f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Jika Suami Tak Salat, Haruskah Istri Tetap Bertahan?

Rahmania, masih ingatkah dengan sosok Fahri bin Abdillah (Fedi Nuril) dalam film series Ayat-Ayat Cinta? Fahri digambarkan sebagai sosok suami yang ideal, mulai dari paras yang dimiliki, taat beribadah, ramah dan tulus “ini sih senjata mautnya, untuk meruntuhkan hati perempuan”, terutama pada istrinya Aisha dalam setiap langkah untuk mengarungi bahtera rumah tangga yang penuh berkah.

Kisah tokoh fiktif Fahri dan Aisha dalam series Ayat – Ayat Cinta melihatkan bagaimana pernikahan menjadi panggung utama dalam perjuangan spiritual antara suami dan istri yang mencoba menjalankan syariat Islam dengan memenuhi hak dan kewajiban di setiap pasangan termasuk dalam urusan ibadah.

Ketika seorang laki-laki berikrar atas nama Allah Swt. dalam prosesi akad nikah, ia secara resmi mengambil tanggung jawab besar yang sebelumnya menjadi tanggung jawab ayah mempelai perempuan kini beralih kepada sang suami. Bukan sekadar kewajiban untuk memberikan nafkah terhadap istri, suami memilliki peran mengajarkan kepada istri tentang nilai-nilai ajaran Islam seperti salat, menjaga aurat dan menjaga kehormatan keluarga.

Salat adalah salah satu pilar utama dalam Islam. Dan ketika seorang suami abai terhadap ibadah ini, ia tidak hanya merugikan diri sendiri di hadapan Allah Swt., tetapi juga berpotensi menelantarkan hak istri untuk mendapatkan lingkungan rumah yang mendukung ketaatan dengan harapan meraih rida Allah Swt. dan keberkahan di dunia dan akhirat.

Lantas bagaimana, ketika di antara pasangan kita gagal menjalankan kewajiban dasar dalam agama, seperti lalai atau bahkan meninggalkan perintah salat?

Keberkahan dalam Pernikahan : Dimulai dari Ketaatan Salat

Al-Qur’an telah memberikan jawaban secara tegas setiap manusia di tugas kan untuk beribadah kepada Allah dengan dengan senantiasa membaca kalamullah Al -Qura`an dan  menjalankan salat sebagai bentuk penghambaan diri. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-‘Ankabut Ayat 45, sebagai berikut :

Baca Juga  Sebatang Coklat dan Martir Perjuangan

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Artinya : “Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabut Ayat 45)

Dalam kehidupan rumah tangga, salat menjadi lentera yang menerangi jalan suami sebagai pemimpin yang bertanggung jawab atas istrinya. Ketika badai masalah atau ketegangan datang menguji, pasangan suami dan istri tidak terburu-buru larut dalam emosi atau kemarahannya. Sebaliknya, mereka bergegas menenangkan diri dalam salat, merendahkan hati di hadapan Allah, memohon petunjuk dan ketenangan dari-Nya.

Dalam QS. At-Tahrim ayat 6, Allah Swt. memberikan peringatan yang jelas kepada orang beriman untuk menjaga diri dan keluarga mereka dari api neraka, sebagai berikut :

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahrim: 6)

Membimbing istri dan anak-anak untuk menunaikan salat, membaca Al-Qur’an dengan benar merupakan salah satu bentuk nyata peran suami menjaga keluarga kelak dari api neraka. Suami sebagai pemimpin rumah tangga harus memastikan bahwa keluarganya memahami rukun dan syarat-syarat sah salat, melaksanakannya dengan penuh kesadaran, dan menjadikannya prioritas dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika suami dan istri menjadikan salat prioritas utama, tidak ada lagi ruang bagi rasa tamak, iri hati dengan pasangan lain, atau ketidakpuasan terhadap apa yang mereka miliki. Karena keyakinan ini mengajarkan bahwa Allah Swt. yang mengatur segalanya dengan penuh kebijaksanaan.

Baca Juga  Di Mana Peran Masjid dalam Literasi ?
Istri : Kapan Harus Bertahan, Kapan Harus Berpisah?

Sebagai seorang muslim, penting untuk menyadari betapa beratnya konsekuensi meninggalkan kewajiban salat. Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengungkapkan peringatan yang sangat keras mengenai pentingnya salat dalam Islam. “Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan salat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7)

Seorang suami yang meninggalkan salat, ia tidak hanya berdusta terhadap Rabb-Nya namun ia secara tidak langsung sedang merusak fondasi ketakwaan pada rumah tangganya dan sering kali ini menjadi awal munculnya permasalahan dalam pernikahan. Seperti hilangnya keberkahan dalam rumah tangga, hilangnya rasa tanggung jawab, ketidakpedulian terhadap hak-hak pasangan, dan ketidakharmonisan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh lagi, ketika suami maupun istri tidak menunaikan salat, ia juga berpotensi membawa dampak negatif bagi anak-anak. Anak akan melihat dan meniru perilaku orang tua mereka. Jika mereka tumbuh dalam lingkungan yang tidak menempatkan salat sebagai prioritas, maka generasi berikutnya juga berisiko mengabaikan ibadah. Sehingga mereka akan mewarisi siklus spiritual yang lemah.

Di sinilah peran istri menjadi sangat penting, untuk mendoakan pasangan serta kembali mengingatkan, menyadarkan suami tentang bahwa hidup ini akan dipertanggungjawabkan, dan yang pertama kali dihisab adalah salat.

Adapun doa yang di tinggalkan dan di ajarkan Nabi Ibrahim As. sebagai rujukan seorang muslim, sebagai berikut : 

رَبِّ اجۡعَلۡنِىۡ مُقِيۡمَ الصَّلٰوةِ وَمِنۡ ذُرِّيَّتِىۡ​​ ۖ  رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ‏

Baca Juga  Ibu Muda Bekerja dan Bernasyiah: Mewujudkan Keluarga Tangguh Bersama Pasangan

Artinya : “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)

Namun, istri juga perlu bijak membedakan kapan harus bertahan dan terus mendampingi suami dengan sabar, serta kapan harus berserah kepada Allah jika segala upaya tidak membuahkan hasil. Ketika suami masih mau menerima nasihat dengan baik, maka istri harus terus berusaha dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang, mengingatkan tentang pentingnya ketaatan kepada Allah Swt. dan menjaga salat. Misalnya, mendampingi suami dalam beribadah, mengajak suami untuk salat berjamaah, mengajaknya mendengarkan kajian atau ceramah bersama, atau menghidupkan suasana rumah dengan amalan-amalan kebaikan. Istri juga bisa berdoa agar Allah Swt. membuka hati suaminya untuk kembali kepada salat, memohon petunjuk dan kekuatan untuk menjalani cobaan ini.

Jika upaya ini tidak suami sambut dengan baik dan justru menghadirkan tantangan yang lebih besar bagi bahtera rumah tangga, maka mempertahankan pernikahan bisa menjadi keputusan yang justru merugikan. Dalam Islam, hak seorang perempuan untuk mendapatkan lingkungan yang mendukung ketaatan beribadah sangatlah penting. Jika pernikahan tidak lagi mampu memberikan lingkungan tersebut, maka mempertimbangkan berpisah bisa menjadi solusi yang lebih baik.

Pada akhirnya, setiap usaha untuk menjaga ketaatan dalam rumah tangga merupakan bentuk ikhtiar yang akan bernilai pahala besar, baik bagi istri maupun suami, karena keluarga yang bertakwa akan selalu mendapatkan cinta dan berkah dari Allah Swt.

Bagikan
Post a Comment