f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan merdeka

Semua Perempuan Berhak Merdeka

Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-78 tahun ini. Berbagai perubahan dan kemajuan terus terjadi setiap tahun. Pemerintahan semakin efektif, teknologi semakin maju, pendidikan lebih diperhatikan, dan individu serta komunitas aktif menyuarakan pendapat. Seiring berjalannya waktu, Indonesia mengalami banyak perubahan. Kesetaraan gender semakin diperjuangkan, mengikuti semangat RA Kartini dan pahlawan perempuan lainnya yang memperjuangkan hak-hak asasi perempuan.

Setelah era Kartini, diharapkan lahir perempuan dengan semangat juang sejajar Kartini yang patut dijadikan teladan. Mereka harus mendapatkan hak pendidikan dan kebebasan untuk beraktivitas positif. Namun, tidak semua hak kebebasan yang diperjuangkan tersedia sekarang. Banyak perempuan masih terbatas oleh ikatan yang menghalangi hak-hak dasar mereka.

Perempuan Tidak Merdeka untuk Berpendidikan Tinggi dan Bekerja

Di Indonesia, sering terdengar ucapan yang mengintimidasi perempuan. Contohnya: “Kerja terus, kapan nikah?” atau “Umur sudah tua, kok belum menikah? Apa mau jadi perempuan tua?” atau “Kasihan, orangtua ingin gendong cucu.”

Lalu setelah sudah nikah ada lagi omongan-omongan “punya gelar tinggi tapi ujungnya di dapur saja”, “Dulu sebelum nikah jadi karyawan yang keren sekarang malah  nganggur” atau “Percuma dulu pernah kerja kalau sekarang ujungnya ngegantungin suaminya aja”

Pendapat semacam ini membatasi kebebasan perempuan dalam pengambilan keputusan. Tekanan sosial membuatnya merasa harus sesuai dengan harapan orang lain. Padahal, perempuan memiliki hak untuk menentukan pilihan, termasuk kapan menikah, bekerja, menjadi ibu rumah tangga, atau mengejar karir. Keputusan ini seharusnya berada di tangan perempuan itu sendiri.

Perempuan tidak Merdeka akan tubuhnya sendiri. 

Ketika perempuan memiliki tubuh yang gemuk aka nada omongan “aduh gendut banget, nanti laki-laki gak ada yang suka”. Tapi ketika perempuan memiliki tubuh yang kecil “duh makan dong yang banyak biar gak dibilang perempuan susah”. Aku hanya bisa tertegun dalam hati Ketika mendengar omongan-omongan yang sebebarnya kadang mereka anggap nasihat tapi lebih mengarah kepada body shaming.

Baca Juga  Perempuan dalam Lingkaran Kekuasaan

Padahal standar tubuh ideal atau cantik bukanlah orang lain yang menentukan, tapi terpancar dari kepercayaan diri sendiri. Bahkan di media sosial body shaming seperti ini lebih banyak diterima oleh Perempuan. Seolh-oleh orang lain yang mmengatur standar tersebut. Padahal hak yang menentukan bagaimana tubuh dan wajah kita adalah diri kita sendiri.

Perempuan belum merdeka dalam menentukan gayanya sendiri yang menurutnya nyaman. Standar perempuan yang dianggap baik adalah tubuh ramping, kulit putih wajah glowing dan bibir tipis dan standar ini hanya label yang menempel pada perempuan. Padahal nyatanya peempuan akan cantik dengan gayanya masing masing tak memandang warna kulit atau rambut. Semua Perempuan memancarkan cantiknya masing-masing.

Perempuan Belum Sepenuhnya Merasa AAman

Berdasarkan survei nasional Koalisi Ruang Publik Aman, November-Desember 2021, dengan 4.236 responden, 3.596 pernah alami pelecehan seksual di ruang publik, 23 persen di transportasi umum. Temuan lain Koalisi pada November 2022, 48,9 persen perempuan alami pelecehan seksual di transportasi umum.

Fakta ini mengindikasikan ketidakamanan yang masih perempuan hadapi. Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) mencatat kenaikan kasus kekerasan seksual di transportasi umum dan fasilitas umum di Jakarta. Statistik menunjukkan, dari tahun 2020 dengan tujuh kasus, 2021 naik menjadi delapan, dan rentang Januari-Juli 2022 mencapai 15 kasus.

Pemerintah harus menyadari bahwa ruang aman bagi perempuan masih kurang. Evaluasi terhadap keamanan di ruang publik diperlukan, juga perlu diperketat sanksi untuk pelaku kekerasan seksual di tempat umum. Meski kekerasan seksual tak hanya terjadi di ruang publik; dalam rumah tangga pun masih ada kasus, seperti kekerasan oleh suami terhadap istri atau pasangan. Oleh karena itu, berbagai peluang untuk kekerasan tetap harus diatasi.

Baca Juga  Belajar di Masa SMA v.s Masa Kuliah

Merdeka berarti mengendalikan tubuh, reproduksi, menentukan pernikahan, pendidikan, pekerjaan, penampilan, dan perjalanan bebas bagi perempuan. Merdeka adalah hak, bukan pilihan, dan setiap perempuan berhak memiliki hak ini.

Bagikan
Post tags:
Comments
  • Fian

    Kerenn

    Agustus 22, 2023
Post a Comment