f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pernikahan

Mutiara Pernikahan yang Terlupa

Berita retaknya rumah tangga seorang artis muda hingga kini masih menjadi sorotan. Ketika pernikahan berumur empat puluh tujuh hari, isu talak cerai sudah berhembus. Artis muda yang sebelumnya memang kebelet nikah muda ini memilih proses ta’aruf setelah putus dengan pacarnya yang sudah lima tahun menjalin kasih. Berbagai spekulasi berkembang akibat sikap si artis yang kini nampak tidak peduli pada istrinya yang cantik jelita itu.  

Saya jadi teringat nasib teman kuliah dulu yang menjalani proses ta’aruf, lalu menikah walaupun bukan nikah muda. Suaminya, sudah menunjukkan tanda-tanda kecuekan walau masih pengantin baru. Sering pulang malam, bahkan tidak pulang beberapa hari karena alasan kegiatan. Nafkah materi seadanya, teman saya tidak berani meminta lebih karena takut jadi masalah. Bahkan ketika si kecil lahir, suaminya benar-benar masa bodoh sehingga teman saya menelan kepedihan seorang diri.

Saya tahu, teman saya itu orang yang kuat dan mandiri, tetapi mungkin tidak termasuk kategori cantik yang standarnya bikinan manusia. Sampai akhirnya, saya dengar, teman saya itu bercerai juga setelah bertahan tiga tahun dalam penderitaan batin. Bersyukurlah, sang anak menjadi tanggung jawab si ibu yang sangat menyayanginya.

Ada lagi kasus, kisah wanita yang menikah tanpa rasa cinta bahkan sampai saat ini. Pernikahannya terjadi karena perjodohan oleh orang tua. Dan, karena bakti kepada orang tuanya, ia menerima perjodohan itu.

“Aku tahu, suamiku juga sama-sama tidak cinta. Kami saling jujur satu sama lain. Kadang ingin melarikan diri dari situasi ini, tapi tak semudah itu karena kasihan anak-anak kalau ortunya bercerai. Aku sudah berdoa, memohon supaya diberi cinta di dalam hati, tapi rasanya tetap hambar, flat, datar. Saat ini, persahabatan yang menjadi pupuk perkawinan kami. Dan itu cukup baik. Aku tidak tahu bagaimana kedepannya nanti,” demikian penuturan si wanita di satu tulisan curhat yang saya baca. Sepertinya kok masih mengambang ya antara bertahan atau menyerah.

Duh, bagaimana ini? Apakah setiap perjodohan mengandung potensi ketidakbahagiaan dalam perkawinan? Bagaimana kalau yang melalui proses pacaran atau menikah karena cinta pada pandangan pertama? Akankah lebih baik dan bahagia dalam perkawinannya?

Cinta yang Belum Terbukti

Saya punya kenalan yang baru-baru ini bercerai. Padahal, di lingkungan tempat kami tinggal, mereka masih tergolong manten baru, dan seharusnya sedang sayang-sayangnya. Saya sempat berbincang dengan mereka yang mengaku sudah pacaran delapan tahun lamanya, sudah mengalami jatuh bangun bersama. Romantis.

Sama-sama saling dukung sejak masa SMA, kuliah, dan cari kerja. But, wait. Mereka kerap bertengkar. Tidak malu saling teriak sampai bikin merah telinga para tetangga. Akhirnya, si istri pergi, balik ke rumah orang tua. Dan, mengajukan gugatan cerai.

Ada lagi kisah yang sempat viral di media sosial. Tentang seorang wanita yang bercerai karena suaminya berselingkuh. Satu bulan saja mereka mengayuh biduk rumah tangga, meskipun sudah tujuh tahun berpacaran. Menurut pengakuan si wanita, banyak yang berubah dari sosok mantan pujaan hatinya itu. Dulu, si pria pemalu, lemah lembut, dan penyayang. Tapi, sejak kecantol si pelakor, berubah menjadi kasar dan pemarah.

Dulu, saya pun pernah dibuat iri dengan kisah cinta seorang komposer cantik berbakat yang baru-baru ini menulis novel. Bisa jadi ini termasuk cinta pada pandangan pertama karena si wanita merasa terpanah hatinya begitu melihat sosok si lelaki yang tampan. Bahkan saking kesengsemnya, si wanita berdoa dengan khusyuk di depan ka’bah memohon supaya berjodoh dengan si pria itu.

Dan, pernikahan yang indah pun digelar. Duh, saya baper melihat pelaminan yang cantik, prosesi yang syahdu, disertai sesi melantai sang manten diiringi lagu sendu meluruh kalbu. Saya berpikir betapa bahagia bisa menikah dengan seorang pria yang kita cinta dan juga mencintai. Sungguh, pasangan yang sempurna.

Tapi, semua hancur berkeping-keping. Dalam hitungan singkat kedua pasangan itu memilih bercerai. Dua anak yang masih kecil-kecil tidak menjadi penghalang tekad keduanya untuk pisah. Kalau yang sedikit saya kepo, si suami kurang akur dengan keluarga istri, sedangkan si istri masih bersikap kekanak-kanakan sehingga membuat situasi semakin runyam. Nah, kan.

Saya tidak sedang membongkar aib perkawinan orang. Bisa jadi apa yang tampak secara kasat mata belum apa-apa dibandingkan akar masalah di balik semua itu. Perkenalan singkat tidak menjamin kecocokan. Tetapi masa pacaran lama tidak selalu bisa mengokohkan perkawinan. Modal cinta memang sangat penting. Tetapi, tentu bukan yang terpenting. Jadi, apa benang merah yang bisa kita tarik dari kisah-kisah tersebut?

Menikah adalah Ibadah

Jodoh termasuk takdir yang misterius yang melibatkan sejuta asa dan perasaan. Ketika jodoh terikat tali pernikahan, maka dalam ajaran Islam, berarti kita telah menyempurnakan separuh dari keimanan. Artinya, kita telah masuk ke fase beragama secara utuh. Salah seorang ustaz kondang menyampaikan bahwa hari-hari dalam pernikahan adalah ibadah yang lebih afdol. Semua perilaku kecil dalam relasi suami istri bernilai pahala, misalnya sekedar tersenyum atau bertutur kata manis pada pasangan itu sudah masuk hitungan. Bayangkan betapa melimpah pahala yang dapat terkumpul selama dua puluh empat jam waktu bergulir.

Kesadaran bahwa nikah adalah ibadah inilah yang perlu kita hayati saat mengambil keputusan berumah tangga. Ketika taaruf atau perjodohan menjadi jalan takdir menuju mahligai pernikahan, maka kesiapan mental menerima kenyataan seperti apa pasangan kita harus dikuatkan. Sikap saling menghargai, saling menghormati pasangan harus dikedepankan sebelum benih-benih cinta disemai, dipupuk, dan diupayakan tumbuh berkembang.

Cinta tak melulu berwujud hasrat yang membara, tapi sikap sabar menghadapi pasangan adalah cinta yang sejati. Menurut seorang pujangga Islam, Imam Ibnu Qayyim Al Jauzi, ketika seorang pecinta tak bisa bersabar kepada kekasihnya, berarti cintanya adalah cinta yang hampa.

Selain itu, yang perlu diwaspadai adalah muslihat syaitan yang tak pernah berhenti menyesatkan anak Adam  hingga hari kiamat. Saat masih pacaran, berkat bisikan syaitan semua tampak indah mengawang-ngawang. Tapi, ketika sudah menikah, karena termasuk menegakkan syariat Islam, maka syaitan meniup-niupkan perselisihan yang mengguncangkan. Sehingga, semua tidak seindah dan semenakjubkan dulu.

Lantas bagaimana kalau seorang ustaz atau ustazah yang sudah ngelotok pemahaman agamanya ternyata mengalami perceraian? Berarti memang manusiawi dong bila kita tidak cocok lagi dengan pasangan lalu memilih bercerai? Semua itu kembali pada pilihan hidup manusia.  Memang, semua takdir semesta sudah ditetapkan oleh Allah SWT sejak awal mula penciptaan. Tetapi, manusia memiliki kehendak dan ikhtiar untuk menentukan  dan memilih apa yang terbaik baginya. Takdir perjodohan adalah bagian yang diikhtiarkan manusia. Jadi, mempertahankan pernikahan adalah bentuk menuju takdir yang lain dalam rangka beribadah pada Allah SWT. Wallahu’alam bishawab.

Editor: Ananul Nahari Hayunah

Bagikan
Post a Comment