Di dunia permedia sosial-an, kita akan dihadapkan dengan karakteristik many peopel yang berbeda namun motifnya hampir sama yaitu pamer-pamer pamor. Ya memang begitu, hukum sosial pertemanan, persayangan dan perkepedulian sepertinya tidak lengkap kehumbleannya tanpa membuat pengumuman dan bersuara di dinding-dinding medsos perihal apa yang terjadi kepada setiap kita.
Namun, yang paling menggelengkan kepala adalah ketika adanya tuntutan mengenai hal-hal penting menurutnya itu harus dibagikan oleh orang yang bersangkutan dengannya; entah itu saat ulang tahun, resepsi, kebersamaan di suatu party maupun acara-acara penting lainnya.
Oke. Mari kita petakan hal-hal mlumet yang sering terjadi pada (setiap) orang yang haus tentang unggahan-unggahan.
Perihal birth day. Pada momen ini orang yang dianggap paling berperan penting untuk mengucapkan sepatah kata sampai perhadiahan adalah pasangan (pacar), teman atau sahabat. Orang-orang ini dianggap punya kewajiban khusus untuk tidak lupa mengucapkan “selamat” berikut doa-doa yang tentu kita sudah hafal dengan kalimat-kalimatnya.”Panjang umur, sehat selalu, murah rejeki, sukses dalam meraih cita-cita dan potongan-potongan diksi lain yang diungkapkan sebagai glory-at-nya.”
Dalam perayaan di hari H tersebut, seseorang datang, memberi hadiah, cekrek-cekrek, makan-makan, lalu pulang. Ada pula yang tak merayakan tanpa acara khusus dan yang mengucapkan hanya melalui chat whatsapp; lalu pertanyaannya apakah selesai dengan perhelatan begitu saja? Hmm… Belum boss. Kedatanganmu bersama hadiah dan ucapanmu di dinding chat itu tak ada gunanya sama sekali sebelum kau umbar ke banyak orang. Jika dilihat secara hukum fikih, apa yang kau lakukan itu hanya sampai di level makruh (dibenci tapi boleh), sunah masih jauh apalagi wajib!
Lantas apa yang wajibnya? Ya, cuma satu; upload fotonya di media sosialmu, baik di status whatsapp, reels instagram, cerita fesbuk, story twitter dan dinding-dinding lainnya lalu tag namanya, maka secara otomatis dosamu akan terampuni.
Dan hal yang mesti dicamkan baik-baik yaitu; perihal tingkat kepedulian, kualitas pertemanan dan level cinta kasih yang terpelihara itu tidak akan berarti apa-apa baginya. Meski doa setebal dompet konglomerat, semewah mobil pejabat, semanis janji (yang katanya perwakilan rakyat) kau haturkan di setiap tarikan nafas-itu akan dianggap sekadar remah-remah gembur galian jangkrik di semak-semak belukar. Nggak berarti apa-apa.
Dan watak yang dihadapkan itu biasanya ada dua. Pertama, ia akan memaksamu untuk melakukannya segera (demi pertemanan). Kedua, ia akan membiarkan saja tapi membalas ekspresi cuek atas tindakanmu yang tak mengunggah status tentangnya. Tapi ini hanya beberapa orang yang biasanya didominasi para kaum-kaum hawa (yang merasa saja). Walaupun (tebakan saya) semua orang akan memasang ekspresi senang ketika melihat story seseorang ada wajah kita di sana. Apalagi secara khusus ungkapannya. Tentu kita merasa lebih ada waw-nya bukan?
Tapi ada satu hal yang nggak ku pahami yaitu mengenai bagaimanakah perasaan orang yang pernah berpose berdua. Namun lenyap saat status ditayangkan. Di cut hidup-hidup. Nggak tahu bagaimana bentuk perasaan itu, sedih, kesel atau biasa aja, entahlah, soalnya nggak pernah di posisi itu. Hehew… Oya, hal-hal mlumet seperti ini memang didominasi dari pikiran sang pengabdi media sosial (meski dia tak tahu) yang mengidolakan unggahan-unggahan. Memang terlihat sederhana keinginan itu dan tidak ada yang salah di sana. Namun kalau kita tahu, hal itu sebenarnya nggak perlu diperdebatkan, karena apa? Ya memang nggak penting. Dan ada kalimat “terserah mereka” dalam menanggapi.
Namun jika ditanyai pendapat, saya lebih setuju kepada orang yang sekadarnya saja dalam berpamer-pamer pamor. Mengenai perayaan, kehadiran dan ucapan “selamat” di dinding chat sepertinya sudah cukup, atau sekadar komen di status unggahan kecil di media miliknya pun sudah mewakili.
Tetapi terkadang ada orang yang memang tulen pengabdi media sosial yang taat meski tiap unggahannya sebenarnya nggak penting-penting amat. Mereka adalah kelompok pengunggah foto yang menulis caption seolah sedang berbicara dengan seseorang secara face to face. Kalau kita analisis secara bahasa keIndonesiaan, ini yang disebut perbuatan penjamakan yang hanya perlu diucapkan secara khusus pada orang yang berkaitan saja.
Terlebih rasanya memang sebuah perlakuan mubazir; tindakan yang membuang-buang energi dalam menciptakan pamor perayaan di media sosialnya.
Konon ada satu aliran lagi yang menjadikan sosmed sebagai panggung utamanya dalam mencurahkan keresahannya. Mereka biasanya meluapkan isi hatinya dengan penuh amarah, yang akhirnya menciptakan taman zoo’s melalui cuitannya yang justru memberi rating terhadap dirinya sendiri bahwa ia senilai dengan ucapannya itu.
Kemudian ada pula tuh, yang sedang ingin berkomunikasi dengan Tuhannya melalui doa-doa pilihan yang ditujukan. Apalagi hal-hal sakral semacam ini rasanya tak perlu ditebarkan; cukuplah engkau dan Dia-nya saja yang tahu. Jangan sampai tetangga, kerabat, apalagi musuhmu dengar, yang ada nanti malah makin menyudutkan. Sebab nilaimu sudah mereka kantongi lewat unggahan. Jadi topik mengenai dirimu lebih dikuasai dalam melancarkan performnya di panggung pergosipan, dan mendengarnya malah bikin down kemudian.
Menyimpul dari kejadian-kejadian yang tak asing begini, rasanya kita memang perlu sedikit mengerem diri dari kebiasaan menjadi “pengabdi media sosial” dan tak perlu menuntut diri apalagi orang lain untuk turut memediasosialkan kita ke dinding-dinding mereka sampai hal sedetil-detilnya pun dianggap perlu untuk dibagikan secara bebas. Tidak perlu.
Karena nanti, semua yang kita lakukan di media sosial urusannya akan tertuju pada satu puncak yaitu penyakit “Ain”. Percaya atau tidak benar-benar nyata adanya. Sebuah penyakit yang dikenal dengan sebutan mata jahat atau evil eye; yang datang dari respons terhadap apa yang kita perlihatkan.
Bila mengenalnya secara singkat. Seorang ulama menjelaskan dalam fatwanya, artinya: “Ain dari kata ‘aana – ya’iinu yang artinya: terkena sesuatu hal dari mata. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, lalu diikuti oleh respons jiwa yang negatif, lalu jiwa tersebut menggunakan media pandangan mata untuk menyalurkan racunnya kepada yang dipandang tersebut.” (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, 1/271).
Untuk menghindari Ain, beberapa literatur menyebutkan bahwa sebisa mungkin kita harus menghindari menyebutkan kekayaan, kesuksesan usaha, kebahagiaan keluarga, dan memamerkan foto diri, foto keluarga, atau hal-hal lain yang bisa menimbulkan iri serta dengki dari mereka yang melihatnya.
Jadi semua hal tersebut yang menyediakan panggungnya adalah media sosial. Memang kita tak dapat menghindarinya tetapi minimal bisa mengeremnya sedikit. Jangan sampai kita menjadi pengabdi media sosial tulen yang tentunya faedahnya lebih sedikit daripada manfaatnya. Dan pada Ain akan akhirnya.
Mengenai orang yang tak mengucapkan selamat di momen penting tentang dirimu. Justru berterima kasihlah pada mereka yang menjaga dari unggahannya dan tak memamerkanmu dengan sembarang. Perihal ulang tahun, mereka yang tak mengucapkan apapun bukan berarti tak ingat apalagi hilang kepedulian. Kalau kita tahu, toh ulang tahun memang tidak perlu dirayakan bukan? Sebab ulang tahun sebenarnya menandakan jatah hidup seseorang semakin berkurang. Justru kau seharusnya bersedih saat seseorang mengucapkan selamat di hari perhitungan mundur usiamu di dunia.
