Perempuan: Diberdayakan, Bukan Diperdaya
Oleh: Hendra Hari Wahyudi*
Seorang perempuan mempunyai keistimewaan tersendiri, meski kadang mereka dibilang lemah tak sekuat seorang lelaki. Mungkin secara fisik benar, namun sebenarnya perempuan mempunyai kekuatan yang juga besar, apalagi ketika perempuan sudah menjadi seorang ibu. Ia mampu menahan lelah dan letih selama sembilan bulan ketika sang buah hati masih dalam kandungan, ia bertaruh nyawa saat anaknya akan lahir ke dunia.
Perempuan merupakan perhiasan dunia yang di sampingnya terdapat harta dan tahta, karena saking berharganya ia dalam sebuah kehidupan. Namun, perempuan masih sering dianggap lemah, padahal kini perannya semakin merambah diberbagai bidang.
Lebih jauh, perempuan adalah seorang ibu bagi anak-anaknya. Dimana ibu mempunyai banyak peran bagi kehidupan anaknya, mulai dari mengandung hingga membesarkan dan mendidik anaknya.
Perempuan itu Diperdayakan, Bukan Diperdaya
Dari usia remaja sampai beranjak dewasa, banyak para perempuan yang sering kita lihat menjadi korban, entah kekerasan fisik ataupun mental. Dilansir Kompas.com (6/3/2020), Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat sebanyak 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi sepanjang 2019.
Jumlah tersebut naik sebesar 6 persen dari tahun sebelumnya, yakni 406.178 kasus. Ini menunjukan masih terdapat tindakan kurang terpuji terhadap kaum hawa, meski sudah banyak perempuan yang sudah berkemajuan dengan perannya diberbagai bidang.
Perempuan memang harus kita berdayakan, karena pastinya setiap dari mereka mempunyai bakat minat yang mungkin bisa menjadi modal bagi kemanfaatan dirinya dan juga masyarakat.
Memberdayakan mereka dengan memberikan kesempatan untuk mengasah keterampilan merupakan cara yang baik dalam memperlakukan kaum hawa, apalagi di zaman digital sekarang ini, para perempuan bisa melakukan sesuatu dari rumah.
Entah sebagai penjual di online shop, atau pun lainnya, selama masih dalam koridor yang sejalan dengan hukum agama dan negara. Meski sekarang sering kita jumpai, para perempuan berjualan apapun di media sosial, dari kosmetik hingga makanan. Namun, terkadang dalam realita kehidupannya, masih terdapat tekanan batin. Bukankah perempuan itu mempunyai perasaan yang halus dan sensitif? Makanya mereka mudah sekali baper (bawa perasaan) meski hanya melihat drakor (drama korea).
Kita sebagai lelaki (suami), harus pinter dalam menjaga perasaan seorang perempuan (istri). Karena terkadang mereka tak sama, apa yang mereka ucap dengan yang mereka rasa, mungkin teka-teki terbesar seorang lelaki adalah menebak-nebak perasaan perempuan.
Maklum, mereka biasanya maunya di mengerti, seperti bait lagu dari Ada Band. Lewat tutur lembut dan laku agung, Karena perempuan ingin dimengerti, Manjakan dia dengan kasih sayang. Seperti itu pula Rasulullah dalam bersikap terhadap istrinya, ketika sedang marah kepada Aisyah, beliau berkata, “Tutuplah matamu!” Kemudian Aisyah menutup matanya dengan perasaan cemas, khawatir dimarahi Rasulullah.Nabi berkata, “Mendekatlah!” Tatkala Aisyah mendekat, Rasulullah kemudian memeluk Aisyah sambil berkata, “Humairahku, telah pergi marahku setelah memelukmu.”
Sungguh mulia akhlak Nabi Muhammad SAW dalam memperlakukan istrinya, kita pun (sebagai suami) seharusnya bisa meneladaninya. Bukankah suami yang baik adalah mereka yang baik terhadap istrinya? Dalam hadits, Rasulullah bersabda;
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Lelaki yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
Perempuan, perempuan, istri, apapun sebutannya, mereka sudah seharusnya kita hargai, bukan malah memperdayainya. Terkadang kita sering melihat para anak muda (perempuan) yang sering menjadi korban tipu daya, ketika mereka menjalin hubungan dengan lawan jenis, sebut saja pacaran.
Sejatinya, berpacaran memang banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya, namun terkadang kaum muda mengesampingkan hal itu demi obsesi tertentu, termasuk hawa nafsu. Maka tak heran agama melarang hal tersebut, banyak yang menjadi korban perasaan hingga masa depan atau bahkan nyawa.
Semua karena memperdayai satu sama lain, memang tak semua lelaki melakukan hal tersebut, namun terkadang perempuan lah yang menjadi korban, termasuk korban perasaan.
Maka dari itu, angka tingkat kekerasan terhadap perempuan diatas merupakan data yang bisa kita jadikan renungan dan lebih memperlakukan kaum hawa dengan baik lagi. Allah berfirman tentang bagaimana seharusnya memperlakukan kaum perempuan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa [4]: 19)
Maka, sudah seharusnyalah kita berbuat baik kepada mereka (perempuan), bukankah kita juga terlahir dari rahim seorang ibu? Perempuan patutnya kita berdayakan, dimana mungkin dengan potensi yang mereka miliki dapat berguna bagi dirinya dan juga orang lain.
Tidak sepatutnya kita memperdayainya, karena tanpa mereka mungkin kita tidak akan lahir ke dunia. Ketika ada bisikan jahat yang mengarah pada kekerasan terhadap perempuan ataupun hal buruk lainnya, baiknya kita mengingat ibu kita, mungkin dengan itu kita bisa menghapus perasaan atau niat tidak baik tersebut.
Perempuan Zaman Now
Persepsi perempuan hanya di rumah saja, yang akrab dengan dapur pun kini sudah terkikis. Sekarang, perempuan mempunyai kegiatan ataupun peran yang hampir sama dengan lelaki.
Tak hanya soal masak, dan dandan, perempuan juga bisa mengolah suatu lembaga bahkan perusahaan, juga banyak yang mahir dalam mendandani (memperbaiki) suatu masalah, tidak hanya mendandani wajah.
Semua lini seakan tersentuh olehnya, bukti para kaum hawa semakin mendapatkan dan menunjukan eksistensinya. Mereka tak hanya terdidik secara intelektual, namun juga moral.
Seiring terdidiknya akal dan moral, maka mereka semakin sulit untuk diperdayai. Para perempuan semakin banyak yang cerdas, hingga bias gender pun seakan tak lagi ada. Mereka mempunyai hak, dan kesempatan yang sama dengan laki-laki.
Tentunya dalam hal tertentu dan sesuai tuntunan agama, karena jika mereka (sebagai) istri, pastilah harus taat pada suami mereka selama masih dalam ajaran agama. Dan kita (suami), haruslah menghormati istri kita, memperlakukannya dengan cara yang baik serta menjaganya, sebagaimana dalam Al Qur’an Allah berfirman;
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka perempuan yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisa’: 34)
Maka, perempuan di zaman digital saat ini, harus kekinian dengan dapat memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya untuk diberdayakan menuju kepada sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Karena perempuan harus cerdas secara akal dan moral, agar tak mudah diperdayai.
Jika mereka sebagai seorang istri, sudah seharusnya mereka taat dan patuh terhadap suami selama masih dalam ketentuan yang di syariatkan agama. Begitupula kita (sebagai suami), sudah menjadi kewajiban kita memuliakan istri, memperlakukannya dengan cara yang baik, karena istri adalah pakaian bagi suami, berarti cerminan dari diri kita (para suami). Semoga tidak ada lagi kejahatan yang melibatkan dan mengorbankan perempuan, dan semoga pula perempuan-perempuan di Indonesia menjadi perempuan berkemajuan yang memegang teguh iman.
*Penulis adalah seorang Guru asal Lamongan

Guru, jurnalis, kader Muhammadiyah dan penikmat sepakbola asal Lamongan.
