Pelajaran Cinta dari Erich Fromm
“Cinta adalah pemberian yang rela, bukan pengorbanan yang dungu. Pecinta yang baik adalah pemberi yang ikhlas”.
Saya telah menuliskan kutipan kalimat di atas pada tanggal 25 Agustus lalu, di akun facebook. Sesaat saya sedang berkontemplasi (merenung) di bibir pantai Parangtritis, Yogyakarta. Jangan membayangkan waktu itu sedang melamun, mendengarkan musik lagu-lagu perselingkuhan, dan atau menitikkan air mata. Tidak!, saya tidak selebai itu keless. Tetapi momentum itu, dalam debur ombak dan ribut pantai saya manfaatkan dengan baik untuk secara kontemplatif menghubungkannya dengan wacana yang lain: cinta. Apa pula hubungannya?
Begini, realitas percintaan muda-mudi dewasa ini seperti menggambarkan seorang individu remaja yang berenang di bibir pantai, selepas luas mata memandang, anggun sekali laut menggoda, maka tanpa pertimbangan panjang segera dinikmatinya air laut, diselaminya bibir samudera itu, perlahan dipandu tubuhnya untuk merasakan lebih dalam, sampai waktu, ia tak sadar ombak menyeretnya perlahan, tragis, ia tenggelam, tak tertolong. Percobaannya berakhir naas, ia diperbudak nafsunya untuk merasakan laut.
Kisah fiksional remaja tersebut diatas seperti menggambarkan realitas percintaan anak muda sekarang. Semisal seorang anak muda pria mencintai perempuan, ketertarikannya membuncah, tampak anggun sang puan, maka perempuan itu ia susur, berbincang di media sosial, bertemuan, diberinya coklat atau bebungaan, keduanya berelasi, ketertarikan bertukar keterikatan, mulanya harmoni, lalu berbalik pengaturan, pengekangan, dan kecemburuan.
Tak sadar, keduanya menjebak diri dalam relasi kuasa. Relasi kuasa menghilangkan kedirian masing-masing dan terasing, akhirnya mereka tenggelam dalam lautan cinta yang palsu serta rasa suka yang menipu. Orang-orang sekarang menyebutnya Bucin (Budak Cinta). Nahas, mereka kalah oleh perasannya sendiri.
Pelajaran Cinta dari Erich Fromm
Gambaran demikian memang telah dibenci oleh filsuf sekaliber Sartre, kekasih Simon de Beauvoir, ia mengatakan “cinta adalah kekalahan untuk mempertahankan identitas diri”. Dan memang demikian acapkali kenyataannya, pecinta sering dalam tabiatnya yang buruk justru mengasingkan seseorang dari kediriannya. Semisal begini, semula seorang remaja suka dengan Club sepak bola Barcelona, tapi lantaran kekasihnya penggemar Club Bayern Muenchen, maka bertukar pula minatnya, Messi yang disukainya itu tetiba dibenci berbalik cinta kepada Kingsley Coman, pencetak gol laga Champions silam. (bukan mengulik duka kekalahan Barca)
Contoh lain, seseorang begitu senang dengan baju berwarna biru, tetapi tetiba waktu sang kasih berujar “kamu cakep kalau pake baju warna kuning”, lalu beralihlah jua kesukaannya, semua benda dihadapan matanya disulap menjadi warna kuning. Seperti motor, cat kamar, baju-bajunya dan lain sebagainya. Demikian itu menggambarkan akibat buruk dari cinta: menenggelamkan identitas diri dan lalu melebur dengan identitas sang kasih.
Sintetis perkara cinta tidak belaka diucap Sartre, Erich Fromm, seorang psikoanalisis juga layak mendapat atensi tentang teori cintanya. Fromm menggambarkan pendefinisiannya tentang cinta dan hubungannya dengan manusia. Menurutnya, cinta adalah perbincangan tentang kemanusiaan, tepat pada sisi eksistensinya, sebab sebetulnya manusia sewaktu lahir di dunia ia telah terpapar keterpisahan dengan alam sebelumnya, keterpisahan ini melahirkan keterasingan dan kecemasan.
Tepat pada situasi itulah, manusia membutuhkan cinta dan dengannya maka cinta berguna mendapatkan tugasnya, yakni membimbing dua insan manusia untuk keluar dari keterasingan eksistensialnya. Syaratnya, cinta jangan sampai berwujud penyerahan penuh, jangan jua menjadi penguasaan penuh. Jika demikian adanya, cinta tak lain adalah harmoni kata yang sebetulnya adalah penindasan.
Cinta Bersifat Paradoks
Secara faktual, dan paradoksal, sejauh mata memandang dan pikiran mengurai, kini, dalam masyarakat kita, definisi cinta telah tereduksi dan keluar dari makna dan peran-fungsinya. Atas nama cinta, seorang suami melarang istrinya bekerja (yang dengannya pula ia melarang istrinya mendapatkan aktualisasi terbaiknya), atas nama cinta seorang Bapak memukuli anaknya, seorang anak merelakan dirinya, seorang pacar mengorbankan hidupnya. Kesemuanya itu menunjukkan paradoks cinta, sebuah cinta yang justru melahirkan sikap yang otoriter, memaksa, sadistic dan mosokis.
Lalu, bagaimana sebetulnya suatu relasi dikatakan berdasar cinta? From menjelasaknya dalam empat faktor: pertama, perasaan peduli pada kehidupan dan perkembangan orang yang kita cintai. Laku demikian ialah pembatalan terhadap ego pribadi, juga pengekangan yang menghambar perkembangan doi. Maka dengannya, bukan cinta seorang individu yang abai terhadap laju perkembangan individu yang dicintainya.
Kedua, rasa tanggung jawab yang penuh. Dalam maknanya yang dalam, jika sebuah relasi dibangun diatas fundamen cinta, maka tanggung jawab “keakuan” telah berganti tanggung jawab “kekitaan”, kita bertanggung jawab atas kebahagiaan, kebermaknaan dan kehidupan orang yang kita cintai. Ketiga, penghormatan. Bermakna penghargaan atas kehendak pasangan, pengakuan atas keunikan dan kelebihannya, lebih-lebih pemberian kesempatan untuknya berkembang sesuai dengan potensi kediriannya.
Keempat, pemahaman dan atau pengatahuan berkenaan dengan pasangannya, dan hanya demikian maka kita dapat melihat pasangan sebagai sosok yang bernilai. Pengatahuan atas diri pasangan adalah pemahaman atasnya.
Fromm telah menyibak problematika cinta dan kemanusiaan, yang dengannya muncul pula tesis bahwa sebetulnya cinta adalah solusi bagi segala laku penindasan yang semeriak di dunia moden bercirikan kapitalisme ini. Maka bila prinsip-prinsip tersebut diatas telah dengan cakap mampu diterapkan dalam laku keseharian, bukan saja relasi pacaran yang akan harmoni, tetapi jua hubungan orangtua-anak, pemerintah-rakyat, guru-murid, dan lain sebagainya.
Rahmania, simpulnya ialah: Rasa cinta jangan sampai merenggut kedirian kita, betapapun tarikannya sekuat gelombang ombak; menarik dan menenggelamkan kedirian. Dan diri kita adalah satu-satunya yang bertanggung jawab untuk bertahan. Cinta adalah pemberian yang rela, bukan pengorbanan yang dungu. Pecinta yang baik adalah pemberi yang ikhlas.
Dan demi itu, cinta harus membangkitkan pengharapan, menenggelamkan kekecewaan, dan menjatuhkan ego. Maka sudahi bermuram durja oleh cinta yang palsu, cinta yang menindas.

Ketua Umum DPD IMM DIY, Pendiri Organisasi Himpunan Pelajar Kritis-Gowa, pendiri Organisasi Pemuda Tabbinjai Berkarya, Kepala Madrasah Digital Yoyakarta, penulis buku “Meretas Jalan Pemikiran (Sebuah Pengilmuan IMM)”, penulis dalam buku “Mempersatukan Indonesia”
