f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kemanusiaan toleransi

Abdurrahman Wahid, Merawat Kebhinekaan dengan Spirit Kemanusiaan dan Toleransi

Di Indonesia ini, siapa yang tak kenal dengan Abdurrahman Wahid atau yang kerap disapa Gus Dur? Tokoh bangsa yang memiliki segudang penghargaan atas perjuangan kemanusiaan dan toleransi. Serta dedikasinya merawat kebhinekaan, perdamaian, dan persatuan di negerinya.

Padanyalah gelar kehormatan sebagai Bapak Tionghoa Indonesia disematkan dari Komunitas Tionghoa Semarang, dan Gus Dur memang layak mendapat gelar sebagai Bapak Pluralisme dan Pejuang Kemanusiaan.

Sekilas Tentang Gus Dur

Putra dari KH. Wahid Hasyim sekaligus cucu dari Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari ini lahir di Jombang, 7 September 1940. Ia lahir dengan nama Abdurrahman “Addakhil” yang bermakna Sang Penakluk. Namun karena Addakhil kurang dikenal, maka diganti dengan nama Abdurrahman “Wahid” yang dinisbahkan ke nama ayahnya.

Gus Dur adalah tipe orang yang giat dalam mencari ilmu, hal ini dibuktikan dengan berkali-kali ia mondok ke berbagai tempat. Pertama di Pesantren Krapyak Yogyakarta, kemudian lanjut di Pesantren Tegalrejo, dan terakhir di Pesantren Tambakberas, Jombang. Disamping mondok, Gus dur pun berkiprah sebagai jurnalis di majalah sastra Horizon dan majalah Budaya Jaya.

Selanjutnya, Gus Dur melanjutkan pendidikannya di Universitas Al-Azhar Mesir, lalu pindah ke Iraq. Selulus dari Iraq, Gus Dur melanjutkan studinya di Universitas Leiden Belanda. Dari sini, kita mengetahui betapa khazanah keilmuan Gus Dur sangat kaya dan beragam, di sisi lain beliau adalah sosok yang concern mendedikasikan dirinya dalam mencintai perdamaian dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Dari sanalah sosok Gus Dur patut diteladani bagi kita yang mendambakan perdamaian dan toleransi.

Mencintai Kemanusiaan, Menebar Toleransi                                                             

Banyak sekali kisah perjuangan Gus Dur yang berkaitan dengan kemanusiaan yang terekam sempurna pada tulisan–tulisannya; maupun kesaksian orang–orang terdekat atas perjuangannya menebar toleransi, menuai perdamaian di negeri ini. Maka tak heran, Gus Dur dianugerahi beberapa penghargaan dari dalam dan luar negeri. Salah satunya adalah Ramon Magsaysay Award, sebuah penghargaan mentereng untuk ketegori Community Leadership.

Husein Muhammad dalam Sang Zahid: Mengarungi Sufisme Gus Dur (2012), memaparkan dengan cukup jelas perihal sikap Gus Dur terhadap kemanusiaan. “Sebagai pejuang kemanusiaan, Gus Dur tak pernah membeda-bedakan seseorang dari latar belakangnya. Gus Dur tak memandang manusia melalui kacamata agama, politik, suku, partai, ormas, dan atribut-atribut lainnya. Fokus perhatiannya adalah manusia dan kemanusiaan itu sendiri.”

Baca Juga  Tulisan Sebagai Instrumen Perubah Gerak Ummat

Salah satu bukti bahwa Gus Dur adalah pejuang kemanusiaan dan toleransi, ketika ia mengupayakan agama Kong Hu Chu untuk diresmikan menjadi agama yang diakui secara nasional. Ditambah lagi, penghormatan kepadanya oleh masyarakat Tionghoa karena Gus Dur mencabut Inpres No. 14 Tahun 1967 yang melarang seluruh kegiatan yang berhubungan dengan etnis Tionghoa.

Dengan kegigihannya memperjuangkan ukhuwah insaniah, serta kecintaannya terhadap kemanusiaan. Pada tahun 2014, Gus Dur mendapat gelar kehormatan sebagai Bapak Tionghoa Indonesia dari Komunitas Tionghoa Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong (Rasa Dharma) Semarang.

Pemimpin yang Berdaulat

Dalam menunaikan amanah rakyat dan tugas negara, budayawan Emha Ainun Nadjib dalam bukunya Kagum Kepada Orang Indonesia (2005). Cak Nun mengakui keunggulan dan kualitas seorang Gus Dur, bahwa sejak Presiden Abdurrahman Wahid, dunia terperangah terhadap keunggulan kualitas bangsa Indonesia. Meskipun punya kekurangan secara fisik, Presiden ini sanggup menggemparkan bumi dan langit. Sehingga setiap makhuk di alam semesta tak ada yang tak membicarakan dan mempergunjingkan beliau dalam nada yang penuh cinta dan decak kagum.

Setali tiga uang, Virdika Rizky Utama penulis buku Menjerat Gus Dur (2019), menyatakan bahwa, Gus Dur dalam usahanya mendemokratisasi Indonesia menempatkan rakyat sebagai subjek yang berdaulat. Bukan seperti yang selama ini masih terjadi, yang sah berdaulat hanya pemerintah dan parpol. Rakyat hanya diakui dan dibutuhkan ketika pemilu berlangsung dan banyak transaksi di belakangnya. Sungguh tak memanusiakan dan juga sebuah peradaban politik yang dangkal.

Dari Gus Dur, lanjutnya, kita belajar tentang konsistensi sikap. Ketika masih di luar kekuasaan, ia terus membentuk, memperjuangkan, dan merawat idealismenya terutama tentang demokrasi. Dan ketika berada di dalam kekuasaan, Gus Dur memperjuangkan idealismenya agar dapat terwujud.

Baca Juga  Pendidikan Anak ala Maria Montessori
Gus Dur Memandang Konsep Negara Islam

Syafi’i Anwar dalam Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Membingkai Potret Pemikiran Politik KH Abdurrahman Wahid (2006), menjelaskan argumen Gus Dur mengenai gagasan tentang negara Islam.Penolakan Gus Dur terhadap formalisasi, ideologisasi, dan syariatisasi itu mendorongnya untuk tidak menyetujui gagasan tentang negara Islam.

Seperti yang sering dinyatakan olehnya, Gus Dur secara tegas menolak gagasan negara Islam. Sikapnya ini didasari dengan pandangan bahwa Islam sebagai jalan hidup (syariat) tak memiliki konsep yang jelas tentang negara.

Sepanjang hidupnya, Gus Dur telah mencari dengan sia-sia makhluk yang bernama negara Islam itu, “Sampai hari ini belum juga saya temukan. Sehingga saya sampai pada kesimpulan bahwa Islam memang tak memiliki konsep tentang bagaimana negara dibuat dan dipertahankan”.

Dasar yang dipakai Gus Dur ada dua. Pertama, bahwa Islam tidak mengenal pandangan yang jelas dan pasti tentang pergantian kepemimpinan. Itu terbukti ketika Nabi Muhammad SAW wafat dan digantikan oleh Abu Bakar.

Pemilihan Abu Bakar sebagai pengganti Rasulullah dilakukan melalui bai’at oleh para kepala klan dan wakil-wakil kelompok umat yang ada pada waktu itu. Sedangkan Abu Bakar sebelum wafat menyatakan kepada kaum muslimin, hendaknya Umar bin Khattab yang diangkat untuk menggantikan posisinya.

Itu berarti sistem yang dipakai adalah penunjukan, sementara Umar menjelang wafatnya meminta agar penggantinya ditunjuk melalui sebuah dewan ahli yang terdiri dari tujuh orang. Lalu dipilihlah Utsman bin Affan untuk menggantikan Umar. Selanjutnya, Utsman digantikan Ali bin Abi Thalib.

Kedua, besarnya negara yang diidealisasikan oleh Islam pun tak jelas ukurannya. Nabi Muhammad meninggalkan Madinah tanpa ada kejelasan mengenai bentuk pemerintahan kaum Muslimin.

Tidak ada kejelasan, misalnya, negara Islam yang diidealkan bersifat mendunia dalam konteks negara-bangsa (nation-state), ataukah hanya negara negara-kota (city-state). Sebab fokus utama Nabi Muhammad saat menyebarkan Islam adalah lebih tertuju pada upaya untuk mempersatukan para pemeluk Islam (al-wihda al-ijtima’i) daripada membangun sebuah negara atau sistem pemerintahan.

Baca Juga  Perempuan dalam Wacana Filsafat, Iris Murdoch
Gemar Berkelakar

Menurut orang terdekat, Gus Dur tidak hanya sosok yang humanis dan pluralis, namun juga dikenal humoris. Gus Dur kerap bercanda dalam setiap kesempatan. Banyak sekali joke Gus Dur yang begitu mengelitik.

Alkisah, suatu ketika Gus Dur dirawat di RS Gatot Subroto. Menjelang malam tetiba Gus Dur minta pindah rumah sakit. Permintaan itu disampaikan kepada Kirun, budayawan Jawa Timur yang kebetulan ikut menemani Gus Dur.

Kirun pun menghubungi Yeni Wahid, putri Gus Dur. Singkat cerita, akhirnya Gus Dur dipindahkan ke RS MMC (Metropolitan Medical Center).

Pada pagi harinya sekira pukul 08.00, Gus Dur meminta Kirun menghubungi pihak RS Gatot Subroto untuk menanyakan apa yang terjadi di rumah sakit itu pasca Gus Dur pindah. Kirun pun akhirnya menghubungi pihak RS Gatot Subroto.

Setelah mendapat kabar, Kirun langsung menyampaikannya kepada Gus Dur.

“Anu, Gus. Setelah njenengan pindah semalam, 4 pasien yang berdekatan dengan njenengan meninggal dunia tepat lewat tengah malam,” ujarnya.

Mendengar kabar itu, Gus Dur mengembuskan nafas perlahan dan bilang, “Makannya aku minta pindah rumah sakit. Sudah dari Maghrib tadi aku lihat malaikat seliweran di Gatot Subroto. Aku takut malaikat salah ambil, nanti malah aku yang diambil malaikat,” jawab Gus Dur. Kirun terdiam sejenak. Kemudian geleng-geleng kepala, lantas tertawa.

Demikianlah sepak terjang Gus Dur dalam menebar toleransi dan mencintai kemanusiaan di negeri yang sangat dicintainya ini. Dan kita sebagai pemuda harapan bangsa sudah seharusnya senantiasa menebar toleransi agar perdamaian dapat kita tuai di masa mendatang.

Seperti yang pernah dituturkan olehnya, “Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya,” seperti itulah seyogianya kita agar saling menghormati, mengasihi, serta merayakan perbedaan ini. (Editor : Jajang)

Bagikan
Post a Comment