f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
golden age

Golden Age, Pondasi Pendidikan Pertama

Memilihkan sekolah Islam terbaik dan termahal. Kemudian memilihkan pondok pesantren ternama. Orang tua tinggal terima beres, anak menjadi anak saleh dan salehah, cerdas, mandiri, dan berdaya saing.

Hei, pendidikan anak tak sesederhana menggunakan jasa laundry pakaian. Memasukan pakaian kotor kemudian keluar sudah bersih, rapi, dan wangi. Pendidikan anak merupakan sebuah proses yang panjang. Pendidik utama anak adalah orang tua. Tempat mendidik anak terpenting ada di dalam rumah. Sekolah adalah tempat pengajaran, bukan tempat pendidikan.

Mendidik anak dimulai jauh sebelum anak lahir ke dunia, sejak memilih pasangan. Generasi hebat lahir dari rahim perempuan yang kuat. Generasi tangguh tak mungkin berada dalam asuhan ayah yang suka mengeluh. Oleh karena itu, penting untuk memilih pasangan. Tak cukup melihat dari bibit, bebet, dan bobotnya. Namun, juga perlu memperhatikan bagaimana visi dan misi kehidupan keluarga di masa depan, apakah senada dengan visi dan misi yang ingin kita perjuangkan.

Kemudian pendidikan anak terus berlanjut sejak dalam kandungan, setelah ia lahir, hingga mereka tumbuh dewasa dan mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Pendidikan Usia Dini (PAUD) atau masa golden age menjadi pondasi pendidikan pertama yang sangat penting bagi anak. Ibarat sebuah bangunan, jika pondasinya kokoh maka gedung tinggi dengan puluhan lantai bisa berdiri tegak di atasnya. Namun saat pondasinya tidak kokoh, maka rumah satu lantai pun mudah roboh.

Tiga Fase Pendidikan Anak ala Sayidina Ali bin Abi Thalib

Fase 7 tahun pertama (0 – 7 tahun) perlakukan anak seperti raja. Fase 7 tahun kedua (8 – 15 tahun) perlakukan anak seperti tawanan perang. Terakhir, fase 7 tahun ketiga (16 – 21 tahun) perlakukan anak seperti sahabat.

Baca Juga  Membaca Ulang Merdeka Belajar: Antara Kebebasan Sekolah dan Kecerdasan Majemuk

Fase 7 tahun pertama atau yang sering disebut sebagai golden age, anak menjadi raja kecil di rumah. Orang tua belum bisa memberikan beban syariat agama pada anak di usia fase ini. Ingatkah akan kisah Rasulullah yang memanjangkan sujudnya tatkala cucunya menaiki punggung beliau? Rasulullah membiarkan cucunya bermain hingga puas meski saat itu beliau menjadi imam salat. Usai salat, Rasulullah tak lantas menghardik apalagi mencubit cucunya. Rasulullah meneladankan kepada kita bahwa anak usia dini belum bisa diberikan beban aturan agama.

Lalu, apakah orang tua harus selalu menuruti keinginan raja kecil di rumah? tentu saja tidak.  Kemudian bagaimana cara mendidik anak di masa golden age? Berikut ini beberapa hal-hal penting dalam membangun pondasi pendidikan anak di usia golden age.

Raja Kecil, Bukan Tuhan Kecil

Anak usia 0 – 7 tahun memang belum bisa “dipaksa” dan dibebani dengan syariat agama. Tapi bukan berarti mereka boleh berbuat sak penak udele dewe dengan dalih, “namanya juga anak-anak.” Orang tua yang selalu menuruti keinginan anak tanpa membedakan apakah hal tersebut merupakan kebutuhan atau sekadar keinginan, justru akan membuat anak tumbuh menjadi anak yang lemah dan mudah rapuh.

Pangeran Charles, seorang raja di Inggris sejak kecil mendapatkan pendidikan yang terbaik. Semua gerak-gerik sang pangeran diatur oleh protokol kerajaan yang ketat. Cara senyum, cara berjalan, cara makan, dan berbagai tetek bengek kehidupan sehari-hari dari yang receh hingga hal-hal besar, semua ada aturannya. Pangeran Charles tak boleh berbuat seenak hati karena jutaan mata di seluruh dunia mengawasinya. Jika sang pangeran melakukan kesalahan kecil atau besar, maka berisiko mencoreng nama baik Kerajaan Inggris.

Baca Juga  Ibu dan Cerita Anak

Memperlakukan anak seperti raja justru saat yang tepat untuk mengajarkan kepada mereka tentang adab dan berbagai nilai yang ingin kita tanamkan pada anak. Termasuk juga dengan sopan santun dan attitude dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini banyak remaja yang tidak memiliki tata krama, kemungkinan besar karena mereka tidak mendapat didikan sopan santun sejak dini.

Adab ketika bertamu dan bermain ke rumah tetangga juga perlu diajarkan, meskipun tetangga yang akrab. Tidak boleh lompat-lompat di sofa ruang tamu tetangga, membuat kotor, dan berlarian tak tahu aturan. Ketika mau meminjam mainan anak tetangga, harus meminta izin yang punya terlebih dahulu.

Bagaimana kalau anak tetangga tidak mengizinkan? maka kita perlu memberikan pengertian pada anak. “Duuh, mbak Aqila gak bolehin, kak. Kakak main mainan yang boleh dipinjam aja ya.” Hal kecil seperti meminta izin saat mau meminjam itu penting ya, agar kelak saat dewasa mereka tidak seenaknya mengambil barang yang bukan miliknya.

Teladan dari Rumah

Anak ibarat kertas putih. Fitrah setiap anak yang lahir di dunia adalah sama. Akan ditulis dengan tinta warna apa dan tulisan seperti apa sangat dipengaruhi oleh orang tuanya. 1000 nasihat akan terkalahkan dengan 1 teladan. Di masa golden age, ia ibarat sebuah spons yang menyerap apapun yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, teladan orang tua sangat penting untuk membentuk karakter anak.

Orang tua yang santun, anak akan meniru menjadi santun. Sebaliknya, jika orang tua sering berkata kasar maka dengan otomatis kata-kata kotorlah yang sering keluar dari mulut anak. Ingin memiliki anak yang baik, otomatis orang tua harus siap memperbaiki diri.

Pembiasaan Adalah Kunci

Pembiasaan erat kaitannya dengan kedisiplinan. Beberapa hal remeh yang perlu pembiasaan pada masa golden age, yaitu waktu bermain, waktu tidur, waktu makan, menempatkan sesuatu pada tempatnya, membereskan mainan usai bermain, dan mengucapkan salam setiap kali masuk rumah atau bertamu.

Baca Juga  Antara Kekeyi, Media Sosial dan Micro-Celebrity

Pembiasaan-pembiasaan ucapan pun tak kalah penting. Sebagai contoh membiasakan anak mengucapkan ‘terima kasih’ setelah mendapatkan bantuan, ‘tolong’ saat membutuhkan bantuan, ‘maaf’ setelah berbuat kesalahan, dan ‘permisi’ ketika lewat di hadapan orang tua. Pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan terus menerus akan mendarah daging dan menjadi karakter anak hingga ia dewasa.

Editor: Andi Eka Nur Wahyu

Penulis: Tri Nurhayati

Bagikan
Post a Comment