Perempuan: Subjek dan Sorotan
Dicari lowongan pekerjaan xxxx dengan syarat : Usia xx tahun, lulusan xxxx, berpenampilan menarik, dan berkomitmen. Agaknya menjadi menarik ketika berbicara tentang salah satu syarat untuk mendapatkan pekerjaan yaitu berpenampilan menarik.
Dalam bidang-bidang tertentu sebuah instansi atau lembaga membutuhkan karyawan dengan penampilan menarik untuk memenuhi kebutuhan yang diukur berdasarkan intensitas bertemu dengan banyak orang. Hal ini mensyaratkan para calon pekerja untuk sesuai dengan kebutuhan lapangan pekerjaan. Berbicara tentang berpenampilan menarik ini; untuk laki-laki diidentikkan dengan kemeja dan celana panjang serta potongan rambut rapi dan untuk perempuan diidentikkan dengan baju dan rok rapi serta potongan rambut atau jilbab rapi dan berdandan.
Persyaratan ‘berpenampilan menarik’ ini menjadi dorongan tersendiri bagi kalangan pekerja untuk bisa memenuhi kebutuhan lembaga. Untuk menjadi seperti yang disyaratkan, laki-laki dan perempuan berusaha dengan mulai merawat tampilan fisik—wajah, rambut, dan tubuh secara keseluruhan. Sekilas, laki-laki terlihat mudah untuk memenuhi persyaratan tersebut sebab tidak membutuhkan polesan make up yang variatif agar wajah terlihat lebih segar.
Sedangkan hal ini berbanding terbalik dengan perempuan. Standar kecantikan perempuan pada umumnya dengan menggunakan make up yang beragam untuk masing-masing anggota tubuh—baik itu alis, kelopak dan bulu mata, make up agar hidung terlihat lebih mancung, lipstick untuk bibir, eyeliner agar mata terlihat lebih hidup dan lain-lain.
Lantas penulis teringat sebuah film berjudul ‘Imperfect’ maha karya dari Ernest Prakasa dan Meira Anastasia yang tayang pada tahun 2019 menjadi representasi pengalaman yang dialami oleh mayoritas perempuan saat ini.
Film “Imperfect” : Representasi Visualisasi Insekuritas Perempuan atas Tubuhnya.
Sejalan dengan penjelasan tentang lowongan pekerjaan; di mana cerita ini dilatarbelakangi dengan sosok perempuan yang mengalami kegelisahan perihal fisiknya sebab tawaran jabatan di sebuah perusahaan kosmetik. Perusahaan mensyaratkan sosok perempuan yang cerdas dan berpenampilan menarik.
Di dalam film tersebut terdapat dua sosok perempuan yaitu : 1) perempuan cerdas dengan penampilan kurang menarik, dan 2) perempuan berpenampilan menarik. Sebab ada kekosongan jabatan, dibutuhkanlah sosok perempuan yang cerdas dan berpenampilan menarik. Singkat cerita; setelah bernegosiasi, perempuan dengan ciri yang pertama tadi mengupayakan diri untuk bisa berpenampilan menarik untuk mendapatkan jabatan yang dibutuhkan perusahaan. Film tersebut memvisualisasikan bagaimana kegelisahan yang dialami mayoritas perempuan perihal fisik dan penampilan ketika perusahaan tertentu mensyaratkan hal tersebut.
Terlepas dari kisah film tersebut fiksi atau tidak, perihal penampilan, bagaimana sosok perempuan ini diposisikan ?
Perempuan merupakan Sub-Masyarakat Digital.
Perkembangan global membawa keseharian masyarakat untuk menjadikan digital sebagai pusatnya. Segala aktivitas masyarakat beralih pada interaksi yang tidak lagi harus bertatap muka secara langsung melainkan bertatap muka yang termediasi oleh media tanpa sekat ruang dan waktu.
Perkembangan global ini ketika diambil sisi positifnya memberi beragam pengaruh secara sosial, politik, budaya, hukum hingga hal-hal yang berkaitan dengan interaksi keluarga. Keseharian masyarakat mengakses teknologi sehingga terlepas sekat jarak ini mempermudah masyarakat saling bertukar informasi dan pengetahuan. Pola transaksi masyarakat berubah; masyarakat dengan mudah menjalankan bisnis lintas negara serta kemudahan dalam mengakses dan bertransaksi dengan masyarakat dari negara lain. Kegiatan masyarakat yang termediasi oleh media sosial inilah yang turut mengubah cara pandang dan pola hidup masyarakat.
Intensitas seseorang lebih sering dengan layar gawai untuk mendapatkan informasi. Begitu pula dalam hal penampilan yang dijelaskan di awal; pengetahuan atau pendefinisian seseorang terhadap ‘berpenampilan menarik’ telah distandardisasi oleh industri kecantikan melalui media. Seolah-oleh industri kosmetik menawarkan produk dengan terus memunculkan insekuritas kekurangan pada diri—tubuh perempuan. Lagi-lagi perempuan disibukkan dengan kekurangan yang ada pada kulit wajah, tubuh, rambut dan semua hal yang berhubungan dengan fisiknya.
Penjelasan ini sejalan dengan hasil analisis dalam buku Politik Warna Kulit Perempuan—yang merupakan hasil disertasi Ira Wirasari terbit pada tahun 2017 bahwa masyarakat pada saat ini memasuki era konsumsi. Produk kosmetik merupakan salah satu kebutuhan konsumsi bagi masyarakat saat ini. Hampir semua orang khususnya perempuan menjadikan kosmetik sebagai kebutuhan pribadi.
Kosmetik berkaitan dengan tubuh, bagaimana orang melihat dan bertindak bisa didasari oleh perbedaan-perbedaan fisik yang dimiliki dan kosmetik akan mempengaruhi penampilan perempuan; sehingga tindakan orang terhadapnya bisa berubah berdasarkan penggunaan kosmetik yang digunakan.
Dari Industri ke Ekspektasi : Laki-laki Memaknai Kecantikan.
Industri kecantikan melalui media sosial inilah yang menjadikan penciptaan standar cantik tidak hanya berpengaruh pada perempuan saja. Definisi kecantikan yang dinarasikan oleh industri berpengaruh pada cara laki-laki mendefinisikan cantik. Laki-laki turut memberikan batasan bagaimana perempuan dinilai cantik secara visual.
Dalam pengamatan Ira Wirasari (2017) dalam konteks dunia periklanan di mana pada tahun 2000an iklan kosmetik mulai menampilkan sosok perempuan yang aktivitasnya keluar dari arah domestik. Namun selalu ada sosok pria sebagai pengagum kecantikan perempuan tersebut seolah kecantikan perempuan harus mendapatkan pengakuan dari pria.
Kondisi yang berbeda terjadi pada tahun 2010 di mana iklan kosmetik cenderung menampilkan perempuan secara mandiri dan tidak memerlukan pengakuan dari pria. Iklan kosmetik yang berkembang sekarang lebih mengajak perempuan untuk menerima kecantikan apa adanya dan merawat apa yang ada.
Industri Kosmetik yang didukung oleh Media Sosial
Media dengan kekuatan dan kekuasaannya memberikan informasi yang terus-menerus hadir di layar gawai dengan tujuan agar masyarakat terus mengingat pesan yang disampaikan. Media menyampaikan pesan baik itu dimulai dengan sebuah kegelisahan tentang fisik yang tidak ideal; sehingga perempuan selalu merasa kurang atas kondisi tubuhnya. “Iklan Kosmetik” menjadi pilihan diksi untuk melihat bagaimana google mengkonstruksi atau mendefinisikan bagaimana cantik secara ideal menurut industri kosmetik.
Gambar 1. Pencarian kata ‘Industri Kosmetik’ di Google.
Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa media sosial menawarkan konsep mempertontonkan dan dipertontonkan. Menyoal aktivitas mempertontonkan-dipertontonkan, penjelasan sederhananya adalah apapun aktivitas yang terunggah ke media sosial merupakan aktivitas ‘mempertontonkan’ entah itu kehidupan pribadi, skill, pekerjaan, keilmuan dan segala hal yang menjadi concern dan interest kita.
Sedangkan aktivitas orang lain yang bisa diakses merupakan aktivitas yang dipertontonkan. Dua aktivitas ini merupakan ciri khas dari masyarakat digital (Penjelasan ini pernah dituliskan pada esai penulis yang telah diterbitkan di website Rahma.id berjudul Akumulasikan Saja Rasa Insecure itu, Jangan Dibuang! tahun 2020).
Perempuan dirasa lebih menjadi sorotan atau perhatian yang dipertontonkan seiring dengan berkembangnya media sosial. Pertanyaannya adalah akankah media sosial semakin mempertajam jurang keragaman kecantikan antarindividu atau justru berfungsi sebagai kanal merayakan keberagaman perempuan?
Dengan media sosial, mari kita rayakan keberagaman fisik perempuan berdasar versinya masing-masing. Agar kecantikan versi kita tidak lagi terhegemoni oleh produksi wacana tunggal.
Mahasiswi Sosiologi UGM
