Membijaksanakan (Persepsi) Cantik
Sebagai penganut mitologi Nordik, Lagertha tengah menjalani kehendak sang Dewa, menjadi perempuan cantik dan segala tantangan ikutannya. Ia tidak pernah memoles tubuhnya dengan lulur, bedak dan gincu. Kejelitaan itu ada, seperti takdir yang tidak pernah ia pinta. Bentuk tubuh yang proporsional, kulit yang kenceng dan berotot, itu bukan hasil rekayasa. Gerak intens tubuhnya untuk berlatih bela diri dan bermain pedang, telah menggerus habis lemak dalam tubuhnya hingga membentuk otot yang kekar.
Perempuan tangguh itu besar di area pertanian pinggir laut di wilayah Skandinavia, semenanjung Eropa Utara. Ia hidup pada abad pertengahan, di mana budaya penaklukan dan penjarahan wilayah begitu marak. Siapa yang kuat, maka dia pemenang sekaligus penguasanya. Perbudakan terhadap kaum perempuan juga jamak terjadi. Para lelaki perkasa kerap memperlakukan perempuan sebagai budak seks, tanpa ikatan apalagi pertanggungjawaban.
Lagertha memprotes perilaku seperti itu. Ia sadar akan tubuhnya yang dipersepsi cantik oleh para laki-laki di sekitarnya. Ia pun paham, bahwa ancaman kekerasan kepadanya selalu ada. Namun, gairah perlawanan dalam jiwanya telah menuntunnya menjadi pribadi yang terus giat berlatih, hingga menjadi perempuan tangguh. Ia terus memupuk keberanian, hingga kehilangan rasa takut untuk berkelehi dan melawan siapa saja.
Atas keberaniannya, ia mendapat julukan “Perempauan Perisai”. Sebagai anggota pasukan khusus yang memiliki keahlian ekstra, prestasinya dikenal luas karena ketangguhannya menggunakan pedang dalam setiap pertempuran. Untuk mengenang kehebatannya, kisah Lagertha diabadikan dalam catatan sejarawan Denmark Saxo.
Lagertha memilih Ragnar Lothbrok menjadi pasangan hidupnya. Pemuda kampung yang tangguh dan piawai bermain pedang itu punya ambisi kuat. Meski tidak terlalu tampan, namun ia pemberani, cerdas dan memiliki charisma. Ia punya aura kuat sebagai pemimpin masa depan. Penampilanya tenang, penuh percaya diri, memiliki insting kuat dalam setiap peperangan. Cita-citanya jauh ke depan; menyatukan Eropa di bawah kekuasaanya.
Menaklukkan Efek Cantik
Semula, Lagertha yakin, bahwa Ragnar, adalah laki-laki pilihan terakhir yang akan menjadi teman hidupnya hingga mati. Pasangan ini dikenal paling ideal dan serasi di dalam komunitas bangsa Viking. Dua anak; laki dan perempuan, telah menyempurnakan cinta dan kebahagiaannya.
Suatu ketika, Ragnar tengah memimpin pasukan elit untuk sebuah misi penaklukan Raja Wessex, Inggris. Dia mengajak serta Bjorn Lothbrok. Anak lelakinya yang masih berusia 14 tahun. Untuk menjadikanya sebagai pribadi tangguh, ia harus mulai dilatih menjelajah hutan dan lautan, hingga terlibat pertempuran melawan pasukan Inggris.
Di tengah misi penaklukan, Ragnar berjumpa dengan Aslaug. Seorang putri bangsawan besar Inggris. Meski tidak secantik Lagertha. Aslaug adalah seorang perempuan ningrat, bergelar kehormatan, berkelas dan berselera tinggi. Untuk itulah Ragnar jatuh cinta. Sedangkan Lagertha adalah anak seorang petani miskin dari Utara.
Bjorn melihat dengan mata telanjang perselingkungan Ragnar dan Aslaug. Ia begitu geram, marah saat melabrak Ayahnya :
“Mengapa Ayah melakukan tindakan yang begitu menjijikkan di depanku ?”. Ungkap Bjorn
“Iya, Ayah akui telah melakukan hal yang menurutmu menjijikkan. Kelak kamu akan tahu…”. Ragnar mengakuinya.
“Bagaimana aku harus menyampaikan peristiwa itu kepada Lagertha, istrimu ?”. Desak Bjorn.
“Aku tidak akan menghalangimu untuk melaporkan semuanya kepada Ibumu. Tapi Ayah janji, perilaku menjijikkan itu tidak akan terulang lagi”. Mereka berdamai dengan pelukan penuh paksaan
Sampai di rumah, Ragnar mengakui semua kesalahannya, seperti yang Bjorn sampaikan. Lagertha marah hingga terjadi pertengkaran hebat di antara pasangan itu.
Selang beberapa bulan kemudian, Aslaug hamil. Ia bersama pasukanya medatangi istana Ragnar untuk meminta pertanggungajawaban. Sebagai seorang Earl (raja kecil) yang harus berjiwa kestaria dan menjadi panutan warga, tentu tidak bisa bersikap pengecut. Ragnar menerima Aslaug untuk menetap di Istana, sambil menunggu kelahiran si jabang bayi.
Lagertha kecewa, marah namun tetap tak berdaya. Ia telah bersumpah untuk tidak akan membenarakan budaya “berbagi suami” di depan rakyatnya. Ia harus melawan pengkhiantan suaminya, sebelum perilaku itu dibenarkan. Untuk itu, Lagertha memutuskan pergi dan menceraikan suaminya. Ia memberikan pilihan kepada Bjorn anak lelakinya. Ikut Ibu atau Bapak. Dengan berat, akhirnya Bjorn memilih sang Ibu meninggalkan ayah dan istana kecil mereka.
Melawan Kekejian
Singkat cerita, Lagertha kembali menikah dengan seorang Earl (raja kecil) di wilayah lain. Meski usia suami lebih tua, namun jauh dari bijaksana. Tabiatnya sangat buruk. Dia masih lekat dengan kebiadapan laki-laki pada umumnya. Gemar mabuk dan bersikap semena-mena terhadap perempuan. Perjuangan Lagertha yang sudah sejak lama melawan budaya buruk kaum Adam seolah sia-sia, kembali ke titik nol. Namun ia tidak boleh kalah, apalagi mengalah untuk melawan kekejian !
Suatu malam, raja tengah mabuk. Ia memaksa Lagertha berposisi seperti anjing untuk pelampiasan hasrat kelelakiannya. Saat tangan raja mencengkeram kuat tubuh Lagertha, dengan tangkas ia berbalik badan dan membanting suaminya. Kedua kakinya memiting tangan raja hingga tak mampu bergerak. Tangan Lagertha mencekik kuat leher raja hingga hampir kehabisan nafas. Sorot matanya tajam, ia memberi pesan; “jangan pernah memperlakukan perempuan seperti binatang !”. Raja meringis ketakutan.
Malam ketika Lagertha tidur lelap sendirian, ada 5 laki-laki suruhan raja merangsek ke kamar gelapnya. Mereka menganiaya secara membabi buta. Lagertha tetap bangkit melawan dengan tangan kosong, hingga para penyerang itu lari tunggang langgang. Namun wajahnya tetap penuh luka lebam, darah bercucuran akibat pukulan benda tumpul bertubi-tubi.
Kekejian raja belum berakhir. Esok harinya, raja mengadakan pesta meriah dengan para petinggi istana. Lagertha duduk di samping raja. Wajahnya murung menahan perih. Darahnya mulai menghitam, namun sakitnya semakin terasa. Di depan para tamu, raja yang tengah mabuk tiba-tiba berdiri lalu bersuara keras. Mula-mula ia memuji Lagertha sebagai permaisuri paling cantik di Negerinya. Semakin lama, omongan raja semakin seronok dan menjijikkan.
“Kalian tau, aku memiliki istri yang payudaranya paling indah di dunia”. Teriak sang raja. Semua pengunjung tertawa. Lagertha geram, tubuhnya menggingil menahan amarah. Tatapan matanya tajam tapi mukanya menunduk. Sejenak Ia melupakan semua rasa sakitnya.
Sambil terus bicara soal payudara, raja berjalan sempoyongan mendekati permaisuri. Ia hendak hendak membuka baju dan memperlihatkan payudaranya di depan umum. Saat tangannya mencengkram sambil hendak merobek baju, secepat kilat Lagertha menyambar pisau makan yang ada di depannya. Tanpa diduga, ia tancapkan pisau itu tepat di mata kiri sang raja. Darah segar mengucur deras, muncrat hingga mengotori bajunya. Sang raja jatuh, mengaduh, berteriak keras merasakan sakitnya. Lagertha mundur dua langkah. Tiba-tiba, seorang pengawal setia raja menghunuskan pedang, lalu dengan cepat mengayunkannya hingga memenggal kepala raja.
Suasana hening seketika. Kepala raja terpisah dari lehernya lalu menggelinding jatuh ke tanah penuh darah segar. Tiba-tiba, sang pengawal raja berteriak; “hidup raja baru !”. Suara orang-orang dalam istana mulai bergemuruh, bertepuk tangan sambil meneriakkan ucapan yang sama. Lagertha secara resmi diangkat menjadi Earl baru di wilayah itu.
Memupuk Keberanian Perempuan
Setelah menjadi Earl, Lagertha giat menyiapkan pasukan tangguh di wilayahnya. Para perempuan dilatih bela diri, menggunakan pedang, naik kuda, mendayung kapal untuk menaklukkan lautan. Prajurit tangguh Lagertha tidak hanya laki-laki. Para perempuan muda, trampil, juga berkesempatan menjadi prajurit tangguh yang siap tempur di medan perang.
Meski telah menjadi seorang earl (raja kecil), ternyata ancaman kekerasan seksual terhadap Lagertha belum juga usai. Suatu sore, ia tengah berendam di kolam pribadinya. Tiba-tiba, pengawal raja yang dulu berhasil memenggal kepala raja, ingin masuk ke ruang pribadinya.
Seperti biasa, Lagertha dengan sangat tenang melayani percakapan sang pengawal. Rupanya, ia menagih “janji” untuk bisa mempersunting Lagertha sebagai istrinya. Lagertha menjawab bahwa ia tidak pernah menjanjikan apapun dan kepada siapapun, untuk menjadi pendampingnya. Apalagi terhadap laki-laki yang sudah beristri. Itu mustahil !.
Sang pengawal tidak menyerah, ia terus mendekat sambil mengeluarkan pisau yang ditempelkan di leher Lagertha. Ia mengulang permintaannya. Jikapun tidak bisa menjadi suami, ia tetap meminta tubuh Lagertha. Dengan tenang dan penuh percaya diri Lagertha menahan pisau tajam di lehernya, lalu secara perlahan ia meminta pisau itu diletakkan di atas meja. Seperti daya magic, pengawal itu menuruti perintahnya. Dengan sorot tajam matanya, Lagertha menyampaikan pesan sederhana;
“Kamu boleh merasa berjasa karena telah memenggal kepala raja. Tapi ketahuilah, semua orang di istana tau, bahwa saat itu raja sedang sekarat. Pasti tidak akan melawan. Mohon maaf, modalmu belum cukup untuk bisa disebut laki-laki pemberani. Jadi tinggalkan kamar ini sekarang !”. Pengawal yang garang dan bertubuh kekar itu berangsur lemas, menunduk, penuh rasa malu lalu pergi.
Begitulah Lagertha. Kecerdasanya mampu menghentikan kecabulan laki-laki, bahkan mempermalukannya. Tidak semua perkara bisa diselesaikan dengan kekerasan. Dia begitu cermat memilih cara yang tepat. Lagertha terus melatih ketrampilan fisik para perempuan di negerinya. Sekaligus menyentuh kesadaran batin dan memupuk kecerdasan nalar.
Kisah Lagertha memberiku pesan, bahwa katagori cantik, cakep, seksi, itu perkara persepsi manusia. Cantik bisa menjadi anugerah. Sebaliknya, ketika persepsi itu justru menyuburkan ancaman dan ketidakadilan bagi perempuan, ia harus dilawan. Perempuan harus memupuk keberanian dan mengasah kecerdasan, hingga menjadi tangguh dan berdaya. Karena ketidakadilan bagi perempuan, sudah terlanjur lama dibenarkan.
Tulisan ini terpetik dari The Vikings (2013). Film bergenre sejarah garapan sutradara Michael Hirst. (AJH).
Ketua Pimpinan Ranting Muhammdiyah Legoso – Ciputat Timur

Nur
Mantap….. Tulisan yg bisa menginspirasi pembaca…
Hani
Keren. Bacanya sampai merinding tegang.. 😁👍