f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pepaya,

Urusan Rampas-Merampas Hak Orang Lain, Kitalah Juaranya

Saya sering bertengkar dengan istri saya hanya karena hal-hal sepele. Misalnya, ketika kami sedang pergi keluar untuk berbagai keperluan, sering istri saya minta berhenti untuk sekadar beli martabak, cilok, atau wedang jahe. Nah, di sinilah pertengkaran itu biasanya berawal.

Persoalannya sederhana, saya jarang mengabulkan permintaan itu gara-gara tidak mendapatkan ruang ideal untuk memarkir kendaraan. Apalagi kalau permintaan itu spontanitas alias tanpa direncanakan sebelumnya.

Kesulitan menemukan tempat parkir yang memadai adalah alasan yang sering saya utarakan. Ya, ketiadaan tempat parkir yang memungkinkan kendaraan saya mendapatkan ruang secara sempurna sering menjadi pertimbangan utama saya ketika memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan tentu saja tidak mengindahkan permintaan istri saya.

Dalam hal ini, saya dan istri punya pertimbangan yang berbeda. Saya beranggapan bahwa memarkir kendaraan secara sembarangan merupakan satu tindak kejahatan. Apalagi jika kemudian kendaraan itu memangkas ruang publik yang semestinya menjadi hak pengguna jalan yang lain. Misalnya, kendaraan diparkir dalam keadaan setengah badan masuk ke bahu jalan, sedangkan setengahnya masih nyanthol di badan jalan. Sementara itu, istri saya beranggapan hal itu biasa saja. Toh, banyak orang yang melakukannya. Lagian juga parkirnya tidak lama, hanya sebentar saja.

Bagi saya bukan persoalan sebentar atau lamanya. Tetapi ada perasaan tidak nyaman yang saya rasakan tatkala hal itu dilakukan. Pertama, perasaan tidak nyaman yang disebabkan oleh kekhawatiran pada nasib buruk yang barangkali akan menimpa mobil saya. Entah itu disenggol bronjong, dicium motor, atau nasib buruk lainnya. Dan kedua, perasaan berdosa karena merampas hak pengguna jalan raya.

***

 Persoalan rampas-merampas hak orang lain ini memang seringkali bersifat dilematis. Tidak bisa dilihat hanya dari satu sudut pandang, apalagi sudut pandang kita seorang.

Baca Juga  Menjaga Generasi Muda: Hak Perlindungan Anak dalam Islam

Beberapa waktu lalu, ketika melewati sebuah trotoar, saya mengalami kejadian yang cukup membuat kesal. Ketika sedang berjalan, saya melihat di depan sana berdiri sebuah angkringan yang tengah disiapkan oleh pemiliknya. Angkringan tersebut tepat berdiri di atas trotoar yang akan saya lewati dalam beberapa meter ke depan. Dengan sedikit menggerutu, saya pun dipaksa turun dari trotoar untuk menghindarinya.

Ada niatan juga dari saya untuk lewat begitu saja di tengah angkringan tersebut. Katakanlah itu sebagai bentuk sikap protes kepada pemiliknya. Namun, hal itu urung saya lakukan karena mungkin ada persoalan yang lebih rumit yang belum terjangkau oleh pikiran saya. Dalam hati, saya hanya berdoa, “Ya Allah, semoga Kau berkahkan rezekinya.”

Ada banyak kasus berkaitan dengan perampasan hak kepada orang lain yang barangkali dianggap sepele itu. Sebagai contoh lagi, mungkin di antara kita terutama yang tinggal di sebuah kompleks perumahan dengan lahan yang tidak terlalu luas, kadangkala atau sering memarkir kendaraannya di depan rumah. Mungkin karena alasan akan digunakan bepergian lagi, tidak memiliki garasi yang cukup, atau memiliki jumlah kendaraan yang melebihi kapasitas rumahnya.

Saya sendiri pun diam-diam juga melakukannya. Dalam batin saya, mungkin juga batin para pemilik kendaraan yang parkir sembarangan dan pemilik angkringan tadi, ini hanya persoalan kecil. Kenapa mesti diributkan? Di luar sana, masih banyak model perampasan hak orang lain yang jauh lebih ugal-ugalan. Korupsi misalnya. Jadi, ini toh hanya persoalan kecil.  Apa iya akan direken Tuhan sebagai sebuah dosa?

Maka, sempurnalah kita menjadi bangsa yang begitu mudahnya merampas hak orang lain tanpa ada perasaan berdosa. Kita selalu menjadikan aksi perampasan hak besar-besaran melalui praktik korupsi dan kecurangan skala nasional sebagai permaafan atas sikap kita yang juga demikian dalam level dan kerangka yang lebih minimalis.

Baca Juga  Di mana Ada Kekurangan Selalu Ada Kelebihan
***

Kembali kepada persoalan parkir sembarangan yang sudah saya utarakan di awal. Saya memang sering kesal dengan ulah para pemilik mobil yang dengan pede-nya menaruh kendaraan seenak udelnya di jalur jalan raya yang ramai. Saking kesalnya, suatu ketika saya beranikan diri untuk menegur seseorang yang melakukan kezaliman itu. “Pak, mbok ya parkirnya yang bener sedikit, biar gak membuat macet jalan.” Dengan entengnya dia pun menjawab, “Kan ya masih bisa lewat to? Lagian juga cuma sebentar.”

Kalimat terakhir orang itu rupanya sama dengan yang dipikirkan dan diucapkan istri saya tempo hari. Ya memang, praktiknya hanya sebentar. Tapi kan bagaimana pun waktu yang sebentar itu sudah membuat kesal banyak orang, sudah membikin kemacetan yang cukup panjang, sudah mengorbankan waktu banyak orang, dan sebagainya. Bagi dia mungkin sebentar, tetapi bagi orang lain waktu yang dianggap sebentar itu bisa jadi sangat berharga.

Bisa dibayangkan berapa orang yang terzalimi oleh perilaku kurang terpuji itu. Seandainya setiap orang yang merasa terzalimi itu mendoakan sesuatu yang buruk pada pemilik mobil itu, kira-kira apa yang akan terjadi. Ingat kan, doa orang-orang teraniaya itu sering diijabah Tuhan. Jangan sampai lho, gara-gara parkir sembarangan yang katanya hanya sebentar itu menyebabkanmu kelak ditolak Mas Ridwan saat mau masuk pintu surga.

Ketika sudah bisa melewati sidrotul muntaha dengan selamat dan matamu berkaca-kaca karena sebentar lagi akan memasuki gerbang mulia di depannya, tiba-tiba Mas Ridwan berkata, “Catatan amalmu sudah baik, ibadahmu juga rajin, amal sedekahmu banyak. Tapi ada satu catatan merah yang menyebabkanmu belum bisa masuk ke dalam sini.” “Apa itu?”, tanyamu terkejut. “Semasa hidupmu, kamu telah sering merampas sesuatu yang bukan hakmu. Jadi, kamu selesaikan dulu urusanmu dengan si Malik. Barulah setelah itu kamu bisa masuk ke sini. Tidak lama kok, sebentar saja.” Nah loh!?Semoga tulisan singkat ini menjadi sedikit renungan untuk kita semua.    

Baca Juga  Makna di Balik Warisan Bagi Perempuan

Bagikan
Post a Comment