Eksistensi Perempuan Zaman Dulu dan Sekarang
Beberapa pekan yang lalu, saya sebagai pegiat situs-situs lowongan pekerjaan, menemukan begitu banyak komentar berkonotasi negatif terhadap dominasi perempuan pada setiap lowongan pekerjaan yang ada. Pekerjaan A hanya membutuhkan perempuan, pekerjaan B hanya membutuhkan perempuan, pekerjaan C hanya membutuhkan perempuan. Ironisnya, para pencari kerja (laki-laki) yang sentimentil justru menganggap bahwa laki-laki sekarang teralienasi pada superioritas perempuan. Saya sebagai entitas akademisi yang tidak cenderung mengkontekstualkan hal-hal publik dengan afeksi sentimentil; berupaya menjelaskan kembali perjuangan kaum perempuan mengupayakan kesetaraan dalam ruang publik yang identik kompetitif ini berkaca pada sisi historis. Yang mana akhirnya, perempuan mampu bertanding secara fair dengan laki-laki.
Perlu diketahui kembali bahwa masyarakat kita masih melihat bahwa perempuan dan laki-laki bukan hanya berbeda secara biologis; tapi juga sebagai individual yang ‘berlawanan’. Hal itu bisa terstigmatisasi demikian karena budaya kita yang memolarisasi perbedaan ini sebagai sesuatu yang tidak akan pernah sama (selain dalam konteks biologis) dan perkara ini selalu digaungkan dalam banyak diskursus termasuk juga dalam konteks perbedaan peran yang saling berlawanan secara diametral di antara keduanya.
Contoh klasik kerap disebarluaskan dalam budaya maupun dalam kajian akademik naif di antara masyarakat kita. Terjadinya dualisme antara perempuan dan laki-laki yang sesungguhnya merupakan teori kuno yang berakar pada budaya Yunani-Roma dan Yudeo-Kristiani; yang diformulasikan secara gamblang oleh formulan-formulan tulen seperti Aristoteles; dan akar itu menjalar karena dikembangkan kembali oleh Aquinas, Rousseau, Hegel, Nietzsche, yang pada awal abad ke-20 dipertajam oleh Sigmen Freud.
***
Dalam konteks budaya Yunani-Roma misalnya, akan banyak kita temui bahwa perempuan dan laki-laki adalah sebagai sesuatu yang saling berlawanan. Gagasan radikal antara dua entitas yang dianggap berbeda ini menimbulkan begitu banyak pengaruh terhadap para pemikir di masa Yunani-Roma. Keduanya berlawanan bukan hanya karena perbedaan seks saja; tapi juga dibentuk oleh pemahaman akan gender (pembahasan mengenai gender tidak dibahas secara eksklusif, mungkin menyusul).
Konsep bahwa laki-laki dan perempuan adalah jahat merefleksikan mitos Pandora dalam tradisi Hesiodus yang beroposisi biner. Dalam mitos Pandora, digambarkan bahwa isi dunia pada awalnya hanya dihuni oleh kaum lelaki dan hewan-hewan untuk bahan pangan manusia, selain juga tetumbuhan. Dalam dunia manusia yang gelap, salah satu manusia kuat, Titan, berusaha mencuri api dari Zeus untuk menerangi bumi. Saat Zeus mengetahui hal tersebut, murkalah ia, sehingga Zeus menciptakan sesuatu “kejahatan”, “kutukan”, “jebakan yang mematikan bagi manusia; yakni perempuan pertama: Pandora”.
Dalam gambaran mitos tersebut, bisa ditemui bahwa laki-laki identik dengan suatu kecermelangan transenden dan imanen (metafor kebertuhanan manusia); sementara perempuan selalu diidentikan dengan jahat, salah, melengkung, gelap, budak, dan plural. Inferioritas perempuan dipertegas sejak kemunculan Simone de Beauvoir dalam dunia kesusasteraan.
Analisis Beauvoir terhadap eksistensialisme untuk perempuan dengan menerangkan bahwa laki-laki dinamai “laki-laki” sang Diri, sementara “perempuan” disebut sang Liyan. Jika Liyan adalah ancaman bagi Diri, maka perempuan adalah ancaman bagi laki-laki Oleh karena itu, apabila laki-laki tetap ingin bebas, maka ia harus mensubordinasi perempuan. Analoginya seperti orang miskin tahu bagaimana rasanya diopresi oleh orang kaya. Orang kaya, agar tetap di atas; maka ia harus menciptakan jarak dengan orang miskin dan untuk mempertahankan itu adalah dengan menempatkan orang miskin dalam posisi subordinat. Tema-tema bahwa perempuan lemah, tidak dapat berpikir, perlu dilindungi, dan lain sebagainya, bisa ditemukan dalam tulisan-tulisan klasik dari Plato dan Aristoteles seperti: Symposium, Timaeus, hingga Politics.
***
Sementara pada konteks budaya Yudeo-Kristiani, perempuan pun masih terlempar dari kesederajatan. Penggambaran dunia yang patriarkis termanifestasi dalam konteks teologinya (kita kenal Allah Bapak, Allah Putra); kemudian dalam struktur sosialnya (kepausan, keuskupan, dan keimanan yang semuanya laki-laki); maupun dalam banyak pengajaran yang berwajah kebencian terhadap perempuan (termasuk: Paulus, Aquinas, maupun Tertulianus). Dalam budaya patriarki seperti ini, perempuan ditempatkan secara tidak bijak dan terinjak-injak. Bahkan dalam banyak literatur klasik dapat kita temukan bahwa perempuan adalah “sumber dari segala sumber dosa”, ia adalah dosa awal, dan seterusnya.
Thomas Aquinas dalam bukunya, Civitate Dei atau the City of God (khususnya buku ke-15) mengatakan bahwa, “melalui seorang perempuan, maka dosa pertama datang, dosa membawa kematian bagi kita semua.” Atau dalam Summa Theologie akan banyak dijumpai beberapa teks yang mengatakan bahwa, citra Allah ditemukan dalam diri laki-laki, dan tidak dalam diri perempuan. Pun terdapat dalam tulisan Albertus Agung, Bapak Gereja guru dari Thomas Aquinas, yang pernah menuliskan bahwa, “perempuan kurang layak bagi tingkah laku moral… Perempuan tidak tahu apapun tentang kesetiaan… Perempuan merupakan laki-laki yag salah diperanakkan dan memiliki sedaran dasar serta kodrat yang menipu dalam perbandingannya dengan laki-laki, perasaan mendorong perempuan untuk berjalan menuju setiap kesalahan, sama seperti rasio mendorong laki-laki untuk menuju kebaikan.
Dalam konteks yang agak berbeda, perempuan selalu juga diidentikkan dengan penggoda syahwat, penjual gumpalan-gumpalan daging yang ada di tubuhnya, pengguncang iman lelaki, dll; sehingga memerosokkan laki-laki dalam kubangan dosa yang tiada henti dan ujung. Di mana semua teks itu merujuk pada penghancuran citra perempuan sebagai makhluk yang sederajat dengan laki-laki.
Kedua tradisi di atas terlembaga sangat dalam pada benak kaum laki-laki, sehingga menyediakan ruang bagi kondisi-kondisi penghapusan perempuan dalam dunia. Perempuan yang dikubur hidup-hidup dalam sejarah Jahiliyah di dunia Arab, pemasungan perempuan di China, kremasi perempuan hidup di India, perusakan genital perempuan di Afrika, memperburuk catatan sejarah perempuan berdiamteral dengan kelaluan. Dewasa ini, kelihatannya, kehadiran perempuan justru dinanti bahkan ditunggu-tunggu. Perempuan, khususnya kebertubuhannya, sekarang menjadi penantian lawan jenisnya, yang pada periode lalu berusaha menistakan mereka. Oleh karena itu, budaya yang berkembang, globalisme dan neo-liberalisme, secara holistik membangun citra perempuan sedemikiran rupa, sehingga menjadi “barang” komoditas yang dirasa kurang bila tidak menyertakan kehadirannya. Tepatnya dalam konteks kebertubuhannya, sensualitasnya, dan seksualitasnya.
Daftar Pustaka
Rosemarie Putnam Tong, Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis, (Yogyakarta: Jalasutra, 2017)
Ketika aku menulis, aku bukan lagi Roy Widya Pratama
