Pengalaman di Balik The World of Married Couple’s
Oleh : Nina Mariani Noor*
Rahmania, sedang pada demam drakor “The World of Married couple” ya? Aku yang selama ini ngga pernah nonton drakor, karena selama ini ga sempat dan ga punya waktu buat nonton, jadi ikutan senapsaran menonton karena pernah mengalami episode tersebut. Setelah menonton beberapa episode, emm 10 tu beberapa atau banyak ya?, ini mah sampai episode terakhir 😀 Trus jadi pengen merefleksikannya pada diri sendiri. This is my two cents based on my experience. Halah malah curcol.
Pertama, namanya perselingkuhan itu selalu menyakitkan bagi yang diselingkuhi. Rasanya dikhianati oleh orang yang kita cintai itu… ga usah ditanya deh. Aku rasanya pengen menghilang ke bumi saja deh waktu itu biar semua selesai saja, tapi kan ngga bisa wong aku juga manusia, bukan makhluk halus. Berbagai scene dalam drama ini juga sempat terjadi dalam hidupku. Tapi kalau aku sih ngga sampai bayar orang buat stalking walaupun ada yang menawariku waktu itu. Teman-temanku juga nggak jahat kayak di drakor ini, justru merekalah yang menguatkanku bisa masih hidup sampai sekarang. Tentunya yang paling gede supportnya ya keluargaku. Dulu, dengan pertimbangan demi anak-anak, aku sempat memilih bertahan walaupun harus bolak balik ke konselor karena ternyata nggak kuat juga tiap kali menemukan bukti itu..😏😒😞🧐🤓🙁
Kedua, banyak pasangan yang bermasalah dengan perselingkuhan memilih untuk tetap bersama, bisa menerima kembali pasangannya demi keutuhan keluarga atau demi anak-anak ( kebanyakan orang Indonesia milih opsi ini). Di sisi lain banyak juga yang berakhir dengan perpisahan aka perceraian. Data angka perceraian di Indonesia cenderung meningkat setiap tahun dan banyak gugatan yang diajukan oleh pihak istri, salah satu penyebabnya adalah perselingkuhan. Aku termasuk yang kedua ini.
Ketiga, Aku maklum kalau Dokter Ji son Woo masih belum bisa melupakan Lee Tae Oh setelah perceraian, di satu sisi dia benci (karena diselingkuhi) di sisi lain, menghilangkan cinta atau berhenti mencintai itu tak secepat jatuh cinta lho (kata Tangga dalam lagunya 😄). Kalau aku sih… rahasia :D.. intinya aku sudah move on karena aku yang dulu memilih berpisah. Dokter Ji membalas sakit hatinya dengan elegan (kata teman saya) tapi bikin jantungan dan membahayakan nyawanya sendiri berkali-kali. Kalau aku? Balas dendam? Hmm.. aku tidak sekaya Dokter Ji, waktu itu kerjaan hanya part time, kuliah belum kelar mana beasiswa sudah habis dan punya dua orang balita. Mikir disertasi saja sudah pusing mana sempat mikir balas dendam, jadi aku ngga pernah berfikir balas dendam. Waktu itu aku hanya sempat berdoa sebagai orang teraniaya dengan doa yang ngga bagus. Ampuni aku ya Allah karena sempat berdoa tersebut, tapi aku ngga pernah mencabut doa tersebut ☺️ Bagiku ngga usah balas dendam, yang sakit kita sendiri malahan. Jadi aku tunjukkan saja kalau aku bisa hidup tanpa dia bahkan aku bisa lebih baik tanpa dia.”The best revenge is no revenge. Move on. Be happy.” “The best revenge is massive succes.” Kata quotes sih begitu 🥳
Keempat, bicara soal perceraian, tidak ada perceraian yang baik-baik, kalau baik-baik tentunya pasangan tidak akan bercerai dong . Adanya perceraian yang berakhir baik . Yang paling merasakan dampak dalam perceraian adalah anak-anak dan tentunya ya para mantan tersebutlah wong mereka pelakunya. Ada anak yang merasa menjadi penyebab perceraian sehingga akhirnya menjadi anak yang “bermasalah. Nah, bagaimana biar anak-anak tidak menjadi anak bermasalah walaupun orang tuanya bercerai? Apa yang harus dilakukan ortu pascacerai itu sangat penting. Kalau di Indonesia sih kebanyakan kalau bercerai, anak-anak ikut ibu, maka bapak jarang yang kasih nafkah buat anak-anaknya. Boro-boro kasih nafkah buat anak, biasanya malah buru-buru cari istri dan punya anak lagi. Di sinilah mestinya mantan istri dan mantan suami untuk tidak egois memikirkan nasib mereka sendiri. Okay, mereka memilih bercerai, what’s next? Bagaimana nasib anak-anak? Ketika mereka sepakat bercerai maka mereka juga sebaiknya sepakat soal pengasuhan anak. Sering kita dengar kasus rebutan hak asuh anak, kata sahabat aku yang ngantor di KPAI Jakarta sana, banyak sekali kasus ini, pakai acara drama penculikan segala, atau kayak dokter Ji dan Tae Oh yang rebutan Joon Yeong, bahkan dokter Ji tidak mengijinkan Tae Oh menemui Joon Yeong.
Kalau aku dulu? Sempat sih ada tuntutan dari sono untuk berbagi anak yang dua itu, tapi aku gak mau karena anak bukan barang yang bisa dibagi dan juga waktu itu kedua anakku masih balita, 4,7 tahun dan 2 bulan. Jadi Aku meminta hak asuh anak-anak tapi aku tidak memutus komunikasi anak-anak dengan ayahnya. Aku dan mantan memang mantan suami dan mantan istri, tetapi hubungan anak dan ortunya tidak ada namanya mantan anak dan mantan ayah. Jadi, sampai sekarang ayah anak-anakku bisa menemui anak-anak kapanpun dia mau, anak-anak juga bisa mengunjungi dan menginap di rumah ayahnya kalau mereka ingin. Sejak awal hendak berpisah bahkan aku mengatakan kepada ayah anak-anakku kalau dialah besok yang menjadi wali ketika anak-anak menikah. Sampai sekarang ayah anak-anakku masih rutin memberikan uang bulanan untuk keperluan anak-anak (sesuai kesepakatan kami ketika berpisah). Selain itu, kalau aku tugas ke luar kota atau negeri, ayah anak-anak akan mengasuh mereka dan aku bisa tenang karena aku percaya ayah mereka pasti akan mengurusi anak-anaknya. Enak to? ya iyalah, karena aku bukan Dokter Ji, tapi Doktor Noor 😎(macak sombong )
Terus, kalau sudah mantan gitu sebaiknya masih berkomunikasi nggak to? Dokter Ji memilih tidak, walaupun berulangkali dia juga harus berhadapan dengan Tae Oh karena urusan anak. Kalau aku, komunikasi masih sampai sekarang, hanya soal anak-anak, bukan yang lain. Sekarang lebih banyak komunikasi via anak kami yang pertama. Jadilah ortu yang profesional bagi anak-anak dan untuk menjadi profesional, maka kita tetap harus berkolaborasi. Urusan sekolah kedua ortu harus tahu, urusan anak-anak sakit juga. Sampai sekarang, anakku yang besar sudah faham kalau ayah mamanya bercerai tetapi dia tidak merasa bersalah dan juga bersedih, sedangkan yang kecil masih mengira kalau ayah mamanya hanya pisah rumah 😁. Walaupun kami berpisah, keduanya tidak kehilangan sosok ayah dan mama.
Terakhir, bagaimana kalau hendak menikah lagi? Ya kalau menikah lagi ya menikah saja, tentunya dengan sebelumnya berkomunikasi dengan anak. Aku sih maunya yang mau menerima dan bisa dekat dengan anak-anak aku, karena menikah dengan aku berarti ya sepaket dengan dua buntut Mama. Sedangkan mantan, tampaknya juga hendak menikah lagi dan aku juga memberikan kesempatan kepada calonnya untuk kenal dan berinteraksi dengan anak-anak aku.
Sampai sekarang kalau aku tanya anak-anak, Mama boleh menikah lagi? Jawabnya BOLEH, tapi giliran ditanyain soal Ayah menikah lagi jawabnya GA boleh, salah satu alasannya nanti jadi punya mama galak dua 😆😂🤣
*) Nina Mariani Noor, Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga .
