f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Memetik Hikmah dari Sepenggal Kisah Perjuangan Kartini

Oleh: Anisa Purwa Ningrum*

Setiap tanggal 21 April, kita memperingati hari lahir Raden Ajeng Kartini sebagaimana yang telah ditetapkan presiden Soekarno dalam Kepres No, 108 tahun 1964. Kita yang lahir belakangan ini kemudian mengenal sosok Kartini sebagai salah satu pahlawan kemerdekaan.

Dalam buku-buku sejarah, Kartini digambarkan sebagai sosok perempuan yang berani dan kritis terhadap masalah yang terjadi di sekitarnya, terutama bidang pendidikan. Ayahnya seorang Bupati Jepara yang dikenal dengan nama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat.

Darinya, Kartini banyak belajar dan dapat merasakan manisnya pendidikan kala itu.

Bersama adik-adik perempuannya, Roekmini dan Kardinah, mereka disekolahkan dan didukung belajar bahasa Belanda oleh sang ayah. Kartini bersekolah di Europese Lagere School (ELS).

Sebuah sekolah yang isinya orang-orang Belanda dan orang-orang Bangsawan Jawa.

Semangatnya menuntut ilmu membuat ia dikenal sebagai perempuan Jawa yang cerdas di kalangan teman-temannya.

Kemampuannya merangkai kata berbahasa Belanda tertuang dalam banyak tulisan yang dimuat di beberapa majalah termasuk majalah De Hollandsche Leile. Dalam tulisannya ia dengan tegas mengatakan, untuk mengangkat derajat perempuan Indonesia, pendidikan bagi mereka mutlak perlu.

Melalui tulisan-tulisannya yang menggugah tentang perempuan Hindia (Indonesia) namanya menjadi tersohor hingga daratan Belanda.

Sayangnya, para pejabat Belanda menganggap kemajuan pemikiran Kartini yang melampaui zamannya tersebut akan membahayakan kolonialisme Belanda. Mereka pun mensiasati dengan menggagalkan kepergian Kartini menimba ilmu di Belanda.

Kartini mendengar kedua adiknya mendapat beasiswa melanjutkan sekolah ke Belanda. Sedangkan ia tidak seberuntung adik-adik perempuannya. Kartini merasa terpukul. Gundah gulana hati Kartini, tak sanggup dipendamnya sendiri.

Sehingga Kartini pun mengirim surat pada Stella Zeehandelaar berbunyi, “kami ini hanya manusia biasa, wanita Jawa dalam tembok tradisi yang kukuh.” Tulisannya sarat akan perjuangannya yang selama ini menolak tradisi adat yang memposisikan perempuan sebagai kaum rendah.

Baca Juga  Mumpuni Handayayekti Dai Muda Asal Cilacap

Kaum yang tidak sejajar dengan laki-laki. Kaum yang mengharuskan mereka kembali ke rumah mencium tanah dan menyembah kaki laki-laki. Pupus sudah cita-citanya melanjutkan sekolah lagi.

Namun, kenyataan yang pahit itu pelan-pelan diterimanya. Semangatnya memperjuangkan pendidikan perempuan tak pudar. Kartini mulai membujuk gadis-gadis Jepara belajar membaca dan menulis.

Hari demi hari ia habiskan dengan mengajar anak-anak perempuan. Hingga akhirnya pada bulan enam tahun 1903, ia berhasil mendirikan sekolah untuk kaum perempuan. Di tengah perkembangan sekolah perempuan yang didirikannya, singkat cerita datanglah surat lamaran dari Bupati Rembang, Raden Mas Djojo Adiningrat.

Sang ayah, RMAA Sosroningrat yang masih dalam kondisi sakit keras kemudian menyarankan Kartini menerima lamaran dari sahabatnya itu. Sebab cinta Kartini pada sang ayah dan keluarga, maka luluhlah hati Kartini. Ia tidak ingin penolakannya membuat kondisi ayahnya semakin memburuk.

Dia pun menyanggupi saran dari sang ayah. Lamaran Bupati Rembang diterimanya dengan hati yang remuk berkeping-keping.

Kartini menulis sebuah surat yang ia kirimkan pada seorang teman Belandanya, Rosa Abendanon. “Saya (kini) adalah tunangan Bupati Rembang, seorang duda dengan tujuh anak dan dua istri (selir). Mahkota saya sudah lenyap dari dahi saya. Sekarang saya tidak lebih sedikitpun dari yang lain. Saya seperti ribuan (perempuan) lainnya yang hendak saya tolong, tetapi ternyata jumlahnya hanya saya tambah saja. Aduhai Tuhanku, bernarkah ini kehendak-Mu? Ampunilah saya, belas kasihanilah saya. Berilah saya kekuatan untuk menanggung penderitaan saya.” Demikianlah isi surat Kartini.

Pada 8 November 1903 Kartini resmi menikah dengan RM. Djojo Adiningrat, namun dengan beberapa persyaratan yang diajukan oleh Kartini. Syarat pertama, setelah menikah dia dibolehkan mendirikan sekolah bagi anak perempuan di Rembang.

Baca Juga  Mengenal Imam Malik : Ulama Ilmu Fikih dan Hadis

Syarat kedua, ia dibolehkan tidak mengikuti adat mencium kaki suami. Maka, menikahlah Kartini dengan menggunakan kebaya sederhana, tanpa baju pengantin dan tanpa mencium kaki suaminya.

Kepada sahabat pena, Rosa Abendanon, ia meminta hadiah pernikahan berupa buku-buku karya Tolstoy, Vosmaer, Ritter, Limburg Brouwer, Jonathan, Kipling, dan masih banyak lagi.

Daftar buku-buku tersebut di antaranya merupakan novel, filsafat sajak, dan drama. Dapat kita ketahui betapa tingkat intelektualitas Kartini sangat tinggi pada masanya.  Kisah kehidupan Kartini yang penuh perjuangan berakhir pada 17 September 1904.

Ia meninggalkan anaknya bernama Soesalit yang baru berusia empat hari.

Perjuangan Kartini yang mengangkat derajat kaum perempuan, seharusnya membuat kita sadar diri. Perempuan tidak pantas dihina, direndahkan, apalagi dilecehkan.

Selebrasi 21 April jangan hanya kita maknai sebagai hari ibu kita Kartini, melainkan refleksi diri bahwa setiap perempuan mempunyai mahkota yang bertengger di puncak kepalanya.

Jagalah mahkota tersebut agar tidak jatuh dengan cara menguasai pengetahuan. Berlimpahnya sumber pengetahuan yang bisa kita dapatkan gratis saat ini melalui teknologi digital selayaknya kita gunakan dengan bijak.

Mengertilah, kondisi kaum perempuan di zaman Kartini tidak dengan leluasa memperoleh ilmu. Mereka harus melewati berbagai rintangan, dianggap berbeda, dikucilkan, hingga diteror oleh kolonialisme Belanda.

Kini, kita ikut merasakan imbas perjuangan itu. Nikmatnya ilmu bagai penerang jalan kehidupan. Bangkitlah para perempuan, kita adalah tonggak peradaban yang melahirkan generasi-generasi hebat di masa mendatang.

*Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada

Bagikan
Post a Comment