Menjadi Pasangan Seorang Ahli Gizi
Oleh: Hamzah Fansuri*
Ada banyak mitos yang kita bangun atas sebuah profesi. Di antaranya adalah keberuntungan yang akan menghinggapi bila menjadi pasangan dari tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, bidan, apoteker, dan jangan lupa, ahli gizi. Profesi terakhir ini sedikit unik karena berurusan dengan kebutuhan dasar setiap manusia yakni makan. Bahkan kalau boleh proposisi Cartesian yang tersohor itu dipelintir sedikit, para ahli gizi bisa menyebutkan kamu makan, maka kamu ada. Atau ala Aristotelian bahwa kita adalah apa kita konsumsi sehari-hari. Ya, memang urusan makanan menjadi tulang punggung perhatian para ahli gizi. Namun sebagai sebuah mitos atas profesi, di dunia medis itupun terdapat kasta-kastanya sendiri yang sulit diingkari sebagaimana juga berlaku di tempat-tempat lain.
Menjadi pasangan seorang ahli gizi berarti tengah dibayangkan sebuah kehidupan keluarga yang kaya akan nutrisi berkat kontrol dan penetapan menu yang baik. Lazimnya juga kita tahu bahwa ahli gizi cukup peka dan serius dalam setiap diet; termasuk keseimbangan nutrisi di setiap asupan serta bagaimana faktor-faktor kesehatan lainnya layak dipertimbangkan. Bagi yang belum akrab dengan kata diet, seringkali dimaknai keliru sebagai keperluan untuk melangsingkan badan. Padahal sesungguhnya setiap aktivitas konsumsi itulah yang dikatakan diet.
Ahli gizi dalam kehidupan berumah tangga khususnya, juga tidak pernah lupa memerhatikan tumbuh kembang anak. Hal ini untukpencegahan gagal tumbuh (stunting), sebuah fakta yang belakangan menarik perhatian pemerintah karena angkanya cukup tinggi di banyak daerah. Kenyataan ini menjadi tantangan tersendiri bagi para ahli gizi karena mereka akan cukup mengerti bagaimana nutrisi terpenuhi dari sejak dalam masa kandungan.
Mitos Jika Mempunyai Pasangan Ahli Gizi
Namun karena terlanjur mitos tentang sebuah privilege yang kita punyai jika berpasangan dengan seorang ahli gizi, maka perlu untuk mencermati bagaimana mitos itu berkembang di tengah-tengah masyarakat. Secara sosiologis, mitos istimewa terhadap sebuah profesi lahir dari trend modernitas yang mengukur banyak hal menggunakan nalar instrumentalis dan materialis secara bersamaan. Roland Barthes, seorang ahli mitologi menyebutkan mitos tidak bermaksud menunjukkan atau menyembunyikan kebenaran manakala menciptakan sebuah keyakinan. Ia (mitos) hanya berusaha menyimpang dari kenyataan karena fungsi utama mitos adalah untuk menaturalisasikan konsep dan kepercayaan. Dari situ, secara singkat mitos akhirnya bisa kita cermati dalam laku keseharian sekaligus melekat dalam masyarakat itu sendiri. Karena di mana ada manusia di situ ada kepercayaan atas sesuatu.
Sebagai pasangan dari seorang ahli gizi, tidak jarang saya mendengar komentar-komentar positif dari kolega dan keluarga terutama terjaminnya pola makan di keluarga yang sehat dan bernutrisi. Ya, hal itu juga yang tengah saya bayangkan jauh sebelum menjadikan seorang ahli gizi sebagai pasangan hidup. Pengalaman merantau dari Sumatera ke Yogyakarta untuk sekolah lanjut bukanlah mudah dalam urusan makanan. Bahkan berlaku hampir di semua kalangan mahasiswa dan pelajar rantau bahwa tidak setiap hari dapat mengonsumsi makanan yang layak. Layak itu, minimal menurut standar keterpenuhan nutrisi seimbang, yang dulu kita kenal dengan 4 sehat 5 sempurna itu. Keadaan jualah yang memaksa para perantau muda untuk mengabaikan jenis-jenis makanan bergizi bahkan kadangkala dengan dalih perjuangan hidup.
Anda mungkin punya cerita dan perspektif yang berbeda. Tapi untuk saya pribadi yang akhirnya menjadi pasangan dari seorang ahli gizi; segala komentar dan imaji awal tadi bisa dikatakan tidak sepenuhnya menjelma menjadi kenyataan. Sekali lagi, tidak seutuhnya yang berarti dalam momen-momen tertentu ada pembenarannya. Ya, mitos sepertinya sesekali perlu juga dinikmati, khususnya kalau itu bisa membuat kita bahagia meski sejenak.
Menjadi pasangan seorang ahli gizi dalam kehidupan berumah tangga juga tidak lepas dari pemahaman dasar bahwa di situ ada kehidupan kolaboratif. Prinsip inilah yang sedari awal saya ajak pasangan yang ahli gizi itu untuk berdiskusi dan bertukar pendapat. Artinya, meski dapat dipahami bahwa sebagai seorang ahli gizi ia akan sangat antusias untuk mempraktikkan segala daya ilmu yang pernah diperolehnya. Namun dalam kehidupan keluarga ceritanya menjadi berbeda. Perkara apa yang hendak dikonsumsi seluruh anggota keluarga adalah perkara yang tidak bisa dibawah kendali seorang istri yang meskipun kebetulan adalah seorang ahli gizi. Ingat, komunikasi dan pembagian peran adalah cara terbaik dalam segala urusan.
Pure of Relationship
Menjadi pasangan seorang ahli gizi sama halnya menjadi pasangan dengan profesi apapun itu. Karena sejatinya pasangan adalah sebentuk komitmen bersama yang disatukan dalam sebuah hubungan murni (pure of relationship), yakni sebuah ide yang melibatkan saling membuka diri, menikmati kualitas unik satu sama lain, dan mempertahankan kepercayaan melalui saling mengungkapkan.
Untuk ide itu; Anthony Giddens, sosiolog asal Inggris sempat meramal trend orang-orang yang semakin banyak mencari koneksi-koneksi intim bersama orang lain atas dasar saling mengetahui dan memahami sebagai bentuk hubungan murni itu. Sehingga, dengan demikian, masing-masing bisa memperoleh manfaat yang cukup dari hubungan yang berkelanjutan.
Tentunya di luar sana, ide tentang hubungan murni ini tidak berlaku di banyak rumah tangga. Kitapun, yang sudah berumahtangga khususnya, pastilah paham bahwa ada banyak faktor perbedaan yang memicunya; semisal tingkat pendidikan, kemapanan ekonomi, latar belakang sosial-budaya, dan bahkan agama. Dengan kondisi-kondisi yang demikian, praktik-praktik patriarkis bisa menyusup di dalam kehidupan keseharian rumah tangga. Akan tetapi, dengan ide hubungan murni itu, baik suami maupun istri mempunyai kesadaran lebih tentang pembagian peran. Sehingga meski suami atau istri yang mengurusi rumah tangga, demikian juga suami atau istri yang bekerja, bukanlah perkara penting. Jauh lebih penting dari itu semua adalah bagaimana setiap pasangan berkolaborasi menjalani kehidupan sehari-hari serta memperjuangkan segala bentuk kesenjangan antara cita-cita dan kenyataan.
Jika hubungan murni ini bisa menjadi pegangan masing-masing pasangan. Maka semestinya apapun profesi dari pasangan kita, di rumah atau di luar rumah ia bekerja bukanlah hal pokok dalam menjalani rumah tangga. Biarkanlah mitos berkumandang, khafilah tetap berlalu.
*) Penulis adalah Sosiolog; Deklarator Jaringan Intelektual Berkemajuan
