f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pernikahan

Pernikahan itu Koma, Bukan Titik

Beberapa hari terakhir, perceraian pasangan nomor 4 terkaya di dunia, Bill dan Melinda Gates menghebohkan publik dunia. Semenjak mereka memberikan pernyataan resmi mengenai perceraiannya melalui twitter, hampir semua headline media massa offline maupun online memuat kabar tentang perpisahan itu. Segala sisi dan sudut pandang yang dibahas menjadi topik menarik, mulai dari alasan kandasnya pernikahan hingga pembagian aset yang mencapai ribuan triliun rupiah.

Publik dan netizen Indonesia sendiri juga banyak memberikan opini mengenai perceraian fenomenal ini di media sosial. Jika mengamati komentar-komentar netizen, kebanyakan dari mereka terheran-heran karena perceraian ini terjadi pada usia pernikahan yang ke-27.

Netizen berasumsi seharusnya di usia pernikahan yang hampir mencapai tiga dekade, sebuah pasangan harusnya semakin matang dan dewasa. Asumsi lain menegaskan bahwa ternyata uang tidak menjamin kebahagiaan, termasuk kekayaan The Gates yang ribuan triliun itu tak mampu menyatukan mereka dalam ikatan suci pernikahan hingga maut memisahkan.

***

Khusus tentang kekayaan dan pernikahan, Majalah Forbes mengemukakan data yang menunjukan bahwa opini netizen tidak sepenuhnya benar. Data tersebut meneliti pernikahan 50 orang terkaya di Amerika Serikat (AS). Hasilnya, persentase perceraian di antara para orang kaya itu tidak jauh berbeda dengan persentase perceraian pada populasi umum warga AS. Persentase perceraian orang-orang terkaya berada di angka 49%, kurang lebih sama dengan jumlah persentase perceraian rakyat biasa yakni 40-50%.

Dari sini bisa kita lihat, bahwa uang tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Mau orang kaya; orang biasa; orang miskin, dalam pernikahan, Anda tetaplah individu dengan emosi manusia biasa. Ada kebutuhan emosional dan ada problem masing-masing yang mesti dihadapi dan diselesaikan dengan pasangan. Artinya, jika Anda dan pasangan gagal memahami naik turunnya emosi yang dinamis, serta tidak mampu menyelesaikan gesekan atau unfinished business dengan pasangan, bisa jadi ikatan pernikahan sedang dalam keadaan terancam.

Baca Juga  Kritik Al-Qur'an terhadap Tatanan Sosial
***

Saya sendiri tidak akan membahas lebih jauh bagaimana pengaruh uang dalam sebuah pernikahan puluhan tahun. Hanya saja terdapat sudut pandang yang menarik untuk saya bagikan di sini, yakni tentang sikap dalam memandang berbagai peristiwa kehidupan, termasuk berakhirnya pernikahan yang sudah berlangsung lama. Sudut pandang ini saya dapatkan hampir 20 tahun lalu saat saya masih duduk di bangku sekolah.

Dulu, saat saya masih di madrasah sanawiyah, bulik saya pernah berlangganan sebuah tabloid perempuan. Di zaman itu, sepertinya semua ibu-ibu hit bisa dipastikan berlangganan tabloid yang sama, dengan waktu terbit dua kali seminggu. Saya sebagai penyuka bacaan, membaca apa saja termasuk tabloid tersebut. Suatu ketika, saya membaca berita perceraian seorang penyanyi sekaligus aktris senior dengan suaminya yang juga seorang aktor senior. Mereka sudah menikah 23 tahun namun harus bercerai karena sang istri tidak mau dimadu oleh sang suami.

Bagi saya, seorang anak usia 14 tahun waktu itu, bayangan seorang ayah rela meninggalkan anak istrinya dan mengakhiri pernikahannya demi perempuan lain yang baru ditemuinya adalah hal yang cukup mengerikan. Dalam pikiran saya saat itu, jika pernikahan puluhan tahun saja ternyata tak mampu membuat sang suami bertahan, tidakkah itu menunjukkan betapa rapuhnya hubungan atau ikatan pernikahan antar manusia?

Namun, beberapa paragraf kemudian, saya tertegun membaca jawaban sang aktris saat ditanya bagaimana dia bisa tegar menghadapi ujian dalam hidupnya. Sang aktris menjawab, “Melalui perceraian ini, saya ingin mengajarkan pada anak saya bahwa tidak pernah ada titik dalam hidup. Yang ada hanya koma. Artinya, apapun yang kau temui dalam hidup. Senang, susah, bahagia, di atas atau di bawah, semua hanya koma. Belum berakhir. Nanti kita akan ketemu titik (ending) kalau kita sudah dipanggil Yang Mahakuasa”.

***

Seringkali kita memandang segala sesuatu sebagai hasil akhir, destinasi akhir. Menyangka bahwa itu sudah titik. Karenanya, kita sering keheranan berlebihan saat hal-hal yang kita anggap sebagai pencapaian akhir tadi, ternyata bisa runtuh di kemudian hari. Pernikahan puluhan tahun ternyata bisa cerai. Kekayaan ratusan miliar ternyata bisa habis dan pemiliknya jatuh miskin, masih terjerat hutang pula. Pejabat populer yang selama ini tampak pro rakyat, ternyata bisa tertangkap pihak berwajib juga.

Baca Juga  Sebuah Seni Menemukan Jodoh

Kebijaksanaan dari sang aktris saat pernikahannya berakhir 20 tahun yang lalu, sepertinya penting untuk kita jadikan referensi dalam menentukan sudut pandang. Pemahaman bahwa semua yang kita jumpai dalam hidup itu masih dalam taraf koma, belum titik. Apapun masih bisa terjadi dan segala sesuatu dapat berubah. Sehingga misal ada beragam peristiwa yang menimpa orang lain maupun diri sendiri berkenaan dengan naik turunnya kehidupan, kita tidak perlu terheran-heran. Cukup berkomentar dengan tenang dalam hati, “Ah, biasa. La wong masih hidup masih nafas kok. Ya koma terus yang dijumpai, belum titik”.

Bagikan
Post a Comment