f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
keluarga

Curhat Keluarga : Bijak Bersikap

Salah satu konsep ideal dalam membangun rumah tangga adalah bertumbuh bersama di dalam ikatan cinta. Dan bertumbuh bersama bukan berarti rumah tangga yang dijalani bebas masalah. Terkadang saat menghadapi masalah keluarga, perasaan kecewa dan marah pada pasangan mendorong kita untuk bercerita kepada orang lain. Alasan klasiknya adalah karena ingin mendapatkan pendapat objektif dari orang lain atau sekadar ingin meyakinkan diri bahwa apa yang dirasakan adalah valid.

Menceritakan masalah keluarga ke orang lain adalah hal yang sangat sensitif karena menyangkut interaksi Kita dengan pasangan. Bahkan agama Islam menegaskan rahasia rumah tangga adalah hal penting yang tidak boleh diumbar. Lantas, perlukah sebenarnya menceritakan masalah keluarga ke orang lain? Bagaimanakah hukumnya menceritakan masalah keluarga ke orang lain dalam  Islam?

Pahala Bagi Pasangan yang Mampu Menyelesaikan Masalah Rumah Tangga dengan Baik.

Pertengkaran dalam rumah tangga, hampir pernah terjadi dalam semua keluarga. Tak terkecuali keluarga yang anggotanya orang baik sekalipun. Dulu keluarga Ali bin Abi Thalib dan Fatimah R.a, pernah mengalami masalah dalam keluarga, Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan;

Rasulullah mendatangi rumah Fatimah, dan beliau tidak melihat Ali di rumah. Spontan beliau bertanya: “Di mana anak pamanmu?” ‘Tadi ada masalah dengan saya, terus dia marah kepadaku, lalu keluar. Siang ini dia tidak tidur di sampingku.’ Kemudian Rasulullah bertanya kepada para sahabat tentang keberadaan Ali. ‘Ya Rasulullah, dia di masjid, sedang tidur.’ Datanglah Rasulullah ke masjid, dan ketika itu Ali sedang tidur, sementara baju atasannya jatuh di sampingnya, dan dia terkena debu. Lalu Rasulullah mengusap debu itu, sambil mengatakan;

قُمْ أَبَا تُرَابٍ، قُمْ أَبَا تُرَابٍ

Baca Juga  Sinergi Mencegah Bunuh Diri Anak di Masa Pandemi

“Bangun, wahai Abu Thurab bangun, wahai Abu Thurab” (HR. Bukhari 441 dan Muslim 2409).

Apapun kesedihan yang sedang kita alami itu sejatinya bagian dari ujian hidup. Sebagai orang beriman, jadikan itu kesempatan untuk mendulang pahala. Dari Abu Hurairah R.a., bahwa Nabi SAW bersabda:

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari 5641).

Tidak Baik Menceritakan Rahasia Pasangan Kepada Orang Lain

Bagian ini penting untuk kita perhatikan. Hal yang perlu disadari bagi orang yang sudah berkeluarga, jadikan masalah keluarga sebagai rahasia Kita berdua. Karena ketika masalah itu tidak melibatkan banyak pihak, akan lebih mudah untuk diselesaikan.  Bahkan agama Islam menegaskan rahasia rumah tangga adalah hal penting yang tidak boleh diumbar. Seperti yang difirmankan Allah SWT;

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ

Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.  (QS. Al-Baqarah:  187).

Ayat ini mengisyaratkan pasangan sebagai pakaian maka diwajibkan untuk saling menutupi dan menjaga kehormatan. Karena menjaga kehormatan keluarga adalah tanggung jawab bersama, artinya ada masalah-masalah keluarga yang sebaiknya tidak diceritakan kepada orang lain.

Allah SWT Menjadi Tempat Mengadu yang Paling Tepat

Curhat memang jadi pintu masuk ghibah dan membuka aib diri sendiri. Namun, bukan berarti curhat dilarang sepenuhnya. Selama tujuan curhat adalah untuk meminta nasihat tanpa membuka aib diri sendiri atau orang lain maka diperbolehkan. Selain itu, pastikan bahwa sebelum meminta masukan dari orang lain, dahulukan Allah. Datanglah kepada Allah terlebih dulu ketika ditimpa masalah.

Baca Juga  Sayap-Sayap Malaikat (1)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (QS. Qaf: 16).

Berceritalah Tentang Masalah Kepada Orang yang Bisa di Percaya

Masalah rumah tangga boleh diceritakan pada orang lain. terlebih jika itu membantu mengatasi persoalan rumah tangga. Seorang yang tengah mengalami krisis dalam rumah tangga, memang seyogyanya membutuhkan teman bercerita. Bahkan dianjurkan untuk menemui konsultan rumah tangga. Ajaklah pasangan bertemu pihak ketiga yang objektif seperti psikolog keluarga atau tokoh agama dalam menemukan solusi masalah keluarga. konsultasi dengan ahlinya akan membuat Kita berdua fokus memperbaiki masalah keluarga demi menciptakan hubungan keluarga yang harmonis.

Kunci Keharmonisan Keluarga Adalah Menciptakan Keseimbangan dan Kebersamaan

Agar cinta terus tumbuh meski menghadapi masalah keluarga diperlukan keseimbangan. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa suami-istri harus saling seimbang dalam menunaikan hak dan kewajibannya. Keseimbangan ini tidak hanya keseimbangan tugas dan cinta tapi juga keseimbangan pemasukan dan pengeluaran, keseimbanngan kemampuan dan keinginan. Kendati keseimbangan tidak selalu hadir dari persamaan yang mutlak, namun pada akhirnya menghasilkan kesamaan yang dirasakan bagi kedua pasangan.

Untuk melengkapi keseimbangan, dalam rumah tangga diperlukan kesamaan. Dimulai dari kesamaan dalam cinta. Harus sama-sama cinta, jika salah satunya tidak cinta maka pasti akan retak. Rasa cinta inilah yang kemudian membuat keduanya bertumbuh dalam penyatuan. Setelah itu maka muncullah kesamaan dalam kemanusiaan yang artinya mempunyai kesetaraan dalam kemanusiaan. Sehingga berhak mempunyai kesamaan dalam penghormatan sebagai manusia. Inilah yang akan membuat kehidupan rumah tangga meski penuh tantangan akan membuat suami-istri hidup bersinergi dalam langkah dan gerak ke arah yang positif. Keduanya saling punya perasaan yang sama dalam suka dan duka, saling terbuka dalam rasa saling menghormati.

Bagikan
Post a Comment