Membangun Kemandirian Perempuan Melalui Gerakan Filantropi
Relasi antara perempuan dan filantropi ternyata sangat erat dan tidak dapat terpisahkan. Oleh karena itu, hendaknya menggalakkan filantropi untuk mendukung upaya kemandirian perempuan. Hal ini penting karena pembangunan nasional belum bisa dirasakan secara setara bagi perempuan. Mereka masih tertinggal dari laki-laki dalam beberapa bidang kehidupan.
Bidang kesehatan contohnya, perempuan berhadapan dengan masalah terkait tingginya angka kematian ibu dan kesehatan reproduksinya. Pada bidang pendidikan, kaum perempuan masih belum setara dibandingkan laki-laki. Sedangkan di bidang ekonomi, secara umum kemampuan perempuan dalam mengakses peluang kerja masih rendah, demikian halnya dengan kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Karena itu, perempuan memerlukan dukungan khusus dari semua lapisan masyarakat untuk melakukan kegiatan filantropi.
Perempuan memiliki kekuatan sosial yang sangat besar yang berdasar pada sifat kasih sayangnya, namun institusionalisasi sosial dan politik dibangun di atas kekuasaan maskulin. Kenyataan kehidupan masyarakat yang keras ini membuat perempuan lebih mandiri; sekaligus tidak melupakan sisi welas asih perempuan dan tanggung jawab sosialnya untuk memikirkan orang lain.
Hal ini diwujudkan dalam bentuk kedermawanan perempuan yang tercermin dalam penggalangan sumber daya dan pendistribusiannya untuk masyarakat yang kekurangan dan membutuhkan bantuan. Kedermawanan perempuan ini menjadi relevan dan sangat urgen untuk dikembangkan dan didukung oleh berbagai kalangan.
Tingkat kepedulian dan kedermawanan sosial masyarakat yang tinggi memberikan kesempatan bagi berkembangnya kegiatan fundraising dan pendistribusian dana sosial untuk mendukung filantropi. Upaya-upaya penggalangan dana untuk kegiatan filantropi dilakukan oleh berbagai macam organisasi di beberapa tempat; terutama di waktu-waktu yang telah ditentukan, seperti ketika terjadi bencana alam. Kegiatan pengumpulannya pun tidak lagi dilakukan dengan cara tradisional, tapi sudah mengarah pada filantropi modern.
Filantropi sebagai Pilar Pemberdayaan Perempuan
Sejalan dengan semangat kedermawanan masyarakat Indonesia, kedermawanan perempuan Indonesia juga tengah mengalami perkembangan yang signifikan. Kedermawanan ini melibatkan banyak aspek sebagai resource dalam pengejawantahan kegiatan filantropi mereka. Dengan mengerahkan semua potensi yang ada; para pelaku filantropi perempuan menunjukkan kepada masyarakat bahwa perhatian terhadap orang-orang yang kekurangan dan membutuhkan bantuan sangat penting. Bentuk perhatian ini tidak hanya dibatasi oleh materi dan kebutuhan jangka pendek, melainkan penanaman nilai dan semangat perubahan ke arah yang lebih baik.
Filantropi sebagai upaya pemberdayaan perempuan merupakan sesuatu yang harus dilakukan karena beberapa hal;
Pertama, berdasarkan data statistik jumlah perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki, Itu berarti setiap kebijakan yang diambil lebih banyak menyangkut nasib perempuan. Kedua, secara psikologis jiwa perempuan lebih peka dan lebih sensitif dibandingkan laki-laki. Kepekaan dan sensitifitas yang dimiliki perempuan ini merupakan modal penting dalam menumbuhkan kepedulian dengan sesama.
Ketiga, jiwa keibuan sangat identik dengan kemampuan dan kerelaan untuk mendidik, sedangkan pendidikan adalah kunci pembentukan sikap baik.Keempat, secara sosiologis ibu atau perempuan merupakan orang yang paling mengetahui kondisi dan kebutuhan keluarganya. Dalam skala yang lebih luas, berarti mereka adalah orang yang paling mengetahui kondisi dan kebutuhan masyarakatnya. Kelima, kesabaran dan keprihatinan yang dimiliki perempuan jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Sehingga mereka memiliki potensi yang lebih besar dalam mengendalikan program kedermawanan dan pemberdayaan (Westy, 2008: 15–16).
Pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh lembaga maupun individu yang berbasis filantropi awalnya dibangun dengan kerelawanan dan aktualisasi diri. Sampai saat ini kerelawanan perempuan menjadi modal utama dalam kerja-kerja pemberdayaan perempuan yang mereka lakukan. Sebagai contoh, dalam masa darurat bencana; berdirinya dapur umum dan bantuan makanan cepat saji dalam waktu cepat merupakan bukti kontribusi sekaligus kesigapan perempuan dalam memberikan bantuan terhadap korban bencana. Hanya saja, ketiadaan sosialisasi bagi kerelawanan perempuan ini mengakibatkan kapasitas dan kontribusi mereka tidak diperhitungkan.
Dari Filantropi Menuju Kemandirian Perempuan
Perlu menggalakkan perhatian khusus terhadap filantropi untuk kemandirian perempuan ini, karena selama ini belum menganggap perempuan sebagai donatur yang prospektif. Perempuan diasumsikan sebagai bagian dari kalangan yang berada di sektor privat, sehingga laki-laki menguasai sektor publik lebih dominan. Sehingga tidak heran jika perempuan masuk dalam kategori kelompok marginal. Perempuan masuk dalam kelompok subaltern, yang selama ini tidak terakomodasi dalam struktur sosial yang dipenuhi dengan maskulinitas (Gandi, 1998: 1).
Para pegiat perempuan telah melakukan kegiatan filantropi dengan memobilisasi sumber daya kaum perempuan untuk menolong masyarakat, khususnya perempuan miskin di sekitar mereka, supaya mendapatkan akses ke layanan-layanan dasar yang menjadi hak mereka. Maka dari itu, agar filantropi bisa mengarah pada kemandirian perempuan, hendaknya agenda filantropi mencakup beberapa hal.
Pertama, pemberdayaan ekonomi terhadap perempuan. Hal ini sangat penting karena pemberdayaan ekonomi menjadi wilayah darurat (Farida & Kasdi, 2018: 150). Kedua, pemberdayaan pendidikan perempuan. Kaum perempuan secara langsung selalu berinteraksi dengan memperbaiki kualitas dan spiritualitas anak-anak serta keluarga.
Ketiga, pemberdayaan aspek kesehatan. Menurut Women Research Institute, kajian tentang pelayanan kesehatan merupakan salah satu masalah yang diidentifikasi dan sering dihadapi oleh perempuan miskin. Mereka tak memiliki akses dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan. Dengan demikian, aktivitas filantropi untuk kemandirian perempuan sangat berpotensi dengan mendorong potensi kaum perempuan sebagai pendukung dan donatur program tersebut.
Perempuan Melalui Filantropi sebagai Agen Perubahan Sosial
Berkembangnya filantropi perempuan dalam kurun waktu belakangan ini merupakan fenomena positif bagi kaum perempuan khususnya, dan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Perkembangan ini semakin menarik bagi masyarakat Indonesia karena ia terjadi di tengah perubahan sosial politik menuju tatanan baru yang lebih demokratis. Hal ini penting karena dua alasan; pertama, perkembangan filantropi yang bagus dengan sendirinya dapat mendukung perwujudan masyarakat sipil yang kuat, mandiri dan sejahtera. Kedua, pencapaian tersebut akan memberi arti penting bagi penguatan agenda reformasi, demokratisasi dan transformasi sosial di Indonesia.
Kecenderungan perubahan sosial di masyarakat juga berdampak pada perempuan, seperti kebijakan negara dalam privatisasi layanan publik dan bertambahnya angka kemiskinan, yang berarti juga meningkatnya jumlah perempuan yang miskin. Sebaliknya, program kegiatan filantropi yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan di masyarakat juga berdampak secara positif dalam mengurangi kemiskinan kaum perempuan (Enarson, 2003).
Perubahan paradigma filantropi perempuan jelas terlihat dari perubahan mendasar yang sedang berlangsung, dari tradisi karitatif menuju tradisi baru yang mencoba menggunakan pendekatan baru dalam menyelesaikan masalah sosial, yaitu mengatasi masalah dari akarnya secara terencana, berjangka panjang dan terukur. Ini artinya praktik filantropi Islam tidak lagi sebatas pemberian makanan, minuman, pakaian, atau pembangunan masjid, melainkan lebih dari itu, filantropi perempuan berupaya membangun manusianya dengan cara pemberdayaan ekonomi, perhatian pada dunia kesehatan, pendidikan, lingkungan dan sebagainya.
Kedermawanan perempuan memberikan kontribusi yang signifikan baik secara sosial maupun ekonomi. Dalam bidang kesehatan dan ekonomi, peran keperawatan perempuan dalam bidang maternal bagi ibu dan anak dalam bentuk posyandu terbukti mengurangi subsidi pemerintah terhadap bidang ekonomi. Sedangkan dampak sosial yang muncul dari peran kedermawananperempuan adalah terciptanya masyarakat yang lebih sensitif dan peduli terhadap kepentingan sesama. Bahkan kedermawanan perempuan dalam banyak kasus bencana yang terjadi di Indonesia menunjukkan signifikasi peran perempuan sebagai agen perubahan sosial.
