f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
etika

Etika Umat sebagai Khalifatullah

Pandemi yang tak lekas usai dan tuntutan masyarakat mengarahkan para akademisi untuk mendapatkan kemapanan pekerjaan. Apalagi dengan tuntutan peluang pekerjaan berupa industrialisasi besar-besaran yang orientasinya adalah kemapanan.

Kemapanan yang lekat dengan realitas hari ini adalah nyanyian ‘nina bobok’, jika kita hanya menganut ideologi materialisme semata. Pandangan hidup seperti ini layaknya momentum menunggu bom waktu meledak. Masyarakat akan kehilangan spirit kehidupan dan mengalami krisis etika (moral). Menurut Immanuel Kant, etika  universal merupakan sebuah pola keberaturan yang memaksa kehendak bebas setiap manusia untuk mengetahui dan bertindak sesuai prinsip ruang dalam hidup.

Sebagaimana fakta dari beberapa peristiwa yang mendulang kericuhan masyarakat di Indonesia dari skala mikro hingga makro; seperti isu hoax, pelecehan seksual, kriminalisasi ulama, penistaan agama, peristiwa bom bunuh diri di Makassar, perebutan hak paksa tanah demi proyek industri pertambangan, lelucon tenggelamnya kapal selam Nanggala, dsb. Peristiwa-peristiwa seperti ini tidak lain salah satu faktor penyebabnya adalah miskin etika.

‘Alim sebagai Ahli dalam Bidangnya

Menukil nilai penting dari karya Prof. Amin Abdullah dalam karya “Antara Al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam” bahwasanya etika universal menuntut manusia untuk menuju kepada kebaikan tertinggi. Kebaikan yang semua orang dapat merasakannya secara praktis. Hilangnya kebaikan tertinggi dalam kehidupan manusia sebagai makhluk rasional menimbulkan kericuhan di masyarakat. Yang bertugas untuk menangani hal seperti ini bukan hanya pemerintah ataupun para ‘alim sebagai ahli, melainkan umat.

Pendapat Ulil Abshar Abdala dalam pengajian Ihya’ Ulumuddin di Aula Kantor PCNU Banyuwangi pada tahun 2018 silam (nu.or.id); terlalu mempersempit interpretasi pembagian berdasarkan peran dan tanggung jawab umat, yaitu orang ‘alim dan awam. Orang ‘alim tidak hanya memiliki kompetensi dalam perannya sebagai ahli agama saja, melainkan seorang ahli dalam bidangnya, sedangkan orang awam adalah mereka yang tidak memiliki kompetensi atau keahlian seperti seorang ahli. Jika penjelasannya seperti ini, maka tanggung jawab umat sebagai khalifatullah adalah menjadi ahli di bidangnya masing-masing.

Baca Juga  Menghidupkan Pendidikan Multikultural
Kompetensi Dasar Seorang Ahli

Menjadi seorang ahli membutuhka kesungguhan, kesabaran, ketekunan, dan keistiqomahan dalam melakukan spesifikasi keilmuan dengan beranekaragam metode serta strategi pencapaiannya. Namun, hal yang terpenting bagi seorang ahli adalah orientasinya sesuai dengan tahapan kompetensi dasar, antara lain etika, mentalitas kebaharuan berpikir, dan kreatif imajiner.

Pertama, seorang ahli perlu mengetahui etika yang berlandaskan pada kemaslahatan dengan mempertimbangkan mudharat dan manfaat demi kepentingan khalayak, serta bertujuan untuk membela yang ‘lemah’ (minoritas). Dalam memperhatikan etika, seorang ahli juga perlu menggunakan cara-cara yang ‘sederhana’; agar tujuannya dalam menerapkan keilmuannya tidak menimbulkan kontroversi dan kebingungan bagi masyarakat. Selain itu, seorang ahli juga perlu memperhatikan etika sosial dengan mengedepankan empati maupun kepekaan untuk melakukan perbaikan terhadap moral maupun intelektual masyarakat.

Kedua, mentalitas kebaharuan berpikir bagi seorang ahli dalam menyelesaikan kompleksitas permasalahan, terutama kemanusiaan, perlu untuk menjembatani kesenjangan dan ketimpangan sosial. Mentalitas yang dimaksud tercangkup istilah ihsan sebagai kesalehan individual dan sosial sebagai proyeksi spiritual inklusif. Dengan mengutip pendapat Prof. Amin Abdullah dalam karya “Multidisiplin, Interdisiplin, dan Transdisiplin: Metode Riset dan Pembelajaran Agama Era Kontemporer”; aktualisasi spiritual inklusif dalam bentuk keberagamaan yang bersifat meneguhkan dan meyemaikan nilai-nilai kelembutan, rasa untuk berbagi, mengalah demi kebaikan, serta menjauhi prasangka.

Ketiga, kreatif imajiner sebagai kompetensi seorang ahli dalam melakukan elaborasi, kolaborasi, dialog, dan kerjasama dalam menyelesaikan problem kemanusiaan. Kompetensi ketiga ini tidak hanya berada dalam wilayah teoritis, melainkan juga praktis. Seperti beberapa sekumpulan ahli yang berkolaborasi untuk membuat start up dengan konten toleransi beragama maupun sebagai alternatif penyelesaian isu kekerasan atas nama agama.

Keterkaitan 3 Kompetensi Dasar

Dari tiga kompetensi dasar tersebut tentunya saling berkaitan. Semisal, jika etika terpisahkan dari dua kompetensi dasar lainnya, maka proyek alternatif penyelesaian problem kemanusiaan hanya bersifat semu. Atau malah justru menimbulkan kerugian bagi khalayak dan menambah kompleks permasalahan yang ada.

Baca Juga  Awas! Utang Tidak Gugur Sebab Kematian

Seperti kasus konflik Israel-Palestina yang sekiranya sebagai seorang ahli perlu menunggu kebijakan dan keputusan negara. Ketika tidak memperhatikan etika universal serta mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi dari tindakan putusan seorang ahli tentunya akan memperkeruh kondisi masyarakat (muslim). Bahkan, memantik emosional masyarakat untuk melakukan aksi masa.

Bagikan
Post a Comment