amanah Tuhan yang tidak kalah mulia. Namun, kekuasaan tetap istimewa. Ia telah menjadi objek perburuan dan pemicu konflik antar manusia, sejak berabad-abad silam. Serendah apapun levelnya, ia akan terus dikejar dan diperebutkan. Para pemburunya rela melakukan apa saja untuk meraihnya.
Bagi mereka yang sudah berhasil mendapatkanya, akan berusaha mati-matian untuk mempertahankannya. Ia tidak akan boleh lepas dari genggaman. Bahkan, kalau perlu, mereka harus rela berperang. Kekuasaan itu candu. Ia telah dipersepsi sebagai salah satu sumber kebahagiaan manusia. Untuk itu, ia harus terus terwariskan kepada anak, cucu, cicit hingga akhir jaman.
Kekuasaan dan Perempuan
Pada abad pertengahan, raja Ecbert dari Wessex, Inggris, adalah orang yang sangat menikmati kekuasaan. Untuk itu, ia rela untuk tidak pernah percaya dan berteman dengan siapapun selama hidupnya. Ia hanya mau bersekutu dengan orang yang ia nilai mampu memperluas kuasaanya. Bahkan Ecbert selalu menaruh curiga terhadap anak laki-laki tunggalnya sendiri yaitu pangeran Aethelwulf.
Untuk memastikan bahwa kelak ada keturunan yang akan mewarisi kekuasaanya, Ecbert menjodohkan pangeran Aethelwulf dengan Judith. Seorang putri jelita anak raja Aelle, Sussex, Inggris. Pernikahan yang lebih dilandasi oleh ambisi dan kepentingan pragmatis dua orang Raja yang ingin terus memperluas kekuasaan mereka. Meski Pangeran Aethelwulf dan Judith tidak pernah punya rasa cinta, mereka meski harus bersama.
Setelah Judith resmi menjadi istri pengeran, raja Ecbert tertarik oleh kecantikan menantunya. Hasratnya menggebu untuk memiliki tubuhnya. Ecbert selalu punya cara pintar untuk mewujudkan hasratnya. Untuk itu, raja selalu meminta sang putra (pangeran) untuk bertugas di luar istana dalam waktu lama. Ia harus memimpin operasi penaklukan yang sangat membahayakan jiwanya. Sementara itu, raja Ecbert menikmati anggur di Istana. Ia terus berharap agar anak lelakinya tidak kembali, agar bisa leluasa menjadikan Judith sebagai selirnya.
Ketika Judith menolak halus permintaan itu, raja Ecbert yang licik, selalu cerdik untuk menundukkanya. Judith pernah diarak di sebuah lapangan. Ia diancam akan menerima hukuman cambuk, karena dianggap telah mencoreng nama kerajaan. Ia dituduh memiliki hubungan khusus dengan Pendeta Athelastan. Menghadapi ancaman siksa, Judith menangis keras, sangat ketakutan dan memohon ampunan raja. Ketika petugas algojo hendak mengeksekusinya, raja Ecbert memberikan isyarat ampunan.
Itulah potret licik Ecbert sang penguasa, untuk menaklukkan mangsa. Hasrat raja akhirnya bisa terwujud. Tidak perlu menunggu suaminya gugur di medan perang, Judith sudah takluk dalam pangkuan raja. Judith harus merelakan raja menjamah tubuhnya sekaligus bapak mertua. Ia tidak kuasa melawan, meski rasa jijik selalu menyertainya. Tekad perlawanan itu ada, sebatas dalam batin. Ia tidak pernah punya keberanian untuk mengeluarkanya.
Kisah Para Perempuan
Aku tidak mampu menuliskan pemikiran jitu tentang bagaimana seharusnya perempuan memposisikan diri, ketika berada dalam kancah kekuasaan. Tidak sanggup !. Aku hanya akan menuliskan penggalan cerita tentang pergulatan para perempuan dalam lingkar kekuasaan. Berikut kisahnya;
Pertama, kisah tentang ratu Aslaug, istri kedua Ragnar Lothbrok, raja Kattegatt. Sebuah daerah subur yang terletak di laut Utara, perbatasan Denmark dan Swedia. Perempuan anggun ini terlahir sebagai anak bangsawan ningrat Eropa. Sejak kecil, hidupnya nyaman dalam lingkungan istana. Hidup serba cukup, telah membuatnya tumbuh menjadi pribadi penurut, pasrah, naif, selalu ingin menjaga tata krama sebagai keluarga raja yang harus mempertahankan kenyamanan hidupnya.
Aslaug tidak pernah berani membantah kehedak suaminya. Ia juga tidak cukup bisa meyakinkan raja, sehingga bisa diajak berembuk, membahas masalah-masalah strategis bersama para petinggi kerajaan. Tugas utamanya hanya membesarkan anak-anak dan menyiapkan jamuan bagi tamu kerajaan. Ia sudah cukup bangga, ketika diperkenalkan sebagai permaisuri yang cantik, anggun, ningrat, dan pandai menyajikan jamuan makan untuk para tamu kerajaan.
Persoalan hidup Aslaug muncul sejak menerima pinangan raja untuk menjadi istri kedua. Ia sesungguhnya tidak bahagia, meski telah mendapatkan posisi terhormat, sebagai istri raja. Tidak ada ketulusan rasa hormat dari rakyat Kattegat. Semua orang tau, bahwa tahtanya bukan dari hasil usaha. Kursi itu warisan yang ditinggalkan Lagertha, istri partama raja. Perempuan perisai itu memilih pergi meninggalkan istana, karena menolak untuk berbagi suami.
Ratu Aslaug harus menerima akhir kisah hidupnya dengan tragis. Ia meregang nyawa oleh anak panah Lagertha. Ia merebut kembali tahta yang sedang Aslaug nikmati . Sebagai ratu, ia memang tidak begitu berdaya. Meski telah memegang pedang sakti milik sang raja, namun ia tidak bisa menggunakanya. Ia tidak terlatih menggunakan pedang, apalagi berkelehi. Tidak ada riwayat penaklukan yang pernah ia ikuti. Apalagi pengalaman menjelajah hutan belantara. Seumur hidupnya dituntut untuk bisa mempertahankan keanggunan dan keningratan sebagai keturunan raja.
Kisah kedua, tentang ratu Kwenthrith. Ia adalah putri raja yang akan mewarisi tahta Mercia. Sebuah kerajaan Anglo-Saxon di Inggris. Naas, setelah sang raja mangkat, sang paman yang bersekutu dengan adik laki-lakinya merebut tahta itu.
Kwenthrith geram dengan ulah paman dan adiknya. Untuk merebutnya kembali, ia harus meminta tolong raja Ecbert yang memiliki pasukan tangguh. Ecbert menyanggupi dengan satu syarat, bahwa Mercia kelak akan dibagi dua. Tidak cukup di situ, Ecbert juga meminta tubuh ratu Mercia sebagai imbalan tambahan. Ratu yang tidak memiliki daya tawar itu hanya bisa pasrah menyerah. Meski Ecbert sama sekali tidak mampu membahagiakannya.
Malangnya, ketika saat operasi penaklukan tiba, pasukan Ragnar Lothbrok lah yang paling berjasa merebut tahta Mercia. Kwenthrith harus sangat berterima kasih atas jasanya. Sebagai ungkapan perayaan kemenangan, Ragnar dan Kwenthrith terlibat hubungan special usai misi penaklukan. Kwenthrith mengandung, lalu melahirkan anak laki-laki yang tidak pernah Ragnar akui sebagai benihnya.
Singkat cerita, Mercia sudah ditaklukkan. Namun, Kwenthrith masih terus menghadapi ancaman kudeta. Pelakunya tidak lain adalah para prajurit penyusup utusan raja Ecbert. Kerusuhan terus terjadi, hingga sang Ratu menyerah. Dia akhirnya bersedia menandatangani perjanjian, bahwa kerajaan Mercia akan bergabung dalam wilayah Wessex. Raja Ecbert akan menjadi penguasa tunggal.
Kwenthrith berontak, marah dan sangat kecewa. Suatu malam, ia berhasil menyusup kamar Ecbert. Pisau di tangannya sudah menempel di leher raja yang sedang tidak berdaya. Namun, lagi-lagi ia hanya sampai tahap menggertak dengan ancaman kosong. Sebaliknya, ia dengan mudah dilumpuhkan, hingga harus menerima kematian lewat pisau selir raja.
Kwenthrith, adalah putri raja yang selalu dimanja. Ia lebih banyak menghabiskan hidupnya terkungkung dalam istana megah. Waktu senggangnya ia gunakan untuk membaca buku bersama para pendeta. Ia tidak pernah berlatih pedang ataupun bela diri. Tidak juga punya pengalaman ikut serta dalam operasi penaklukan. Wajar jika ia sangat lemah ketika menghadapi kudeta. Puluhan buku bacaan yang telah dilahapnya hanya tersisa di kepala.
Kisah ketiga, adalah tentang Lagertha. Setelah berhasil menumbangkan Aslaug, kini, ia adalah penguasa tunggal Kattegat. Pengalaman menjadi penguasa, pernah ia lakoni ketika menjadi seorang Earl (Pangeran) Ingstad, Norwegia. Kedua posisi penting itu diraih dengan penuh keberanian hingga pertarungan sengit berdarah-darah.
Lagertha bukanlah putri keturunan raja. Ia anak petani miskin yang hidup dalam lingkungan komunitas viking yang ganas. Ia memilih bersuamikan Ragnar Lothbrok, pemuda kampung yang sangat pemberani dan sama-sama anak petani miskin. Kekejaman alam dan lingkungan masyarakat, telah menempanya menjadi perempuan perkasa. Setiap hari, waktunya habis untuk berlatih pedang dan bela diri. Setelah itu, ia akan menaklukkan hutan belantara, atau berlayar jauh untuk operasi penaklukan. Hidup Lagertha selalu ditempa masalah dan ancaman. Untuk itulah ia harus waspada.
Lagertha, menikah pertama dengan Ragnar Lothbrok yang berakhir dengan perceraian. Ia menolak diduakan. Suami keduanya, seorang Earl (pangeran) Ingstad yang kasar, berperilaku buruk dan menyimpang. Laki-laki itu harus meregang nyawa karena perilakunya yang suka semena-mena. Suami ketiganya, seorang pemuda brondong bernama Kalf. Awalnya dia hanyalah tentara pengawal biasa. Lama-lama mereka saling jatuh cinta. Sayang, Kalf menyimpan ambisi untuk mengkudeta tahta Lagertha. Sebagai perempuan penguasa yang cerdas, matang dan berpengalaman, ia tidak sulit untuk menyelesaikanya. Dengan sangat tenang, Lagertha menghujamkan pisau di perut Kalf, tepat pada hari pernikahan mereka.
Kemasyhuran Lagertha sebagai perempuan perisai semakin terkenal di seantero Eropa. Penduduk Kattegat sangat mencintainya. Setelah kembali dan menjadi penguasa, ia berhasil membangun benteng pertahanan Kattegat yang tangguh. Lagertha juga berhasil membangun pasukan khusus, beranggotakan para perempuan perisai yang sangat lihai dan terlatih. Mereka mampu menumpas para perusuh dari kerjaan jiran yang ingin mengkudeta. Kekuasaan itu kini ada di tangan Lagertha sepenuhnya, meskipun ancaman kudeta terus menghantuinnya.
Selalu Ada Pilihan
Dari berbagai kisah tentang pergulatan perempuan dengan orang-orang yang terlalu lama berkuasa, akan selalu ada peristiwa lain yang menyertainya. Skandal seks adalah salah satunya. Cerita berikutanya bisa tentang; perselingkuhan, pengkhianatan, kesetiaan palsu, yang acap berakhir dengan kekerasan. Perempuan, selalu ada dalam setiap peristiwa memilukan itu. Malangnya, para perempuan yang sejatinya adalah “korban”, tetapi selalu dipersepsikan sebagai “biang” keladi.
Lagertha terus melawan prasangka itu. Sebagai pengikut mitologi nordik, ia menyimpan tanda tanya. Siapakah yang akan mendapatkan murka sang Dewa. Para penguasa yang menganggap mudah mendapatkan tubuh perempuan ?Atau para perempuan yang merelakan tubuhnya untuk mendapatkan posisi istimewa ?.
Lagertha tidak mampu menjawabnya. Ia hanya cukup mengerti tabiat buruk para raja yang tengah berkuasa. Bahwa dalam setiap “persetubuhan” mereka, tidak selalu ada landasan kasih sayang, apalagi cinta. Mereka hanya ingin menyalurankan syahwat secara bebas tanpa tanggungjawab. Di balik itu semua, mereka menyimpan hasrat kuat untuk menaklukkan jiwa, sekaligus tubuh perempuan di hadapannya. Semua itu adalah perkara penundukan manusia kepada yang lainnya. Ada ketimpangan hubungan yang tidak setara. Penguasaan oleh mereka yang merasa perkasa, terhadap orang lain yang dipersepsi lemah.
Bagi Lagertha, perempuan selalu memiliki pilihan terbuka. Hendak menjadi pelengkap derita, atau berani berdiri tegak untuk melawan hingga bisa setara. Tidak ada pemberian Dewa yang cuma-cuma. Semua harus diperjuangkan hingga menjadi ada. Baginya, hanya ada dua peristiwa yang tidak mampu ia lawan; kelahiran dan kematian.
Tulisan ini terpetik dari The Vikings (2013). Film bergenre sejarah garapan sutradara Michael Hirst. (AJH).
Ketua Pimpinan Ranting Muhammdiyah Legoso – Ciputat Timur

Ninil
Trimakasih, saya akan pikir-pikir…. hidup saya melatih saya untuk menjadi perempuan.
Ahsan jamet.hamidi@asiafoundation.org
Hidup saya juga terus berlatih untuk bisa memahami perempuan
Christina
Saya memilih berjuang