f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
emak-emak

Tak Ada yang Salah dengan Istilah Emak-emak

Suatu hari ketika saya berkendara dan berhenti di lampu merah, saya tercenung membaca tulisan yang menempel di belakang sebuah truk di depan mobil saya. “Ya Allah harap jauhkan dari emak-emak yang sein kanan, tapi beloknya malah ke kiri”. Ada gejolak dalam diri saya yang juga seorang ibu ketika membaca itu. Kenapa di jagat sosial kita saat ini, istilah emak-emak untuk menyebut seorang ibu maknanya sangat peyoratif. Selalu digambarkan dengan nuansa yang suka bikin ribut, suka ngegosip, galak  dan selalu benar. Apakah benar hari ini, gambaran sosok seorang ibu itu adalah yang seperti itu?

Saya kembali flashback dengan beberapa peristiwa yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu. Ada ibu-ibu yang memarahi kurir dan melontarkan kata-kata kasar karena barang pesanannya tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Ada juga ibu-ibu yang memaki petugas polisi karena tidak terima ditegur oleh petugas yang melakukan pencegatan di wilayah Sukabumi dan disuruh putar balik karena diduga ibu-itu ingin berwisata ke sukabumi; atau  riuh para istri yang juga seorang ibu ketika ada seorang istri yang spill foto perempuan lain suaminya, atau biasa yang kita kenal dengan sebutan pelakor-meski saya tidak suka dengan istilah ini.

Jujur, saya yang juga menyandang status sebagai seorang ibu tidak terima jika seorang ibu dilabeli dengan istilah emak-emak dengan gambarannya yang seperti itu. Apalagi itu sering kali menjadi candaan dan pemakluman yang konotasinya negatif. “Kita yang waras ngalah azalah, emak-emak kan selalu benar”. Halo! Apakah ini berarti semua ibu tidak waras sehingga harus “terpaksa” dimaklumi?

Menurut saya, sebaiknya kita tidak melabeli setiap perbuatan dengan jenis kelamin ataupun status seseorang.  Cara pandang yang seperti itu adalah cara pandang yang tidak adil. Apakah semua ibu suka marah-marah dan emosian seperti contoh di atas? Atau apakah semua ibu kalau sein kiri beloknya malah ke kanan? Apakah semua istri yang juga seorang ibu ketika mengetahui suaminya selingkuh lalu suka ribut-ribut dan dilihat orang banyak? Tidak, tidak semuanya seperti itu. Bapak-bapak, mas-mas, om-om, juga ada kok yang emosian dan suka ngomel-ngomel, ada juga yang suka ngajak ribut. Kita tidak bisa mengeneralisir semuanya.

Baca Juga  Kesetaraan dalam Literasi Digital

Mungkin memang ada ibu-ibu  yang tidak bisa menjaga emosi dan tutur kata dengan baik. Tetapi tidak semuanya seperti itu. Realitas perempuan itu beragam. Maka tidak bijak kiranya jika kita menjadikan sekelompok perempuan sebagai standar tunggal perempuan yang lain.

Kita jangan lupa, di dunia nyata seorang ibu adalah seorang pahlawan bagi keluarganya. Di tengah ketakutannya, dia memberanikan diri melahirkan anak, jangan tanya bagaimana sakitnya. Dalam keadaan fisik yang sakit sehabis melahirkan, dia masih harus begadang untuk menyusui anaknya. Tidak sedikit juga yang paginya harus berangkat kerja untuk  memenuhi kebutuhan keluarga.

Pelabelan emak-emak dengan konotasi yang buruk bernada candaan dan pemakluman yang kesannya dipaksakan sebisa mungkin untuk diubah. Saya menulis ini bukan hanya sebatas tidak terima dilabeli emak-emak, bukan. Masalahnya bukan di istilahnya, tetapi konotasinya. Saya ingin menyuarakan bahwa apapun statusnya dan apapun jenis kelaminnya, ayok dong kita menebar maslahat untuk seluruh umat.

Untuk para netizen, janganlah buru-buru melabeli para ibu dengan istilah emak-emak yang gambarannya peyoratif seperti itu. Alih-alih melabeli dan menjadikannya candaan sekaligus pemakluman yang “mekso”, mbok ya ditegur saja tanpa melihat status dan jenis kelaminnya. Seorang ibu kan juga seorang manusia yang bisa saja berbuat salah. Marah-marah dan memaki orang itu jelas bukan perbuatan yang terpuji, sein kiri tapi malah belok kanan jelas-jelas bisa membahayakan pengguna jalan yang lain. Ya ditegur saja, Mau itu dilakukan ibu-ibu, gadis, bapak-bapak, mas-mas, atau om-om. Semua adalah bagian dari masyarakat dan bagian dari bersosialisasi.

Untuk para perempuan dan juga para ibu, jangan mau diberikan pemakluman dengan label seperti itu. Tunjukkan bahwa kita ini perempuan yang bermartabat, berakal dan berhati nurani. Terlepas dari status kita sebagai seorang ibu, sebagai seorang manusia saja kita diberikan mandat sebagai khalifah fil ardhi atau agen moral yang bertugas menebarkan maslahat, mandat yang sama yang juga diberikan kepada laki-laki.  Dengan mengingat ini, harusnya kita bisa memilah dan memilih setiap perbuatan yang akan kita lakukan, atau setiap kata yang kita ucapkan ini nanti akan berdampak apa? Berdampak maslahat, atau malah berdampak mudarat.

Baca Juga  Literasi Digital dalam Menyongsong Kontestasi Pemilu 2024

Menjalankan peran sebagai seorang ibu memang melelahkan. Menguras tenaga, emosi dan pikiran. Namun,  hendaknya kita selalu berupaya memaksimalkan semua potensi yang Allah berikan. Rasa kasih sayang tanpa batas yang tumbuh ketika kita membesarkan anak, sebisa mungkin selalu kita asah.  Potensi ini bukan tidak mungkin akan membuat kita menjadi agen perdamaian yang mampu menebar cinta kasih di mana pun dan kapan pun. Kita punya kekuatan untuk itu. Maka istilah “the power emak-emak” konotasinya tidak lagi negatif, tetapi lebih positif.

Allah berfirman “Wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alamiin” yang artinya “Kami tidak mengutus kalian selain sebagai rahmat bagi seluruh alam”. Hendaknya ini kita jadikan pengingat bahwa kita adalah agen moral untuk menebarkan maslahat dan keadilan, baik untuk diri sendiri, keluarga maupun orang lain di sekitar kita. Mari melihat sesuatu dengan perspektif keadilan sehingga kita tidak mudah mengeneralisir semua hal dan menjadikan standar sekelompok orang sebagai standar tunggal, padahal manusia itu beragam. Semoga ke depannya istilah emak-emak yang hari ini konotasinya masih negatif, bisa bergeser ke konotasi yang lebih positif. Semoga.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment