f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
terrible two

Terrible Two atau Adorable Two?

Rasanya mengingatkan kalau sudah begitu banyak hal yang dia lampaui.

Seperti ketika sore waktu itu, cucu tetangga saya yang berusia sekitar 6 bulan lebih muda dari anak saya menangis tidak henti-henti. Dia terus memanggil ibunya. Pokoknya dia mau ibunya yang datang. Mau ada kakak, tante, ayah, Akung, atau siapapun yang muncul di depannya, tangisannya malah menjadi-jadi. Kalau orang hanya mendengar tangisannya saja, mungkin dikira dia sedang teraniaya.

Momen itu jadi membuat saya sadar, kalau anak saya sekarang sudah jauh berkembang secara emosional. Tangisan yang menjadi-jadi semacam itu, disertai dengan ledakan emosi yang tidak terkendali, sudah sangat jarang terjadi. She’s already grown up. Ini yang membuat jadi agak sentimentil sebenarnya.

Ledakan emosi semacam itu, atau yang biasa disebut tantrum, memang merupakan hal yang sering terjadi. Menurut beberapa informasi yang saya baca, tantrum semacam itu bisa dibilang hal yang wajar karena si anak masih belum bisa mengungkapkan hal yang diinginkan ataupun hal yang tidak diinginkannya.

Area otak yang berfungsi penting untuk kemampuan kognitif, seperti memahami penjelasan dan masalah, belum berkembang secara optimal pada usia tersebut. Sehingga, yang berperan penting dalam memproses emosi ialah otak limbik.

Informasi itu membuat saya sadar bahwa saya tidak mungkin berharap bahwa anak saya selalu selow tanpa amarah. Karena memang dia belum mampu meregulasi emosi dengan baik, tentu bisa wajarlah kalau dia sesekali bertantrum ria. Walaupun adakalanya emaknya jadi ikutan tantrum juga.

Dulu, ya ndak dulu-dulu amatlah, mungkin kira-kira 1 tahun yang lalu, anak saya juga cukup sering bertantrum ria. Menangis sambil berguling-guling adalah hal yang biasa dilakukan. Ditambah dengan sering menggigit siapapun di dekatnya jika suasana hatinya sedang tidak baik.

Baca Juga  Antara Palestina, Israel, dan Indonesia

Dia pernah nangis sambil ndelosor di alun-alun gara-gara wajahnya yang cemong dan kotor akan dilap. Mungkin dia kesal, karena agenda mainnya jadi terpotong gara-gara wajahnya dilap. Untungnya waktu itu kesabaran saya sedang setebal buku Biologinya Campbell. Jadi saya hanya berusaha memegang dan menahan sambil bujuk-membujuk agar dia tidak sampai bergulung-gulung ria. Saya juga sedang ndak ngurus walaupun banyak mata yang melihat adegan ndelosor itu.

Pernah juga dia tantrum parah sewaktu diturunkan dari mobil angkutan online gara-gara sewaktu naik dia tidak masuk paling awal. Sebenarnya sejak awal masuk mobil itu, saya sudah cukup sadar bahwa dia pingin masuk sendiri dan sudah mulai merengek ketika masuk dengan diangkat oleh ibuk saya. Tapi, ya tentu saja saya tidak menyangka bahwa akan tantrum sampai berguling-guling dan menangis histeris.

Frekuensi tantrum yang cukup sering terjadi mungkin menjadi salah satu alasan pelabelan “terrible two” di usia tersebut. Yah, anak tantrum memang tidak menyenangkan sih. Itu cukup membuat mumet dan menguras emosi juga energi. Lha gara-gara poop disiram duluan saja dia bisa nangis teriak-teriak. Balon jatuh di tengah jalan dan tertiup angin juga bisa jadi penyebab nangis gulung-gulung sepanjang jalan.

Tapi, kalau diingat-ingat, fase usia tersebut tidak sepenuhnya terrible kok. Setidaknya bagi saya sendiri. Di usia yang sama dengan tingginya intensitas tantrum itu, anak saya mulai keluar dari gua GTM-nya. Dia mulai mau mencicipi dan merasakan makanan yang diberikan kepadanya. Bagi saya, itu hal yang melegakan dan sangat luar biasa.

Di usia yang sama pula, ungkapan emosinya mulai dengan mudah tertangkap mata saya. Matanya berbinar bahagia dengan sebuah candaan sederhana. Senyumnya begitu merekah ketika diuyel-uyel ibunya yang kecut sehabis pulang kerja. Padahal sebelumnya, dikudang sampe elek yo ndak ngguyu blas! Melihatnya seperti itu tentu seperti anugerah luar biasa.

Baca Juga  Memaknai Hari Lahir Pancasila

Pun juga dengan kemampuan lainnya. Dia sudah cukup sering mengoceh dengan bahasanya. Dia sudah punya panggilan pribadi untuk orang-orang terdekatnya. Waktu itu, dia sering memanggil saya dengan sebutan “Buk Ja” atau “Ibuk Rikja”.

Dia juga mulai bisa menunjukkan rasa senang setelah melakukan suatu hal, jalan-jalan atau naik odong-odong misalnya. Pernah suatu ketika, untuk pertama kalinya dia diajak Adik saya makan di suatu resto yang cukup ramah anak. Jadi ada seluncuran yang bisa digunakan untuk bermain sambil menunggu makanan datang. Kegiatan makan itu diceritakan terus berhari-hari dan berkali-kali kepada kami semua. Tentu dengan bahasa pribadinya yang mengundang tawa kami semua.

Memang ya, perkembangan tidak pernah berdiri sendiri. Perkembangan anak mungkin akan dibarengi dengan hal-hal lain yang bisa jadi tidak menyenangkan bagi kita. Dia bisa menunjukkan ekspresi bahagianya tentu dibarengi dengan luapan emosi negatifnya. Dia mulai mau makan tentu dibarengi dengan luapan energinya yang semakin besar.

Pada titik itu, saya jadi merasa kalau sebutan “terrible two” tidak lagi cocok untuk saya. Because It’s not that terrible. It is really adorable!

Bagikan
Post a Comment