f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tes

Tes dan Matinya Kreativitas Peserta didik Kita

Dela, anak saya, belum lancar membaca meski usianya sudah hampir delapan tahun. Ia kesulitan membedakan huruf yang bentuknya mirip. Meski demikian, Dela belajar dengan baik secara auditori.

Meski sempat sedih karena dia terlambat lancar membaca, saya tidak terlalu memusingkan hal itu. Dalam pemikiran saya, Dela masih bisa belajar banyak hal meski harus mengandalkan indera pendengarannya.

Masalahnya, sebagian besar tes dan tugas yang gurunya berikan berbasis tes tertulis.  Tentu saja tes tertulis (dengan jawaban juga tertulis) itu menyulitkan Dela yang belum lancar membaca dan menulis.

Ia sebenarnya memahami materi pembelajaran dengan baik. Jika tesnya dengan tes lisan, saya yakin Dela bisa mendapatkan nilai tertinggi/ sempurna.

Pada peristiwa lain, saya pun pernah frustasi saat melihat hasil tes menjodohkan yang telah Dela kerjakan. Nilainya tidak sempurna bukan karena ada jawaban tidak tepat. Namun karena garis yang tersedia tidak lurus.

Kasus semacam itu membuat saya berpikir bahwa pendidik kadang lebih memberi penekanan pada tampilan yang tidak terlalu berpengaruh pada ketepatan jawaban. Proses penilaian yang demikian membuat saya teringat bahwa selama 16 tahun mengajar, saya selalu menemukan rekan kerja yang memberi soal hanya di ranah hafalan. Bahkan beliau-beliau ini kadang tak bisa menerima ketika peserta didik memberi jawaban lain atau mencari jawaban dengan rumus lain.

Itu masih tak seberapa. Pendidik-pendidik itu kemudian menjelma menjadi pribadi yang anti kritik. Mereka berubah menjadi dewa-dewa kecil yang tiap titahnya adalah mutlak kebenaran.

***

Menilik kondisi tes yang tidak tepat seperti contoh di atas tentunya menimbulkan polemik. Pada kasus pertama di mana peserta didik diberi tes tertulis saja, kemampuan peserta didik yang sesungguhnya tidak bisa sepenuhnya terukur. Hal ini juga berlaku pada tes berbicara. Tidak semua peserta didik mampu mengungkapkan gagasannya secara lisan.

Baca Juga  Internet of Things konsep pengganti Peran Pendidik!?

Itu sebabnya dalam berbagai kajian terkait kualitas tes dan butir soal selalu terdapat anjuran menggunakan bentuk tes yang beragam. Tujuannya jelas untuk mengakomodir kemampuan peserta didik yang beragam pula.

Selain keberagaman tes sebagai alat ukur kualitas pembelajaran, pendidik juga harus memperhatikan kriteria penilaiannya. Nilai Dela yang tidak sempurna pada tes menjodohkan hanya karena garis yang tidak lurus itu bisa menjadi salah satu contoh. Sebenarnya apa urgensi garis lurus itu? Apakah ketika garisnya berkelok-kelok atau sedikit keriting, maka mengubah makna kata yang dijodohkan Dela?

Pada kasus lain, saya menemukan tes yang tidak mengakomodir jawaban berupa sinonim. Artinya, pendidik tidak terbuka pada adanya kemungkinan jawaban lain.

Ini sama halnya dengan para pendidik yang meminta menggunakan rumus sesuai yang diberikannya. Kesannya pendidik tidak bertoleransi pada cara mengerjakan yang berbeda yang bisa saja lebih mudah.

Pada kasus tersebut, jalan yang diberikan pendidik adalah tunggal dan dianggap sebagai kebenaran. Padahal dengan perkembangan dunia saat ini, peserta didik dapat memperoleh pengetahuan darimana saja dan kapan saja.

Harus diakui masih banyak pendidik yang berada di zona nyaman. Mereka hanya mengajukan pertanyaan yang mereka pahami saja. Atau lebih parahnya mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah mereka hapalkan.

Sebagai contoh, pada mata pelajaran Bahasa Indonesia masih banyak soal-soal ‘di permukaan’. Misalnya penyajiannya dengan kutipan teks cerpen. Kemudian pertanyaan yang tertulis hanya seputar siapa tokoh dalam cerita tersebut.

***

Pertanyaan yang terkait dengan alasan tokoh melakukan tindakan tertentu jarang diajukan. Bisa jadi karena tipe pertanyaan tersebut berpotensi menjaring jawaban yang jauh lebih beragam. Pada titik inilah secara tidak sadar pendidik menutup celah kreatifitas peserta didik.

Baca Juga  Ada Perempuan Tangguh di Balik Ketahanan Ekonomi Masa Pandemi

Akhirnya, pendidikan kita terkesan mengadaptasi sistem mesin. Itu sebabnya sekolah-sekolah kita suka sekali dengan frasa semacam ‘mencetak generasi unggul’. Sekolah berubah menjadi alat cetak, padahal manusia bersifat dinamis.

Fakta bahwa pengetahuan diperoleh (salah satunya) di bangku sekolah memang tidak bisa ditampik. Namun, menyodorkan pengetahuan begitu saja kepada peserta didik kita rasanya kurang bijaksana.

Saya yakin Indonesia masih memiliki banyak pendidik yang peduli dan mampu mengakomodir kreativitas peserta didik. Mereka tidak saklek atau memperlakukan ilmu pengetahuan seperti kuda berkacamata.   

Dengan demikian, pembelajaran lambat laun mengarah pada cara kita menggunakan pengetahuan sekreatif mungkin. Dengan demikian,pendidikan kita mulai bergerak dari pola menghafal menuju pengaplikasian pengetahuan.

Jika kita terus sibuk menghafal dan menyeragamkan banyak hal, tanpa kita sadari, sekolah justru menjadi kuburan massal kreativitas anak-anak penerus bangsa.

Bagikan
Comments
  • Yayas

    Betul Bu, kadang terjebak dengan jenis pertanyaan seperti. Baiknya kamu terus belajar dan belajar lagi. Terima kasih pencerahannya👍☺️

    Mei 17, 2021
Post a Comment