f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
rumah tangga

Manajemen Risiko dalam Rumah Tangga

Kini kita sedang menghadapi persoalan yang sama, terbelenggu dalam pola pikir lama sehingga sulit menerima fakta dan cara baru. Persoalan yang saat ini sering muncul dengan bahasa Disruption. Kondisi yang menjadi ancaman bagi mereka yang masih bergelut dengan cara-cara lama.

Dalam hal ini, apa yang sebenarnya terjadi pada lingkup terkecil kita yakni rumah tangga dalam kaitannya dengan disruption. Maka adanya transformasi digital yang semakin canggih membuat seseorang lebih intens dalam mengurus diri masing-masing; ketimbang memperhatikan bagaimana keluarga akan tetap harmonis.

Transformasi digital menjadi satu ancaman tersendiri bagi keutuhan rumah tangga. Kita lebih cenderung berkomunikasi dengan mereka yang berada di dunia maya ketimbang dengan mereka (keluarga) yang saat ini berada dalam satu meja makan; bahkan seorang pendamping hidup yang saat ini berada dalam satu ranjang.

Faktor yang memicu ketidakharmonnisan keluarga dalam kondisi pandemi seperti saat ini adalah persoalan ekonomi atau keuangan yang tidak seimbang;  sehingga dapat menjadikan persoalan yang melilit dalam sebuah keluarga. Kecenderungan satu sama lain untuk berselancar di media sosial menjadi faktor pendukung lain dalam mengabaikan tanggung jawab keluarga.

Dalam tulisan ringan ini saya mencoba untuk menguraikan ancaman keluarga dari aspek sosial ekonomi yang terjadi di era digital dengan tekanan kondisi pandemi sebagaimana yang terjadi saat ini;

Risiko dalam Keluarga

Dalam siklus kehidupan, baik secara individu maupun berkelompok, semua memiliki risiko.  Karena setiap apa yang dijalankan menyimpan risiko; maka sudah seharusnya kita peka dan menyadari akan adanya risiko dan alangkah baiknya menyiapkan strategi untuk meminimalisir tingkat risiko.

Bahwa manajemen risiko sendiri adalah pendekatan yang logis dan sistematik untuk mengidentifikasi, menganalisis, membentuk proses lebih baik (treating), dan mengawasi risiko di proses kegiatan.

Risiko yang sering terjadi dalam keluarga biasanya adalah konflik karena perbedaan pendapat antar anggota keluarga. Adanya keinginan yang berbeda antar anggota keluarga, ketidak stabilan finansial, atau bahkan terabaikannya sebuah tanggung jawab akan hak dan kewajiban dalam rumah tangga akibat dari pengaruh media digital.

Keluarga yang hanya sekedar menjalani hidup tanpa adanya pedoman agama yang baik memiliki risiko mengantarkan keluarganya kepada jurang kehancuran. Untuk mengurangi risiko perselisihan tersebut; maka harus berusaha mengendalikan ego yang ada, menghormati pendapat anggota keluarga yang lain selama memang benar dan sesuai dengan aturan agama.

Sebagaimana firman Allah SWT yang tertulis dalam Al-Qur’an Surat Al-Tahrim Ayat 6 yang artinya; “hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Menata Ekonomi Keluarga

Dalam menjalankan rumah tangga pasti tidak terlepas dari faktor lingkungan baik internal maupun eksternal. Baik dari persoalan perselisihan antara penghuni rumah, perkembangan ekonomi yang naik turun, maupun faktor alam yang sekarang sudah tidak menentu.

Banyak hal atau risiko yang bisa terjadi yang bisa memperngaruhi kondisi rumah tangga dari risiko eksternal. Mulai dari risiko bencana alam, risiko kerugian usaha atau bangkrut karena kondisi ekonomi global yang bermasalah.

Kesadaran akan hal tersebut setidaknya meminimalisir risiko yang mungkin hadir; seperti terjebak hutang pada rentenir atau bunga bank, solusinya adalah menghindari transaksi yang mengandung riba di dalamnya. Menata kembali aspek-aspek yang menjadi kebutuhan dasar manusia, dan mengontrol keinginan yang masih dapat ditunda manfaatnya.

Dalam masalah bencana alam, kita tidak bisa menghindari risiko tersebut. Namun yang masih bisa kita lakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga dengan adanya investasi baik berupa tabungan maupun ketersediaan dana cadangan (dana darurat).

Sebagaimana kisah Nabi Yusuf yang terangkum dalam Al-Qur’an Surat Yusuf ayat 43-49; diceritakan bahwa pada saat itu sang Raja Fir’aun mendapati sebuah mimpi yang sangat unik sehingga mengganggu pikiran dan hatinya. Dalam mimpinya disebutkan ada tujuh ekor sapi gemuk yang kemudian mati dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus.

Kemudian Nabi Yusuf As. menafsirkan mimpi tersebut adalah bahwa Mesir akan mengalami tujuh tahun masa makmur dan tujuh tahun kemudian akan mengalami masa sulit (paceklik). Untuk itu, Nabi Yusuf As. menganjurkan agar masyarakat muslim saat itu untuk berhemat dan menyisihkan harta yang dimiliki untuk digunakan pada saat dibutuhkan.

Berdasarkan kisah tersebut, tergambar sebuah usaha manusia dalam membentuk sistem proteksi ekonomi keluarga dalam menghadapi kemungkinan yang buruk di masa depan, sebagaimana kondisi kita saat ini.

Risiko dan Ketaqwaan

Islam sebagai agama fitrah yang menyeluruh, tentunya tidak ada sesuatupun yang luput dari perhatian syariat Islam. Seperti Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al An’am ayat 38  yang artinya;

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada dibumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat juga sepertimu. Tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam al-kitab (Al-Qur’an), kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.”

Ayat di atas dijelaskan kembali dalam hadits  Nabi dari Abu Dzar Al-Ghifary r.a, berkata; ”Rosulullah SAW telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membolak-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau telah menerangkan ilmunya kepada kami. Berkata Abu Dzar  r.a : Rosulullah SAW telah bersabda : tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.” (HR. Ath-Thabrani dan Ibnu Hibban).

Dari ayat dan hadits di atas kita tahu bahwa Islam adalah agama yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan pribadinya sendiri, keluarga dan sesama manusia dalam  bentuk muamalah (sosial) demi kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, Islam merupakan agama yang lengkap dan sempurna.

Dalam usaha mencari nafkah, seorang muslim dihadapkan pada kondisi ketidakpastian terhadap apa yang terjadi. Kita boleh saja merencanakan suatu kegiatan usaha atau  investasi; namun kita tidak bisa memastikan apa yang akan kita dapatkan dari hasil investasi tersebut, apakah untung atau rugi.

Hal ini merupakan sunatullah atau ketentuan Allah seperti yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW dalam Al-Qur’an Surat Luqman ayat 34 yang artinya : “Dan tidak seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti apa-apa yang diusahakan esok…”

Ayat tersebut menjadi dasar pemikiran konsep risiko dalam Islam, khususnya kegiatan usaha dan investasi. Selanjutnya dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 18, Allah SWT berfirman yang artinya :

“Hai orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk esok dan bertaqwalah kepada Allah SWT, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

***

Sebagai seorang muslim sudah sepatutnya kita senantiasa sigap dalam beradaptasi dengan perubahan selama masa pandemic ini berlangsung. Menjadi kuat dan siap secara finansial akan mengurangi risiko dalam sebuah keluarga. Dimulai dari diri sendiri dalam mengelola risiko kehidupan,keluarga dan selanjutnya menengok kanan dan kiri kita. Wallahu a’lam bish-shawab.

Bagikan
Post a Comment