Pernikahan Berbasis Bisnis, Solusi Manis Hindari Perceraian
“Jika benar pernikahan dapat membuka pintu rejeki, lalu mengapa sebagian besar kasus perceraian terjadi karena faktor ekonomi?
Saya menemukan kalimat provokatif itu terselip di lini masa.
Tidak perlu waktu lama untuk membuat kolom komentar terisi dengan ratusan balasan dengan berbagai kalimat. Mulai dari untaian nasehat yang bijak, yang meledak-ledak, sampai yang asal menjiplak.
Terlebih pada masa pandemi Covid-19, angka perceraian dengan alasan ekonomi sama tingginya dengan angka pemutusan hubungan kerja. Sebab faktor ekonomi, adalah tolok ukur utama sukses tidaknya sebuah perkawinan.
Lantas, kalau sudah bercerai, apakah derajat ekonomi akan meningkat? Atau kemudian berpikiran, bahwa tanpa pernikahan, segala pemasukan (baca; uang, gaji, penghasilan) bisa dinikmati sendiri tanpa berbagi sengan anak istri dan suami. Penghasilannya tetap utuh tanpa harus diganggu oleh pasangan dan urusan anak-anak.
Pasangan menikah, baik itu yang berawal dari sebuah pesta megah terkesan dipaksakan; atau dari sebuah acara sederhana yang hanya dihadiri beberapa puluh undangan saja; bukanlah jaminan untuk bisa bertahan terhadap cobaan ekonomi.
Berbagai ungkapan menyebutkan, ujian terbesar bagi kesetiaan seorang istri konon terjadi ketika suaminya berada dalam situasi ekonomi yang menurun. Sedangkan bagi pria, ujian kesetiaan akan muncul saat keluarga dilimpahi kecukupan materi. Dengan demikian, ungkapan ini, bisa sangat memojokkan perempuan. Perkawinan yang kandas karena faktor ekonomi, selalu ada perempuan yang tidak kuat menanggung ujian.
Tapi bagaimana jika ekonomi keluarga itu sudah cukup kuat, sementara perceraian tetap terjadi?
Berarti sebaliknya, pria yang tidak kuat menjalani ujian berupa komitmen kesetiaan kepada istrinya. Apakah memang benar demikian? Faktor ekonomi ini sebenarnya kenapa, kok jadi serba salah begini?
Begini saja. Saya akan mencoba menawarkan perspektif baru tentang pernikahan dan hubungannya dengan faktor ekonomi yang sering dijadikan kambing hitam para pasangan yang sudah kebelet cerai ini.
Padahal, faktanya, perceraian itu terjadi karena kehendak kedua belah pihak. It takes two to tango. Tidakmungkin ada pernikahan dan perceraian tanpa kemauan keduanya.
Kita bicara ini dalam konteks normal, bukan dalam situasi yang khusus (darurat). Misalnya, pada jaman dahulu, manakala dua orang raja hendak menyatukan wilayah kekuasaannya atau melakukan barter politik dengan saling menikahkan anak—anak mereka. Sekarang sudah berbeda. Anak-anak jaman sekarang sudah pintar mencari jodohnya sendiri.
Kita selama ini terlalu sering dicekoki dengan romantisasi pernikahan. Sakral, terikat, penuh dengan berbagai “pantas” dan “tidak pantas”. Saat menapakkan langkah pertama di gerbang, kebanyakan pasangan selalu saling memasang ekspektasi tinggi. Perempuan, biasanya pada materi, pria umumnya pada keinginan menguasai. Harga yang harus dibayar pria untuk menguasai perempuan dengan materi yang dipunyainya kadang tanpa limit, atas nama pernikahan.
Sedangkan di sisi lain, kesetiaan dan penyerahan diri seorang wanita seringkali tak cukup “dibeli” hanya dengan materi semata. Pada titik ini, sakralisasi pernikahan akhirnya menutup pintu diskusi. Itulah konstruksi yang masih beredar di masyarakat hari ini.
Mengapa kita tidak melihat pernikahan sebagai sebuah lowongan pekerjaan?
Pernikahan adalah bisnis berdua yang harus sarat dengan keuntungan. Hanya bisa dimasuki oleh yang sudah memenuhi syarat dan dibekali keterampilan khusus.
Saya menganalogikan pernikahan sebagai sebuah bahtera. Alam semesta memanggil kita untuk mencari rejeki di lautan. Bagi yang berminat dan merasa mampu, silahkan mendaftar. Tentu saja setelah melengkapi semua persyaratan. Tidak mudah mabuk laut, memiliki kesungguhan untuk berkolaborasi mengendalikan bahtera.
Kalau tidak mau? Tidak ada yang memaksa karena di Pelabuhan (di darat) juga masih banyak pekerjaan. Tidak ada yang mengharuskan setiap orang untuk menjadi pelaut.
Di dalam bahtera, terdapat berbagai prosedur navigasi yang penuh kompromi. Syaratnya hanya satu, bahtera tidak boleh tenggelam dan harus tetap berlayar. Ini adalah sebuah pekerjaan 24/7. Roda kemudi tidak boleh ditinggal sedetikpun dan harus dipegang bergantian oleh nahkoda dan asisten nahkoda. Kalau tidak kompak, maka bahtera akan karam.
Jadi, kalau ada yang bilang pernikahan itu bukan bisnis, melainkan sebuah devosi, salah juga menurut saya. Dalam pernikahan terdapat pembagian kerja dan pembagian hasil yang harus disepakati terlebih dahulu oleh kedua belah pihak.
Saya yakin, jika pernikahan dibawa ke dalam sebuah ikatan yang sifatnya saling menguntungkan (bisnis) dampaknya akan lebih kuat daripada hanya sekedar ikatan penguasaan atau dominasi satu sama lain. Bagaimana dengan rasa yang seharusnya merekatkan sebuah pernikahan? Hal itu akan tumbuh dengan sendirinya saat kedua belah pihak secara material merasa saling bergantung.
Jadi sebagai sebuah pekerjaan, pernikahan memerlukan kompetensi dan kualifikasi khusus dari individu-individu yang terlibat di dalamnya. Keduanya harus mampu bertukar tempat, berbagi fungsi atau mengambil alih sementara.
Kemudian, bagaimana memaknai bahtera?
Saya teringat kawan saya, seorang pria yang menemani istrinya bersekolah sampai ke negara yang jauh. Tidak ada kata berpisah. Harus tetap satu bahtera. Hingga harus menjadi supir truk sampai sang istri selesai studi dan pulang kembali ke tanah air.
Lalu, saya yakin, sekarang dia sedang mendapatkan keuntungan dari kesepakatan (bisnisnya) dengan sang istri; sebagai bayaran atas pekerjaan yang sudah dia lakukan tempo hari karena telah berbagi saham di negara seberang. Pernikahan memang harus begitu. Hitung-hitungan ekonomi, dan hasilnya harus saling menguntungkan.
Pernikahan berbasis bisnis ini bukan hal yang baru. Seperti yang sudah sama-sama kita ketahui dalam Sirah Nabawiyah; Nabi Muhammad SAW sudah terlebih dahulu mengelaborasinya dengan menikahi dan menjadi partner bisnis utama sang istri, Khadijah. Pertemuan beliau berdua dan kedekatannya diawali dari perjanjian perniagaan, di mana Khadijah menitipkan sebagian asetnya untuk ditransaksikan.
Sehingga, tidak ada salahnya sama sekali para pasangan yang merencanakan menikah sudah mulai mengambil ancang-ancang, mau diisi dengan kerjasama bisnis apa nantinya. Percayalah, tidak ada yang lebih mengasyikkan dari menikahi partner bisnis kita dan menjalankan semuanya dengan penuh cinta.
Bagaimana kalau nanti ternyata modal atau Sebagian asetnya digondol oleh salah satu pihak? Yah itu masalah lain dan perlu sebuah esai lagi untuk membahasnya.
Meski demikian, perpisahan yang terjadi tidak akan terlalu menohok perasaan karena masih bisa dinalar dengan akal sehat. Proses sembuhnya akan lebih cepat dan ada nilai pembelajaran yang didapatkan dibandingkan jika pernikahan sejak awal dibangun tanpa visi bisnis alias hanya eksploitasi sepihak dan kesalahpahaman konsep.
Seorang guru di Kabupaten Subang Jawa Barat.
