f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan

Perempuan Tangguh dan Berdaya Cerminan Keluarga Sejahtera

Berkembangnya media sosial seperti Twitter, Instagram, Youtube bahkan Tiktok membuat gaung fenomena baru. Tidak hanya perihal Citayem Fashion Week ataupun hal receh yang notabanenya banyak digemari masyarakat; melainkan juga bahasan tentang perempuan mandiri yang tidak bergantung pada laki-laki dan mampu berdiri di atas kakinya sendiri begitu banyak berseliweran di sosial media. Konten tersebut membentuk pola pikir beragam di kalangan perempuan itu sendiri. Ada yang beranggapan tidak perlu berumah tangga pun mereka mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri; ataupun banyak perempuan yang tersadar bahwa sebenarnya ia mampu berdaya dengan kekuatannya sendiri dan tidak melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan.

Sebagai perempuan yang hidup dengan kedua orang tua berwirausaha, maka konsep perempuan berdaya sebenarnya sudah tertanam dalam benak saya sedari kecil. Ibu memiliki peran ganda di rumah, yakni selain berperan dalam pengasuhan anak termasuk pengatur urusan rumah tangga; Ibu juga berperan membantu stabilitas ekonomi. Tentunya keputusan yang di ambil dalam keluarga; termasuk sosok Ibu yang membantu dalam perekonomian adalah karena tekanan kebutuhan hidup itu sendiri. Apalagi jika sudah berkeluarga dan memiliki anak; maka akan semakin besar tugas dan tanggung jawab kedua pasangan dalam memenuhi hak anaknya untuk hidup. Dan pada akhirnya, tujuan dari kegiatan ekonomi itu sendiri adalah untuk mencapai kebahagiaan dalam rumah tangga. Kebahagiaan merupakan tujuan utama dalam kehidupan manusia. manusia akan memperoleh kebahagiaan jika seluruh kebutuhannya terpenuhi; baik dalam aspek material maupun spiritual, dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Di Indonesia sendiri UMKM atau wirausaha lebih didominasi oleh perempuan sebagai pemilik usaha ataupun sebagai pekerja; di mana dari data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah tenaga kerja perempuan pada tahun 2020 mencapai 55,5%. Jumlahnya tentulah besar dan jika diberdayakan dengan baik bukan hanya ekonomi keluarga saja yang terbantu melainkan juga mampu mendongkrak ekonomi negara. Sekarang kita pun banyak menemukan berbagai tulisan berita, artikel maupun jurnal yang berbicara mengenai dampak perempuan bagi perekonomian. Ini menjadi bukti bahwa perempuan mampu diperhitungkan dalam kancah perekonomian.

Baca Juga  Perempuan Tangguh Di Balik Peristiwa Hijrah (2)

Puan Maharani, Ketua DPR RI saat ini, pernah mengatakan dalam pidatonya yang dimuat oleh situs berita online Liputan 6 bahwa jika perempuan diberikan peran lebih besar; hal ini akan mempercepat proses pemulihan ekonomi global di suatu negara. Womenomics atau pelibatan lebih besar perempuan dapat menjadi penggerak ekonomi, baik dalam masa normal maupun krisis. Menurutnya, partisipasi perempuan seharusnya bukan sekedar kebijakan afirmatif, melainkan juga kesadaran atas penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia.

Kesadaran berbagai elemen tentang partisipatif aktif perempuan di bidang ekonomi tentunya membawa angin segar terhadap isu kesetaraan gender. Setara tidak harus berbicara siapa yang paling mendominasi; melainkan keduanya dapat bersama-sama membagi secara adil aktifitas kehidupan untuk mencapai kesejahteraan itu sendiri.

Berdasarkan hasil survey BPS yang menyatakan bahwa 55,5% UMKM di Indonesia didominasi oleh kaum perempuan, harusnya dijadikan titik fokus kegiatan pemberdayaan ekonomi perempuan. Artinya, sektor ini layak mendapat perhatian khusus di bidang pemberdayaan perempuan. Hal yang masih menjadi persoalan saat ini banyak perempuan melakukan aktifitas ekonomi di sektor usaha kecil sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga hanya sebatas untuk hari ini.

Jarang sekali perempuan yang sudah memiliki visi terhadap usahanya, bahkan sekedar untuk setahun atau dua tahun kedepan. Apalagi ketika kita berbicara sektor usaha kecil dan menengah yang para ibu atau perempuan di pedesaan jalani; selain minim pengetahuan dasar dalam berbisnis mereka juga gagap teknologi atau kurang melirik teknologi sebagai model pemasaran baru. Padahal ketika dan pasca pandemic Covid-19 mereda, teknologi sudah menjadi teman akrab masyarakat Indonesia pada umumnya. Kemampuan memaksimalkan teknologi akan mempercepat dan memperlebar akses jangkauan usaha.

Baca Juga  Program KB, Kenapa Harus Perempuan?

Selain pemerintah, masyarakat yang memiliki kemampuan dalam bidang pengetahuan ekonomi pun dapat turun tangan membantu terpenuhinya aspek pemberdayaan perempuan di sektor usaha kecil dan menengah ini. Contoh yang pernah saya baca adalah ketika kampus yang ada di Indonesia menurunkan mahasiswa/i-nya untuk turut serta dalam proses pemberdayaan. Seperti dalam manuscript Pemberdayaan Ekonomi Rumah Tangga yang Terdampak Pandemi Covid-19 Melalui Usaha Mikro dan Kecil di Kelurahan Mustikajaya milik Universitas Trisakti. Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Trisakti menurunkan tim pengabdian masyarakatnya yang bekerjasama dengan Majelis Taklim di Masjid At-Taqwa, dalam mengatasi masalah yang masyarakat sekitar hadapi karena kehilangan sumber pendapatan keluarga akibat pemberhentian hubungan kerja; menurunnya omzet penjualan usaha mikro dan kecil, serta rendahnya kemampuan dalam mengelola keuangan dan penggunaan teknologi Informasi. Jadi sebenarnya, pemberdayaan pun bisa terlaksana atas kerja sama berbagai elemen dalam negara.

Dari berbagai hasil penelitian ternyata perempuan yang turut bekerja dalam menopang kebutuhan ekonomi keluarga mampu memberi sumbangan dalam penghasilan keluarga sebesar 40–60 % dari keseluruhan penghasilan keluarga (Pratiwi dalam Alfons et al, 2017; 2-3). Kesepakatan dengan pasangan bagi perempuan yang sudah menikah tentunya amat dibutuhkan. Sehingga bukan hanya tercipta kesejahteraan secara ekonomi, namun juga mampu mencapai sakinah, mawaddah, dan warahmah dalam keluarga.

Harapannya, ketika pemberdayaan perempuan menjadi agenda bersama antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan pemangku kepentingan; maka perempuan sebagai garda pembangun bangsa bukan hanya sebagai bahasan wacana yang menarik; tapi bisa terwujud dalam bingkai sehari-hari kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagikan
Post a Comment