Gadis Kecil dan Cita-cita
Ia masih merasa heran, dengan pandangan orang-orang terhadap cita-citanya. Pandangan aneh dan tajam, seolah-olah ia adalah gadis yang tidak sesuai dengan aturan dan norma yang dianut mayoritas masyarakat.
Mengapa? Nama gadis itu ialah Ira, gadis kecil yang telah menyebabkan bu guru Sumarnih terkejut, dan sekaligus teman-teman sekelasnya. Bukan tanpa sebab, ketika ia ditanya tentang cita-citanya kelak ketika dewasa oleh bu guru Sumarnih, dengan ceria Ira menjawab keinginannya menjadi pemain sepakbola.
Cita-cita yang seharusnya diperuntukkan bagi bocah laki-laki, dan memang umumnya begitu. Akan tetapi hal itu tidak berlaku bagi gadis kecil seperti Ira, ia terlahir di lingkungan pecinta sepak bola yang fanatik, ayahnya seorang fans sejati Manchester United, sedangkan kakak laki-lakinya merupakan penggemar berat Liverpool.
Memang keduanya menjadi rival tatkala kedua klub bola tersebut berjumpa dalam liga Inggris, dan tentu saja Ira ikut serta dalam suasana yang meriah itu dalam keluarganya. Hal tersebut secara tidak langsung memengaruhi Ira dalam tumbuh kembangnya sebagai gadis kecil yang lincah.
Barangkali menjadi pemain sepak bola akan membuat ayah dan kakaknya merasa bangga, pikir Ira dengan polosnya. Tidak hanya sampai disitu, Ira dengan tekadnya yang kuat, mencoba berlatih sepak bola di lapangan dekat rumahnya yang mayoritas para pemainnya adalah bocah laki-laki.
Ira adalah satu-satunya gadis kecil yang bermain sepak bola. Bahkan kadang-kadang teman-teman laki-lakinya itu melarang Ira untuk ikutan bermain sepak bola bersama, hal ini tentu membuat Ira bersedih sepanjang hari.
Akan tetapi Ira tidak berputus asa, ia tetap merengek untuk ikut bermain sepa kbola, walaupun sekedar menjadi penjaga gawang. Namun, orang-orang di sekitarnya menganggap Ira sebagai gadis yang aneh, di saat teman-teman perempuannya bermain boneka, Ira bermain sepak bola.
Hal ini menjadi stereotip yang menyebalkan bagi gadis kecil seperti Ira. Bahkan karena cita-cita yang berbeda dari teman sebayanya itu, membuat Ira hanya sedikit mempunyai teman, hal yang lumrah terjadi ketika terdapat seseorang yang berbeda dari kebiasaan yang ada.
Bu guru Sumarnih pun berulangkali memberikan penjelasan kepada Ira bahwa perempuan kelak ketika akan dewasa, lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengurus rumah, dan permainan sepak bola merupakan permainan yang tidak cocok bagi kaum wanita.
Perkataan bu guru Sumarnih tersebut semakin membuat Ira merasa bingung. Mengapa perempuan tidak boleh bermain sepak bola? Mengapa perempuan hanya bisa menonton dan memberikan tepuk tangan sebagai penghias tempat duduk kepada pemain sepak bola yang didominasi oleh laki-laki?
Pertanyaan-pertanyaan polis Ira tersebut membuat bu guru Sumarnih terdiam membisu. Oleh karena itu, bu guru Sumarnih melaporkan hal tersebut kepada ayahnya Ira. Alih-alih mendapat dukungan, bu guru Sumarnih malah mendapat jawaban yang mencengangkan.
Ayahnya Ira telah mengetahui apa dilakukan oleh putrinya itu sejak lama, ia pun memaklumi keinginan Ira tersebut sebagai hal yang lumrah dilakukan oleh bocah kecil seperti pada umumnya.
Barangkali kelak ketika dewasa nanti, cita-cita Ira akan berubah seperti teman-teman perempuannya yang bercita-cita menjadi guru, dokter, maupun perawat. Berbeda dengan ayahnya Ira yang sekedar pemakluman, kakaknya Ira yang telah beranjak kuliah, mendukung penuh keinginan adik satu-satunya itu.
Sang kakak menganggap bahwa keinginan Ira merupakan hal yang baru dalam kebiasaan di masyarakat yang seharusnya mengalami perubahan. Tidak lagi membeda-bedakan jenis kelamin dalam pekerjaan, dan memberikan ruang yang adil bagi perempuan.
Dengan begitu perempuan tidak lagi memiliki batasan yang tidak dimiliki oleh kaum laki-laki. Tidak hanya itu, secara diam-diam ia membelikan Ira sebuah bola dan jersey sepak bola, kakaknya Ira juga memberikan pesan bahwa kepada Ira bahwa untuk meraih cita-citanya sebagai pemain sepak bola kelak, Ira harus giat belajar dan rajin berlatih.
Ketika kakaknya Ira mempunyai waktu yang senggang, ia melatih Ira dengan ala kadarnya di halaman rumahnya yang cukup luas. Tidak hanya cukup berlatih dengan kakaknya, Ira berulangkali meminta kepada kakaknya untuk memasukkan ia ke dalam akademi sepak bola.
Tentu saja hal tersebut ditolak dengan cara yang halus. Bukan bermaksud menolak permintaan Ira yang lucu itu, akan tetapi kakaknya Ira merasa kebingungan ketika tidak ada satupun akademi sepak bola yang dapat menerima gadis kecil untuk berlatih sepak bola. Miris tapi nyata.
Dengan seiringnya waktu yang berjalan, kakaknya Ira telah bekerja dan Ira tetap bercita-cita sebagai pemain sepakbola. Mengetahui hal tersebut, kakaknya Ira mencoba mendatangkan seorang pelatih sepak bola secara private untuk melatih Ira. Tentu hal tersebut bukanlah hal yang murah.
Namun hal tersebut tidak dipikirkan olehnya tatkala ia melihat senyum Ira yang berlatih sepak bola dengan semangat. Dengan semangat dan harapan, Ira pun berlatih dengan harapan esok hari bisa bermain sepak bola, lebih-lebih dapat membela timnas garuda.
Barangkali Ira termasuk gadis kecil yang beruntung, terlahir dari keluarga yang berkecukupan dan mendapat dukungan. Sudah berapa banyak gadis yang mempunyai cita-cita berbeda daripada umumnya, lantas kemudian dengan berat hati harus mengubur dalam-dalam impiannya itu.
Walau kadang-kadang impian itu muncul kembali. Mimpi gadis kecil yang berakhir dalam kamar dengan isak tangis. Cita-cita jujur yang dipertentangkan oleh orang-orang dewasa yang mengaku paling mengerti, orang-orang dewasa seperti bu guru Sumarnih yang seharusnya tidak berhak mencampuri cita-cita seorang gadis kecil seperti Ira.
Cita-cita yang seharusnya tidak dianggap sebagai cita-cita yang aneh. Apalagi cita-cita tersebut berasal dari anak kecil yang jujur, dan mempunyai daya imajinasi yang luas. Misal saja jika terdapat bocah kecil yang bercita-cita menjadi pengkhianat bangsa, maka orang-orang seperti bu guru Sumarnih berhak untuk melarangnya.
Mahasiswa akhir yang suka berkhayal. Instagram : @ipan_markipan.
